Tags

, , , , ,


Memiliki buku yang diterbitkan oleh penerbit besar dan beredar di gerai-gerai buku sebagai bukti eksistensi diri adalah impian terpendam setiap penulis. Tak mengherankan jika anda menyempatkan diri datang ke satu gerai buku akan mendapati banyak buku baru bertebaran dari yang laris manis sampai yang tak tersentuh. Dari karya tunggal hingga yang dibuat keroyokan, dari roman picisan sampai catatan perjalanan, dari yang ditulis serius pun yang ngasal jadi ada. Tinggal pilih mau yang mana dan yang sesuai dengan selera.

Setelah punya buku terus ngapain? Melancarkan promosi agar buku tersebut dilirik dan diambil dari lemari pajangan untuk jadi koleksi bacaan penggemar buku. Gerakan jual diri ini dilakukan lewat blast sms, bbm, whatsapp, berbagi tautan di media sosial, promo dari mulut ke mulut dan usaha lainnya termasuk bagi-bagi buku gratis. Hasilnya? Serahkan pada pembaca untuk menilai hehe

jelajah negeri sendiri

Jelajah Negeri Sendiri (dok. Bentang Pustaka)

Usai mencandat sotong di Terengganu, kembali ke dunia nyata mendapati satu paket buku dari Bentang Pustaka teronggok di sudut meja kerja. Setelah bungkusnya disobek ternyata isinya sebuah buku bersampul biru dengan tulisan merah menyala Jelajah Negeri Sendiri, Catatan Perjalanan Merawat Nasionalisme (JNS, CPMN)

Entah kapan, saya [sudah lupa] pernah mengirimkan tautan tulisan di Kompasiana untuk diseleksi menjadi bagian dari buku yang akan diterbitkan. Rekam jejak itu sudah terhapus hingga sepucuk surat listrik masuk ke kotak surat berisi pemberitahuan proses perjanjian sebelum tulisan itu dikemas bersama tulisan 29 kompasianer lainnya menjadi buku perjalanan oleh Bentang Pustaka (BP). Setelahnya tak ada kabar berita bagaimana proses penyuntingan tulisan yang dilakukan oleh pihak penerbit tanpa ada komunikasi kepada penulis hingga kiriman buku itu sampai di tangan Senin (21/04/14).

Pagi ini iseng membuka lembaran JNS, CPMN dan mendapati tulisan yang sudah diacak-acak oleh tim penyunting BP. Ooo maaaaaak, setelah tulisan yang pernah dimuat di satu tabloid dipangkas paksa, kembali hal yang sama terulang.

Mentang-mentang yang ‘nulis suka dolan ke kuburan, NYAWA tulisannya pun dicerabut dari akarnya! Hikkzzz. Mohon maaf kepada pembaca dan pengintil setia #TukangKuburan, jangan kecewa bila mendapati tulisan-tulisan tersebut tak seperti biasanya.

wisata londa

Salah satu tulisan di JNS, CPMN

Londa, Menikmati Kuburan dari Balik Lensa; satu dari delapan tulisan yang dimuat di JNS,CPMN. Judulnya menipu karena tak ada satu pun gambar yang dipajang sebagai pelangkap tulisan seperti di tulisan aslinya saat dipublikasikan di Kompasiana. Entah apa pertimbangan dari penerbit sehingga tak mencantumkan gambar-gambar di dalam buku ini.

Terlepas dari endorsement yang diberikan oleh Trinity, The Naked Traveler yang menyebut JNS, CPMN sebagai referensi yang baik untuk menjelajah Nusantara ke tempat-tempat yang jarang didatangi turis, bahkan yang namanya baru terdengar; ada banyak kekurangan di dalam buku ini namun tetap bersyukur masih diberi kesempatan untuk berbagi inspirasi lewat tulisan. Paling tidak kalau ada yang bertanya, sudah punya buku atau belum? bisa diunjukin walau nggak berani memberikan referensi sebagai bacaan yang enak untuk dibeli apalagi dikoleksi.

Tak adanya informasi berupa jati diri siapa para penulis yang tulisannya dikemas di JNS,CPMN, menambah satu poin kekurangan yang perlu mendapat perhatian. Saya yakin para kompasianer yang tulisannya dituangkan dalam buku ingin jati dirinya dikenal pembaca meski hanya berupa keterangan singkat alamat akun di Kompasiana.

Apapun itu, satu itikad baik telah tercipta tentu ungkapan terima kasih tetap harus disampaikn kepada penggagas ide, Kompasiana dan Bentang Pustaka yang telah mengakomodir hingga tulisan-tulisan tersebut diterbitkan menjadi sebuah buku. Pelajaran penting yang bisa dipetik adalah sebuah karya akan sangat berarti jika apa yang disampaikan di dalamnya benar-benar dipersiapkan dengan baik sehingga ketika sampai ke tangan pembaca tidak akan mengecewakan. Bagi yang penasaran ingin mengoleksi bukunya, monggo lhooooo dibeli! Saleum [oli3ve].

Advertisements