Cerita Secangkir Kopi Susu dari Pantai Makassar

kopi itam, kopi toraja

Tak banyak yang mampir ke Warkop Elim selama saya duduk menyeruput secangkir kopi susu yang disajikan Nenek Lanny, pemilik kedai pagi itu. Kedai sederhana yang dibuka di lantai bawah rumah tua peninggalan orang tua Nenek Lanny yang terjepit di antara bangunan hotel, rumah toko, dan kedai kopi kekinian di Jl Penghibur, Makassar. Di rumah yang merangkap tempat usaha itu, perempuan bertubuh kecil dengan badan yang mulai bungkuk itu tinggal sendirian.

warkop elim, kedai kopi tradisional, coffeeshop di makassar

Menurut Nenek Lanny, duluuu .. sewaktu dirinya masih remaja, di kedai yang mulai menyempit itu, ayahnya yang pandai memasak; membuka rumah makan. Pengunjungnya ramai. Usaha sang ayah terus berkembang sehingga mereka pun harus mempekerjakan beberapa orang karyawan untuk membantu pekerjaan sehari – hari. Continue reading “Cerita Secangkir Kopi Susu dari Pantai Makassar”

Mereka Pergi di Usia Belia

jouke goslinga, dokter goslinga, dokter di toraja, injil masuk toraja

Edgar, lelaki muda yang kutemui pagi itu di sebuah bukit, duduk bersendiri di dekat gerbang saat aku kembali ke tempat kami bertemu beberapa tahun yang lalu. Di tempat yang berpuluh tahun dirinya berdiam. Aku tak akan pernah lupa gaya bicaranya ketika sepotong nama terlontar dari mulutnya saat kami berkenalan. Nama yang mengingatkan pada seorang kawan berjalan bernama serupa dari negara tetangga. Postur tubuh mereka hampir sama. Hanya saja Edgar yang kutemui pada satu pagi yang sedikit muram di awal tahun itu; badannya lebih tipis.

Edgar lahir dan besar di Rantepao, sebuah kota kecil di kaki gunung Sesean, Toraja pada 1923; tujuh tahun setelah ayah ibunya menjejakkan kaki di Toraja. Ayahnya, Hendrik van der Veen adalah utusan zending yang menaruh minat sangat besar pada dunia bahasa. Salah satu pertimbangan kuat kenapa Hendrik dipilih oleh Gereformeerde Zendingsbond (GZB) ketika dirinya melamar untuk ikut pelayanan misi di Hindia Belanda. Continue reading “Mereka Pergi di Usia Belia”

Berdamai dengan Keadaan

hope, harapan, pengharapan, praise

Setiap orang punya alasan sendiri – sendiri ketika menentukan kegiatan untuk menyambut tahun baru. Seorang sahabat baik punya kebiasaan menyepi selama seminggu, melepas kemelekatan pada benda – benda yang hadir di keseharian pada setiap pergantian tahun dengan bermeditasi. Ada pula kawan yang memilih untuk pergi jauh – jauh dari rumah, melanglang seorang diri menikmati perjalanan ke tempat yang baru.

Usai ibadah akhir tahun di malam terakhir pada 2016 lalu, bersama beberapa kawan, kami memilih duduk – duduk dan berbincang tak tentu arah di kedai kopi, di mal dekat gereja, lalu pulang tidur. Malam itu, kulihat malam pun bergegas pulang ke peraduannya. Sebelum beranjak ke pembaringan, kusetel waktu pengingat agar terbangun di jelang pergantian hari untuk berbincang denganNYA. Meski berusaha menjalankannya dengan tekun, kadang aku bisa tidur berkepanjangan tak peduli suara alarm meraung – raung sepanjang pagi. Continue reading “Berdamai dengan Keadaan”

Indo Kaboro


Rasanya seperti ada sepuluh matahari yang bergelayutan di langit Aceh, Jumat siang itu. Ketika para lelaki bersiap mengayun langkahnya ke masjid, dan kuhitung napas dengan menapakkan kaki satu – satu mendaki lereng Lamreh tuk menyusuri jejak yang pernah kutitipkan di sana; ia tegak di atas kepala. Jalannya tak mudah, serpihan batu kapur yang berserakan di jalur naik – tak ada setapak di sana, langkah diayun mencari jalannya, mengikuti rasa  – sesekali tapak kasutku yang licin tergelincir saat ia menindih bulir – bulir batu kapur itu.

Continue reading “Indo Kaboro”

Analisa Kedai Kopi ala Secangkir Jus Tamarillo

jus tamarillo, jus terong belanda, terong belanda

Kedai untuk duduk – duduk ngopi, berbincang atau sekadar bersapa kawan yang lama tak bersua – dan bersua kawan baru – sedang menjamur di Toraja. Di Rantepao, Toraja Utara saja ada banyak kedai dari warung kopi sederhana hingga kafe kekinian, buka di sana – sini. Sebagian besar kedai menawarkan sajian yang serupa. Hanya satu dua saja yang menawarkan sajian unggulan, kebanggaan mereka, dan (diharapkan) menjadi kesukaan pelanggan yang datang.

Dari analisa sederhana saya, ada dua hal yang mempengaruhi menjamurnya usaha tempat makan minum di Toraja. Pertama, kehadiran kedai – kedai di hampir setiap persimpangan jalan sebagai bukti masih tingginya peluang pasar di Toraja (meski orang Toraja bukanlah tipe konsumen yang senang jajan di luar rumah). Kedua, kesetrum bisnis kagetan. Dalam perjalanannya, beberapa kedai bisa bertahan. Tak sedikit pula yang tersendat – sendat di tengah jalan. Hal ini terjadi ketika kelahiran kedai didorong oleh poin kedua. Sehingga tak jarang saat hendak bertandang ke satu kedai, pengunjung hanya akan menemui pintu yang tertutup rapat dengan nama kedai menggantung atau menempel pada salah satu dinding kedainya. Mungkin kedainya dibuka sebagai selingan saja ketika pengelolanya sedang tak sibuk dengan kegiatan lain. Mungkin. Saya tak menanyakannya, kan kedainya tutup hehe.

Continue reading “Analisa Kedai Kopi ala Secangkir Jus Tamarillo”

Keluh Kesah Pepohonan

chilin sanctuary, forest, rainforest, hutanhujantropis, hari hutan sedunia 2017, international day of forest

Pernahkah engkau mencoba mendengar keluh kesah pepohonan dan gerutuan air dari sungai – sungai?
Pernahkah engkau merasakan keresahan burung – burung,  binatang – binatang, dan tetumbuhan di hutan yang ketenangannya terganggu?
Pernahkah engkau peduli – meski sedikit saja – pada kelangsungan hidup kami?

chilin sanctuary, forest, rainforest, hutanhujantropis, hari hutan sedunia 2017, international day of forest

Sapa ragu yang sayup tertangkap pendengaran kala matahari menggeliat dari pembaringannya. Pagi saat aku melangkah perlahan di pinggir hutan, menyusuri tepi sungai yang airnya bening dan hasratnya yang menggebu tuk memeluk tubuhku. Aah, dia membuatku menghentikan langkah sejenak sebelum suara itu kembali terdengar.

Takkah engkau bertanya -tanya, mengapa bumi yang kau pijak memanas dari hari ke hari?

Continue reading “Keluh Kesah Pepohonan”