Tips Mengurus Paspor di Masa Pandemi COVID-19

cara mudah mengurus paspor, urus paspor saat pandemi, biaya membuat paspor

Apa yang akan dilakukan orang ramai setelah penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dilonggarkan? Jalan – jalan! Iya, jalan – jalan. Setelah 2 – 3 bulan hanya diam di rumah tak pergi ke mana – mana, tiba saatnya untuk plesiran di luar rumah. Dari sekadar jalan kaki di sekitar rumah hingga pergi sedikit jauh dengan berkendara ke tempat – tempat wisata bahkan ke luar kota. Eh, bagaimana kalau ingin ke luar negeri? Boleh – boleh saja, asal memerhatikan protokol bersosialisasi sehat di masa pandemi dalam tatanan kehidupan baru yang diberlakukan oleh Direktorat Jenderal (Dirjen) Imigrasi! Tapiiiii, sebelum berpikir hendak ke mana, coba cek dahulu apakah dokumen perjalananmu seperti paspor masih laik atau perlu dibaharui?

Paspor, dokumen perjalanan berisi identitas pemegangnya yang dikeluarkan oleh pemerintah suatu negara, yang wajib dimiliki oleh pejalan yang melakukan perjalanan antar negara. Bagi yang hendak melakukan perjalanan ke luar negeri, baiknya mengurus pengajuan paspor jauh – jauh hari sebelum jadwal perjalanan. Continue reading “Tips Mengurus Paspor di Masa Pandemi COVID-19”

Perjalanan Waktu, Mengenang yang Pergi Pasca COVID-19

karel doorman, battle of java sea, hr ms java, the bell of hr ms java

Upacara peringatan mengenang mereka yang pergi di Laut Jawa 77 tahun lalu, usai sedari tadi. Namun aku memilih meneduh sebentar di samping Monumen Karel Doorman, tempat peringatan berlangsung hikmat. Udara Surabaya yang panas di jelang siang itu benar – benar menusuk kulit. Kulihat, masih ada dua perempuan lain yang juga berdiam di belakang monumen. Anggota keluarga dari mereka yang telah pergi, yang datang jauh – jauh dari Belanda untuk menjenguk peristirahatan ayah/ibu/om/tante/kerabat juga dalam rangka mengikuti upacara peringatan tadi.

ereveld kembang kuning, peringatan berakhirnya perang laut jawa, battle of java sea, reddoorz surabaya, penginapan murah di surabaya
Detik – detik peringatan Battle of Java Sea

Dari tempatku berdiri, aku menebak – nebak usia mereka. Yang seorang kira – kira 70 tahun. Sedang perempuan yang satu lagi sepantaran ibuku, bila saja ia masih ada. Perempuan yang lebih muda menaburkan segenggam melati di bawah kaki prasasti HR. Ms Java. Mungkin ia membawa kembang dan doa untuk ayah atau pamannya atau saudaranya, aku tak sempat bertanya. Ia berlalu dengan tergesa – gesa. Pipinya memerah, kepanasan. Continue reading “Perjalanan Waktu, Mengenang yang Pergi Pasca COVID-19”

Memupuk Harapan bersama Rumah Harapan Indonesia

rumah harapan indonesia, adik dampingan di rhi, galang dana untuk rhi, sakit jantung bawaan pada anak

Kak, sini aku fotoin. Senyum, ya!

Belum lagi dijawab, kamera yang tadinya tergeletak di sofa sudah berpindah ke pelukannya. Saya meraih tali kamera, berjaga – jaga jika terjatuh, tak sampai tergeletak dan guling – guling ke lantai. Meski tampak kesulitan menempatkan jari – jari kecilnya yang pendek – pendek pada badan kamera; dirinya tak menyerah hingga terdengar salakan shutter berulang.

rumah harapan indonesia, adik dampingan di rhi, galang dana untuk rhi, sakit jantung bawaan pada anak

Eh, Neng! Itu lensanya belum dibukaaa!
Oh iya. Ia menyeringai, mempertontonkan gigi coklatnya. Kakak lihat dululah hasilnya. Continue reading “Memupuk Harapan bersama Rumah Harapan Indonesia”

Kawan Berjalan

harga villa, sewa villa di bali, villa di bali, villa di bandung

Dulu sekali seorang kawan pernah menyarankan begini, ”Lip, kalau kamu ingin tahu karakter asli kawanmu, lakukanlah perjalanan bersama.” Perjalanan dapat menguak rahasia – rahasia kecil yang biasanya ditutupi di keseharian. Dan semua itu bisa muncul ke permukaan karena dipicu oleh perkara sepele dan kejadian – kejadian tak terduga yang dijumpai di perjalanan.

millennium monument, harga villa, tempat wisata putrajaya

Saya memiliki teman – teman berjalan yang dipertemukan dari beberapa perjalanan, lalu kemudian menjadi dekat, dan membentuk kelompok berjalan sendiri. Di antara teman – teman ini ada yang di keseharian terlihat sangat dewasa tapi ketika berjalan bersama – sama berubah kolokan dan selalu minta diperhatikan. Ada pula yang serupa ibu yang penuh perhatian menyiapkan perbekalan, senang memasak untuk dinikmati bersama – sama, dan lain – lain. Continue reading “Kawan Berjalan”

Padzilah Enda Sulaiman, Ibu Rumah Tangga yang Sukses Menjadi Pengusaha Berkat Kesabaran Berinovasi dengan Mukena

padzilah enda sulaiman, telekung siti khadijah, mukena premium, pengusaha mukena, mukena yang nyaman

Bunyi sirene yang kencang menghentikan langkah saya di depan pintu kaca berbingkai merah yang sudah terdorong sedikit. Munzir, lelaki yang berjalan di depan saya pun turut diam. Jangan – jangan pintu ini dipasangi alarm yang otomatis berteriak ketika disentuh, kode bagi mereka yang berada dalam ruang di belakangnya untuk bersiap kedatangan tamu.

telekung siti khadijah, memilih mukena yang nyaman

Pk 04 petang ni, orang tu rehat satu jam-lah.

Tiga perempuan berhijab dan berbaju kurung Melayu yang berpapasan dengan kami di depan pintu memberi jawab pada Munzir. Rupanya kami datang bertepatan dengan waktu istirahat. Tapi tak apa, kami boleh masuk karena lelaki yang mengajak kami mengunjungi ruang berpintu kaca dengan bingkai merah itu salah seorang penting di sini. Maka di Jumat pertama di jelang petang pada bulan April 2019 kunjungan ke pabrik telekung (= selanjutnya akan disebut mukena, bhs. Indonesia) nomor satu di Malaysia pun dimulai dengan dipandu Mohammad Munzir Aminuddin, Chief Executive Officer, Siti Khadijah Holding Sdn Bhd. Continue reading “Padzilah Enda Sulaiman, Ibu Rumah Tangga yang Sukses Menjadi Pengusaha Berkat Kesabaran Berinovasi dengan Mukena”

Memulihkan Skizofrenia dengan Kasih lewat Terapi Psikoreligius

skizofrenia, depresi, pengobatan gangguan jiwa, orang dengan skizofrenia

Pk 12.30. Ibadah siang baru saja usai. Andri bergegas keluar dari ruangan. Di ruang tunggu, sebuah bangunan serba guna, Gisel, puterinya, telah menanti bersama bibinya, kakak ipar Andri.

skizofrenia, depresi, pengobatan gangguan jiwa, orang dengan skizofrenia

Gisel dengan telaten membukakan bekal makan siang dari sebuah gerai cepat saji yang ia bawakan untuk ayahnya. Berdua, mereka duduk berhadapan di lantai. Andri makan dengan lahap potongan ayam di tangannya sembari menyimak cerita yang keluar dari mulut puterinya. Matanya menatap lekat – lekat wajah puterinya. Sesekali, di sela mengunyah makanannya, ia memotong cerita Gisel dengan pertanyaan. Melihat keakraban ayah anak itu, tak terbayang betapa banyak sabar yang mereka kerahkan bersama sepanjang melewati masa – masa sukar hingga hari ini. Continue reading “Memulihkan Skizofrenia dengan Kasih lewat Terapi Psikoreligius”

Remembrance Day, Mengenang Mereka yang Mendahului

Jakarta War Cemetery, Commonwealth War Graves, Remembrance Day, Lois Blog Contest, Lois Indonesia

they shall not grow old, as we that are left grow old
age shall not weary them, nor the years condemn
at the going down of the sun and in the morning
we will remember them

Pernah membaca atau minimal mendengar sebait puisi di atas?

Jakarta War Cemetery, Commonwealth War Graves, Remembrance Day, Lois Blog Contest, Lois Indonesia

For The Fallen, ode yang ditulis oleh Robert Laurence Binyon dua minggu setelah benturan pertama pasukan Inggris dan Jerman terjadi di Mons usai pernyataan perang Inggris terhadap Jerman yang dikeluarkan pada 4 Agustus 1914; tanggal keramat yang menandai pecahnya perang dunia pertama (PD 1).

Beberapa jurnalis kadang keliru ketika mengutip potongan puisi di atas dalam tulisan mereka sebagai bagian dari In Flanders Field, puisi yang ditulis oleh John McCrae.

Baik For The Fallen maupun In Flanders Field, adalah puisi yang ditulis semasa PD 1, melekat dalam benak setiap orang yang terseret ke dalam emosi lewat rangkaian kata dalam puisi yang menyentuh ketika  mengenang mereka yang pergi semasa perang.

Lalu, dimana letak perbedaanya? Continue reading “Remembrance Day, Mengenang Mereka yang Mendahului”

Kabar Baik dari Tepi Kota

gereja tua, zendeling toraja, pusat perawatan kusta batulelleng, leprosy treatment

Pada awal 1930, di Toraja, ditemukan banyak penderita kusta serta warga masyarakat yang menunjukkan gejala penyakit kusta. Belum adanya tempat perawatan khusus untuk penderita kusta membuat Dr S.P.J. Esser – dokter misionaris yang bertugas di Toraja saat itu – menerima mereka untuk berobat dan dirawat di Elim satu – satunya rumah sakit di Rantepao pada masa itu. Kehadiran mereka membuat orang enggan untuk datang berobat karena takut tertular meski dokter Esser memmisahkan mereka dengan membuatkan paviliun khusus kusta di samping rumah sakit. Melihat bertambah banyaknya warga yang terkena penyakit kusta, J.J.J. Goslinga, dokter misionaris Belanda yang menggantikan dokter Esser, mendesak pemerintah Hindia Belanda untuk memperhatikan masalah serius ini. Sebuah pusat perawatan kusta kemudian dibangun di pinggir kota, di atas tanah milik gereja di Batulelleng.

pusat perawatan kusta batulelleng, leprosy treatment, batulelleng, penyakit kusta, endemik lepra
Rumah – rumah berbentuk tongkonan yang dibangun pada awal 1930 oleh Belanda di Pusat Perawatan Kusta Batulelleng

Eh, kenapa saya tak ingat mengajak kamu ikut ibadah di Batulelleng, ya? Kemarin, saya pimpin ibadah tahun baru di sana.”

Continue reading “Kabar Baik dari Tepi Kota”