Genosida Kamboja di Mata Anak Perempuan Enam Tahun: First They Killed My Father


What happen when people die?

Nukilan film yang terus terngiang usai menonton First They Killed My Father beberapa hari lalu. Perbincangan dua anak perempuan yang bercengkerama di beranda pondok sederhana yang mereka tinggali di kamp pengungsi di kampung Ro Leap. Loung, anak kelima dari tujuh bersaudara adalah anak perempuan yang cerdas dan selalu ingin tahu. Usianya baru saja enam tahun. Pertanyaan Loung kepada Chou kakak perempuannya yang, umurnya tiga tahun di atas dirinya, mengemuka karena sedih yang merundungi keluarga Ung atas kematian Keav, kakak perempuan mereka.

At first they think they’re sleeping peacefully not knowing they are dead. They sleep for three days, and on the third day, they wake up. That’s when they realize they are dead. They walk to a river, wash the dirt off their bodies, and start their journey to heaven to reincarnated.

first they killed my father, loung ung, cambodian genocide, angeline jolie
Kim, Chou, dan Loung di depan pondok mereka di Ro Leap

Setiap pergantian hari semakin kelam. Banyak yang pergi karena kelaparan, sebagian karena memakan makanan beracun, dan mereka yang sengaja dibunuh tentara Khmer Merah. Dari tangga pondok mereka yang sangat sederhana, Loung memerhatikan orang-orang yang berlalu di depannya memanggul keranda dan mendorong kereta kayu berisi mayat untuk dikuburkan. Keav tidak mendapatkan itu. Tubuhnya dibuang ke tumpukan mayat tak lama setelah meninggal. Petugas di rumah sakit mengatakan tempat tidurnya diperlukan pasien lain.

Kabar sakitnya Keav, diterima Ma dari seorang tentara Khmer Merah yang datang ke kamp dan meminta Ma untuk segera menengok Keav ke rumah sakit. Sejak dijemput tentara untuk dipekerjakan di ladang, Keav tinggal di kamp pekerja di kampung yang berbeda. Demikian juga dua anak lelaki pertama di keluarga itu, Meng dan Khouy. Loung yang menemani Ma menengok Keav di rumah sakit, tak kuasa menahan air matanya melihat kakaknya sangat kesakitan. Karena lapar, kemungkinan kakaknya tak sengaja memakan tanaman beracun. Akibatnya perutnya sakit dan berujung pada kematian.

first they killed my father, loung ung, cambodian genocide, angeline jolie

Ketika Rezim Khmer Merah Berkuasa

First They Killed My Father dibuka dengan siaran di TV yang menggambarkan suasana Phnom Penh ketika tentara Khmer Merah memasuki kota. Mereka menyebar propaganda bahwa Amerika akan membon kota dan memaksa semua warga untuk segera meninggalkan rumahnya dan berjalan ke kampung-kampung yang berada jauh dari Phnom Penh jika ingin selamat. Sembilan anggota keluarga Ung yang terdiri dari Pa, Ma, Meng, Khouy, Keav, Kim, Chou, Loung, dan Geak pun mengemas barang-barang yang perlu dibawa ke mobil Pa dan bergerak ke luar kota mengikuti arus eksodus. Ketika bensin habis, mereka terpaksa harus berjalan kaki berjam-jam dan berhari-hari hingga bertemu Paman Leang, kakak Ma yang mengajak mereka untuk tinggal di rumahnya.

Khawatir identitas Pa sebagai anggota militer Lon Nol diketahui tentara Khmer Merah, keluarga Ung akhirnya meninggalkan kampung itu hingga mereka sampai di kampung pengungsi Ro Leap. Salah satu doktrin yang terus didengungkan oleh tentara Khmer Merah adalah kesetaraan yang dimulai dalam hal berpakaian. Semua orang diharuskan menggunakan baju warna gelap, mereka tidak mengenal warna yang lain selain merah untuk krama – syal khas Khmer.

first they killed my father, loung ung, cambodian genocide, angeline jolie
Keluarga Ung saat meninggalkan Phnom Penh
first they killed my father, loung ung, cambodian genocide, angeline jolie
Loung saat bekerja di sawah

Untuk bertahan hidup, semua orang harus bekerja – kecuali anak di bawah lima tahun – di ladang dan sawah dari pagi hingga sore. Upah dari kerja paksa itu, secentong nasi yang kadang disertai sepotong keciiiiil ikan asin. Bila jatah makanan dikurangi, mereka hanya mendapatkan secentong sup nasi. Karena lapar, mereka pun makan apa saja yang bisa disantap dan menikmati ular, belalang, kumbang, dan jangkrik bakar bersama-sama.

Sepeninggal Keav, Pa dijemput dua tentara Khmer Merah dengan dalih tenaganya diperlukan untuk membantu menarik pedati yang terjebak lumpur di Prey Svay, kampung yang tak jauh dari Ro Leap.  Pa tak pernah kembali. Dalam mimpinya, Loung yang sangat dekat dengan Pa melihat kedua tangan Pa diikat ke belakang. Pa disiksa dan ditembaki lalu dibuang ke dalam lubang yang berisi tumpukan mayat. Ma pun memutuskan untuk menjalankan amanat terakhir Pa demi menyelamatkan keluarga yang tersisa. Ma terpaksa meminta Kim, Chou, dan Loung untuk pergi dari rumah dan mencari kamp yang menerima anak yatim piatu agar mereka bisa bekerja. Ketiganya diminta untuk berpisah dan tidak menggunakan nama asli mereka agar bila yang seorang tertangkap, yang lain tetap aman. Namun, karena tak ingin sendirian, Chou dan Loung tetap berada di satu kamp.

first they killed my father, loung ung, cambodian genocide, angeline jolie
Put on the brave face, Pa dijemput tentara Khmer Merah

Meski usianya paling muda di antara teman satu kamp, kecerdasan Loung menarik perhatian pengawas kamp. Loung yang waktu itu sudah berusia 7 tahun, direkrut menjadi tentara cilik dan dipindahkan ke kamp khusus untuk menjalani latihan militer. Loung terpaksa berpisah dengan Chou. Di kamp yang baru, selain latihan fisik, setiap hari Loung dan para tentara cilik juga belajar menggunakan senjata, merakit ranjau, dilatih ketajaman instingnya, serta didoktrin dengan propaganda Vietnam adalah musuh Angkar yang harus diperangi!

first they killed my father, loung ung, cambodian genocide, angeline jolie
Loung dii latihan militer

Satu hari, ketika mendapat ijin untuk libur, Loung tidak pergi ke tempat Chou. Ia pergi ke Ro Leap mencari Ma dan Geak. Sayangnya, sesampai di sana, Loung hanya mendapati pondok yang kosong. Dari tetangganya, ia mendapat kabar, Ma dan Geak dijemput tentara. Malam itu, Loung tidur di pondok mereka dan melihat dalam mimpinya, Ma yang matanya ditutup dengan kain, dipukuli dan disiksa oleh tentara Khmer lalu dibuang ke dalam lubang. Sebuah peluru kemudian ditembakkan ke tubuhnya untuk menghentikan teriakannya mencari-cari Geak. Loung juga melihat Geak yang menangis, merangkak di dalam lubang itu, mengusap wajah Ma yang berlumuran darah sebelum tangisnya dihentikan oleh terjangan peluru.

Baca juga:
first they killed my father, loung ung, cambodian genocide, angeline jolie
Geak di depan tubuh Ma dalam lubang berisi tumpukan mayat

Cast, SET, dan Lokasi Pengambilan Gambar

Proses pencarian kandidat yang akan memerankan karakter-karakter di First They Killed My Father adalah salah satu tahapan yang butuh waktu dan effort lebih. Di awal kesepakatan antara Loung Ung, penulis buku sekaligus yang memiliki kisah cerita dengan Angelina Jolie sebagai produser dan sutradara film, Loung menetapkan syarat agar proses pembuatan film dilakukan di Kamboja dengan aktor lokal dan naskah berbahasa Khmer.

Sareum Srey Moch, pemeran utama yang memerankan Loung Ung cilik mendapatkan perannya setelah mengikuti casting yang dilakukan lewat sebuah permainan. Mereka meletakkan uang di atas meja dan para kandidat aktor tersebut diminta untuk memikirkan apa yang mereka butuhkan sebelum mengambil uangnya. Srey Moch satu-satunya anak yang memandangi uang itu berlama-lama. Pada saat dipaksa untuk mengembalikan uang tersebut, ia menjadi sangat emosi. Ketika kemudian ditanya untuk apa uang itu, dia mengatakan kalau kakeknya sudah meninggal, dan keluarganya tidak memiliki uang yang cukup untuk sebuah pemakaman yang layak. Terbukti, Srey Moch bermain sangaaaat baik dan mendalami karakternya. Demikian juga Kim Hak Mun pemeran  Kim dan para pemeran lainnya.

Sukaaa banget sinematografinya dengan Anthony Dod Mantle sebagai Director of Photography (DOP) yang, juga jadi DOP The Last King of Scotland dan Slumdog Millionaire. SET film pun dibuat dengan detail. Salah satu yang menarik, boneka beruang Geak dari warna pink lama-lama sudah jadi coklat. Sedang lokasi pengambilan gambar dilakukan di Siem Reap, Battambang, dan Phnom Penh, Kamboja.

First They Killed My Father ditutup dengan bertemunya kembali lima anggota keluarga Ung yang tersisa; Meng, Khouy, Kim, Chou, dan Loung di sebuah kamp pengungsi yang dikelola oleh Palang Merah.

first they killed my father, loung ung, cambodian genocide, angeline jolie
Kim, Loung, dan Chou bertemu di tengah arus pengungsi setelah terpisah hampir dua tahun
first they killed my father, loung ung, cambodian genocide, angeline jolie
Meng dan Khouy akhirnya berkumpul dengan ketiga adiknya di kamp pengungsi Red Cross

Faktanya

  • 17 April 1975, Khmer Merah menggulingkan pemerintahan Lon Nol dan menguasai Phnom Penh. Kota harus dikosongkan dan semua warganya digiring jauh ke kampung-kampung untuk kerja paksa di ladang dan sawah. Khmer Merah tak menginginkan adanya kaum terpelajar yang mereka pandang hanya bersenang-senang tinggal di kota. Beberapa literasi menyebutkan seperempat populasi Kamboja hilang di masa kekuasaan Khmer Merah. Sejarah mencatatnya sebagai salah satu peristiwa genosida terbesar di dunia. 7 Januari 1979, invasi Vietnam ke Kamboja berhasil menduduki Phnom Penh; menandai berakhirnya kekuasaan Pol Pot dan rezim Khmer Merahnya.
  • First They Killed My Father, film yang ceritanya diangkat dari buku memoar dengan judul yang sama yang ditulis oleh Loung Ung, salah seorang penyintas genosida Kamboja. Loung adalah anak seorang perwira menengah di pemerintahan Lon Nol yang menjadi korban kekerasan Khmer Merah. Film garapan Angelina Jolie ini, naskahnya ditulis oleh Loung Ung dan Jolie. Jalan ceritanya tak jauh berbeda dengan yang tertulis di buku walau, penggambaran peristiwa waktu itu, tidak se-vulgar buku ataupun kejadian sebenarnya. Tentu, ini dilakukan untuk menggocoh rasa penasaran penonton dan agar filmnya lebih nyaman ditonton. Beberapa scene juga dikisahkan sedikit berbeda. Misal, ketika Keav sakit, yang ke rumah sakit adalah Ma dan Loung sedang di bukunya; Pa dan Ma.

first they killed my father, loung ung, cambodian genocide, angeline jolie

  • Menonton First They Killed My Father setelah membaca bukunya dan mengunjungi ladang pembantaian Choeung Ek dan Penjara Tuol Sleng; membawa jiwa hanyut ke dalam alur ceritanya.

Usai menonton film yang mendapat nominasi Film Berbahasa Asing Terbaik di Golden Globe Award 2018 ini, membawa ingatan pada perjalanan singkat di 2019 ke Phnom Penh dan Siem Reap serta bangkitkan rindu untuk kembali menyusuri kota-kota di Kamboja, saleum [oli3ve].

2 thoughts on “Genosida Kamboja di Mata Anak Perempuan Enam Tahun: First They Killed My Father

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s