Berkenalan dengan Master Siow

Tags

, , ,


Lelaki tengah baya itu terlihat asik bermain dengan tang, paku, dan seutas kawat di tangannya. Tak sedikit pun terganggu dengan langkah banyak orang yang datang berdiri melingkar di belakangnya, menantinya berpaling dari keasikannya itu.

master of lion dance, master siow, rentak selangor, tari barongsai

Siow Ho Phiew, usianya sudah melewati angka 60. Ia akrab disapa Master Siow – nama itu tertulis di belakang kaos kuning yang dikenakannya siang itu – akhirnya tersadar akan keberadaan orang lain di dalam ruang kerjanya. Diletakkannya perkakas yang sedari tadi digenggamnya, memutar badan lalu menempelkan pantat di ujung meja sebelum mulai bercerita. Ia berhemat bercakap Melayu, lebih banyak bertutur dengan bahasa Mandarin. Ia banyak berbagi kisah menarik hingga yang menggelikan yang berhasil mengalihkan konsentrasi dari hawa panas karena kipas angin besar yang bergelantungan di dinding tak sanggup lagi menyejukkan ruang yang kami sesaki.

Continue reading

Advertisements

Keluh Kesah Pepohonan

Tags

, , , , ,


Pernahkah engkau mencoba mendengar keluh kesah pepohonan dan gerutuan air dari sungai – sungai?
Pernahkah engkau merasakan keresahan burung – burung,  binatang – binatang, dan tetumbuhan di hutan yang ketenangannya terganggu?
Pernahkah engkau peduli – meski sedikit saja – pada kelangsungan hidup kami?

chilin sanctuary, forest, rainforest, hutanhujantropis, hari hutan sedunia 2017, international day of forest

Sapa ragu yang sayup tertangkap pendengaran kala matahari menggeliat dari pembaringannya. Pagi saat aku melangkah perlahan di pinggir hutan, menyusuri tepi sungai yang airnya bening dan hasratnya yang menggebu tuk memeluk tubuhku. Aah, dia membuatku menghentikan langkah sejenak sebelum suara itu kembali terdengar.

Takkah engkau bertanya -tanya, mengapa bumi yang kau pijak memanas dari hari ke hari?

Continue reading

5 Tempat Trekking Menyenangkan di Toraja

Tags

, , , , ,


Semalam, selagi nongkrong di Kelana Street Coffee, Eki, pemilik kedai, melayangkan tanya penasaran,”Apa sih yang membuat kakak tertarik dengan kuburan tua? Apakah kuburan yang dicari termasuk kuburan – kuburan yang ada di Toraja?” Tanyanya membuat saya teringat pertanyaan seorang kawan berjalan beberapa waktu lalu, “Senang dong mudik ke Toraja,Lip.” Karena? “Toraja kan terkenal dengan wisata kuburannya!

salam khas toraja, visit toraja, kondongan toraja, tukang kuburan, tongkonan toraja

Talendu’ opa, mampir yuuuuk

Saat mudik ke Toraja, nggak pernah dapat panggilan – sekali eh dua kali pernah, nggak sengaja – untuk menyusuri jejak sunyi. Meski banyak yang berkesimpulan ketertarikan pada kuburan pasti berawal dari tanah kelahiran, dan kentalnya darah Toraja yang mengalir di dalam tubuh #TukangKuburan. Nggak salah dan nggak seperti itu juga. Semua melalui proses. Kepada beberapa kawan yang sering berbagi cerita, saya suka mengatakan, salah satu tujuan berjalan – jalan ke tempat yang banyak dihindari orang itu untuk self theraphy, bersahabat dengan diri dengan meredakan takut berlebihan yang menghantui sedari kecil. Alasan lain, silakan baca di SINI.

Jadi, kalau mudik jalan – jalannya kemana, Lip? Mau tahu, atau mau tahu aja?  😉

Continue reading

Nyamannya Bus Malam ke Toraja

Tags

, , ,


Pernah pada satu hari ketika menumpang travel dari Solo ke Surabaya, saya berbagi bangku belakang dengan seorang nenek dan cucunya. Sepanjang perjalanan si nenek tak kehabisan topik untuk dibincangkan, sementara sang cucu – yang ganteng – lebih banyak diam dan hanya mengangguk atau tersenyum ketika namanya dikait – kaitkan dengan cerita sang nenek.

toraja, pemandangan toraja, singki

Saat obrolan sampai pada asal usul, sang nenek yang bertutur dengan gaya khas puteri keraton – dalam salah satu perbincangan di rumah makan tempat kami beristirahat makan siang, nenek itu bercerita tentang keluarganya yang berasal dari keraton Solo – sangat senang mengetahui tetangga bangkunya orang Toraja. Beliau sontak berkicau,”Wah, Lip, berarti kampung kamu di tengah hutan ya? Berapa hari jalan kaki untuk sampai ke sana?

Asyeeeeem! Dipikir saya dari pedalaman?

Continue reading

[Rentak Selangor] Warisan Budaya Jawa, Andalan Wisata Selangor 2017

Tags

, , , , , , ,


Dua jam berlalu sejak Wak Rusli menengadahkan wajah dan mengangkat tangannya meminta persetujuan para dewa alam semesta untuk hadir di tengah warga yang sudah berkumpul. Sejak kemenyan dibakar di dalam sebuah nampan yang juga berisi sesembahan dan diletakkan di tengah – tengah tanah lapang, di depan topeng sisingaan. Asapnya membubung ke langit, wanginya terbang dibawa angin yang bergerak pelan – pelan. Satu per satu pemain Kuda Kepang, tarian yang akan dipertunjukkan malam itu, bersimpuh di depan nampan, membasuh mukanya dengan asap yang terus saja meliuk – liuk. Itulah ritual magis yang dilakukan sebelum hajatan Kuda Kepang digelar di Homestay Haji Dorani, Kampung Sungai Besar, Selangor.

rentak selangor, kuda kepang, kerasukan, discover selangor

Gendang ditabuh, gending dibunyikan, suara gong melolong memecah senyap. Para penari mulai mengayun langkah satu – satu. Maju, mundur, berputar, dan berkeliling membentuk lingkaran. Pergantian gerak mengikuti hentakan cemeti. Dua jam pentas disertai suasana magis, makin malam semakin mencekam. Pada tiga puluh menit terakhir, saya menahan napas. Mungkin sebagian yang berkumpul juga menahan napas, menanti dengan was – was apa yang akan terjadi selanjutnya saat Wak Rusli kembali turun ke tengah lapangan untuk “membebaskan” tubuh – tubuh yang sudah diisi dan ditumpangi kekuatan magis sehingga melakukan gerakan tak biasa tanpa merasa lelah. Bulan malu – malu menyingkap tirai awan yang menyelubungi tubuhnya, kembali bersinar di atas kepala.

Continue reading

5 Tempat Ngopi Menyenangkan di Toraja

Tags

, , , , , , , , , ,


Selain keunikan tradisi budayanya, orang Toraja selalu bangga dengan “Kaa” – nya. Kaa hadir dalam setiap pertemuan. Sejak matahari menggeliat dari peraduannya hingga bulan bersiap meronda semesta; kaa menemani setiap cerita yang bergulir. Dari dapur – dapur rumah, ga’deng – ga’deng ( = kedai) di tepi pasar hingga perhelatan besar di kampung – kampung adat; kaa menghangatkan pertemuan, tersaji dalam ragam bentuk cangkir, mengepulkan uap, dan menebar aroma yang merangsang indera penyesap rasa.

kelana street coffee, jak koffie, kopi toraja, ngopi asik di toraja, toraja arabica

Pa’pia Toraya bersua, ngopi di pinggir lapangan bola

Dulu, istilah kaa hanya dipakai masyarakat Toraja yang tinggal di dataran tinggi. Sekarang, kaa bergulir dalam obrolan keseharian orang – orang Toraja. “Kaa!”, sapa akrab masyarakat Toraja untuk secangkir kopi hitam yang siap disesap.

Bertandang ke Toraja belumlah lengkap tanpa menikmati secangkir kopinya. Meski sejatinya bubuk kopi yang baru diseduh dengan air panas paling mantap dinikmati kala pagi datang sembari duduk – duduk di alang (= lumbung padi), ngopi di kedai kopipun bisa jadi pilihan menikmati kopi pilihan Toraja di tempat asal kaa.

Continue reading

Siri’ na Pacce’

Tags

, ,


Mentari menurunkan sengatnya saat langkahku menggapai pelataran Benteng Tamalate, tempat yang banyak menyimpan kenangan akan perjalanan masa meski terkadang banyak yang abai pada jejaknya. Aku membayangkan benteng yang dulu berdiri kokoh di bukit ini pastinya memiliki pemandangan yang luas, dengan pagar yang tinggi dan tebal melingkupi puncak bukit membuatnya terlindungi. Kumainkan segala imaji, membayangkan masa itu sambil terus melangkah masuk ke pekarangannya dan mendapati dirinya duduk bersendiri, memandangi merah putih yang menari – nari mengikuti buaian angin senja. 

sultan hasanuddin, makam sultan hasanuddin, makam raja gowa, ayam jantan dari timur

Angin memberikan kesejukan pada udara senja, membuatnya tak terlalu panas, tak juga dingin; hingga ia betah menengadah ke langit tanpa sedikit pun bergeser dari duduknya.

Aga kareba, Karaeng? Baji’ – baji’ki?”

Continue reading

Menyusuri Jejak – jejak Kerajaan Gowa

Tags

, , , , ,


Gigitan terakhir deppa kakau a.k.a sawalla (= kue gemblong, bhs Jawa) meluncur ke kerongkongan tepat saat langkah menggapai gerbang kecil di samping Masjid Al-Hilal. Akhirnya kembali ke sini setelah 6 (enam) tahun berlalu dari langkah pertama dijejakkan di parkiran masjid ini. Waktu itu, bang Aras, kawan yang menemani berjalan, meminta ijin untuk sholat Jumat sebentar di masjid terdekat yang kami lalui selama berkeliling di Gowa dan Al-Hilal-lah yang kami tuju saat panggilan sholat menggema.

masjid katangka, masjid kesultanan gowa, masjid tertua di sulawesi, masjid tertua di gowa

Masjid Al-Hilal, Katangka

Saya mampir ke Masjid Al-Hilal selepas iseng bermain ke tempat peristirahatan Sultan Hasanuddin. Dari belakang masjid, tempat peristirahatan itu terlihat di ketinggian Bukit Tamalate. Ada gerbang di belakang peristirahatan, tapi menurut Mustaqim, abang yang berjaga di tempat itu, gerbangnya dikunci. Jadilah saya jalan – jalan petang menyurusi jalan raya untuk turun ke masjid – yang lagi – lagi kata Mustaqim lumayan jauh – dan setiap melewati pagar rumah penduduk atau berpapasan dengan mereka yang melaju dengan kendaraan bermotor; dilihatin dengan pandangan penuh tanya. Jaraknya nggak jauh koq. Keenakan duduk manis di atas kendaraanlah membuat orang malas untuk mengayun langkah.

Continue reading

Mencintai Sedalam dan Sekuat Cinta Maipa Deapati dan Datu Museng

Tags

, , , ,


Bangunan mungil berwarna hijau pupus yang berdiri di mulut gang, tak jauh dari persimpangan jalan besar di seberang pantai Losari itu sepi – sepi saja saat saya mendekati pekarangannya. Tak ada penunjuk arah ke tempat itu, saya hanya berjalan mengikuti langkah kaki sembari menerka – nerka letaknya ketika menyeberang dari Stella Maris. Ternyata tak sukar untuk menemukannya. Lagi pula mereka, penghuni rumah inilah yang telah mengajak saya ke sini. Membiarkan bersendiri di depan pagar besi berwarna hijau tua setinggi kuping yang ujungnya runcing seperti tombak ditancapkan ke tanah. Pada pintu pagar ada gapura yang melengkung ke atas. Mungkin dahulu ada penanda selamat datang tertulis di sana. Sekarang semuanya polos, hijau tua.

Datu Museng, Maipa Deapati, Makam Datu Museng, Romeo Juliet Makasa

Di depan makam Datu Museng & Maipa Deapati (abaikan muka belum mandi 😉 )

Rumah di depan saya beratap seng. Plafonnya rendah, ada enam lubang udara berbentuk kotak di bawahnya menyerupai kotak sabun colek yang pernah berjaya di masa dulu. Dua jendela persegi empat dengan lubang – lubang berbentuk kembang yang berfungsi sebagai lubang udara, melengkapi bangunan kecil itu sehingga ia tampak layaknya sebuah rumah pada umumnya, memiliki pintu dan jendela dengan sedikit teras yang dilapisi ubin kekuningan. Tepat di tengah, di bawah kaki jendela, ada pusara kecil, tertutup ubin yang senada dengan ubin pada lantai teras. Continue reading

Dikilik – kilik di Qliq Damansara

Tags

, , , ,


Sudah agak lama saya mendengar sebuah tempat di negeri seberang yang bernama Damansara. Tempat yang ingin disambangi awal tahun lalu, yang harus digagalkan mengingat waktu yang sangat terbatas untuk pergi pulang hingga beranjak ke bandar udara Kuala Lumpur. Tempat yang kata seorang kawan ketika kami menikmati sarapan sederhana yang tersaji di penginapan pada awal Desember 2016 lalu, kawasan elit.

hotel qliq damansara, hotel di damansara, hotel di malaysia, empire damansara

Qliq Damansara Hotel

Damansara mulai dibuka dan dikembangkan pada pertengahan 1990-an menjadi kawasan hunian dan bisnis baru di Petaling Jaya, Malaysia. Jaraknya, sekitar 30 menit berkendara dari jantung Kuala Lumpur bila tak terkendala macet. Siapa sangka kalau di akhir tahun lalu saya akan menginap di kawasan Empire Damansara, yang hanya sepelemparan popok dari apartemen kemenakan yang selalu saja tak bisa bersua atau berselisih jalan ketika saya ke Kuala Lumpur dan mereka justru hendak beranjak dari sana. Nyata benar, segala sesuatu ada masanya.

Continue reading