Choeung Ek: Lara dari Ladang Pembantaian

choeung ek, ladang pembantaian choeung ek, cara pergi ke choeung ek

Pk 14.00 kurang sedikit ketika kami tiba di depan gerbang Choeung Ek Genocidal Center. Meski terkantuk – kantuk selama satu jam perjalanan dari Tuol Sleng, mata terlalu susah diajak merem. Pikiran melayang – layang pada kejadian 40 tahun lalu, saat truk – truk yang disesaki manusia, melintas malam – malam di jalan tanah bergelombang yang sekarang kami lalui. Bedanya, kami berjalan di siang hari dengan tuk tuk yang dikemudikan Sam, melaju amat lamban sehingga serpihan kecil tanah kering juga debunya yang terbang – terbang karena beradu dengan roda tuk tuk; tampak jelas.

Saya iri melihat Ike dan Yuli – duo roommate di Base Villa yang jadi kawan berjalan siang itu – bisa lelap dengan manisnya. Dari mengintip spion di atas kepalanya, saya lihat mata Sam pun mulai sayu. Ah, syukurlah sudah sampai. Kami bergegas turun dari tuk tuk, memberi kesempatan pada  Sam untuk tidur siang sambil menunggu kami berkeliling. Continue reading “Choeung Ek: Lara dari Ladang Pembantaian”