Advertisements

Cerita Secangkir Kopi Susu dari Pantai Makassar

Tags

, , , , ,


Tak banyak yang mampir ke Warkop Elim selama saya duduk menyeruput secangkir kopi susu yang disajikan Nenek Lanny, pemilik kedai pagi itu. Kedai sederhana yang dibuka di lantai bawah rumah tua peninggalan orang tua Nenek Lanny yang terjepit di antara bangunan hotel, rumah toko, dan kedai kopi kekinian di Jl Pasar Ikan, Makassar. Di rumah yang merangkap tempat usaha itu, perempuan bertubuh kecil dengan badan yang mulai bungkuk itu tinggal sendirian.

warkop elim, kedai kopi tradisional, coffeeshop di makassar

Menurut Nenek Lanny, duluuu .. sewaktu dirinya masih remaja, di kedai yang mulai menyempit itu, ayahnya yang pandai memasak; membuka rumah makan. Pengunjungnya ramai. Usaha sang ayah terus berkembang sehingga mereka pun harus mempekerjakan beberapa orang karyawan untuk membantu pekerjaan sehari – hari. Continue reading

Advertisements

Kabar Baik dari Tepi Kota

Tags

, , , ,


Pada awal 1930, di Toraja, ditemukan banyak penderita kusta serta warga masyarakat yang menunjukkan gejala penyakit kusta. Belum adanya tempat perawatan khusus untuk penderita kusta membuat Dr S.P.J. Esser – dokter misionaris yang bertugas di Toraja saat itu – menerima mereka untuk berobat dan dirawat di Elim satu – satunya rumah sakit di Rantepao pada masa itu. Kehadiran mereka membuat orang enggan untuk datang berobat karena takut tertular meski dokter Esser memmisahkan mereka dengan membuatkan paviliun khusus kusta di samping rumah sakit. Melihat bertambah banyaknya warga yang terkena penyakit kusta, J.J.J. Goslinga, dokter misionaris Belanda yang menggantikan dokter Esser, mendesak pemerintah Hindia Belanda untuk memperhatikan masalah serius ini. Sebuah pusat perawatan kusta kemudian dibangun di pinggir kota, di atas tanah milik gereja di Batulelleng.

pusat perawatan kusta batulelleng, leprosy treatment, batulelleng, penyakit kusta, endemik lepra

Rumah – rumah berbentuk tongkonan yang dibangun pada awal 1930 oleh Belanda di Pusat Perawatan Kusta Batulelleng

Eh, kenapa saya tak ingat mengajak kamu ikut ibadah di Batulelleng, ya? Kemarin, saya pimpin ibadah tahun baru di sana.”

Continue reading

5 Tempat Happening di Lolai, Toraja

Tags

, , , , , ,


Toraja masih menjadi destinasi penasaran bagi sebagian besar pejalan, terlebih mereka yang menaruh minat pada sejarah dan budaya. Namun, kepenasaranan itu mengalami sedikit pergeseran dengan munculnya keriaan di dunia pariwisata Toraja pada pertengahan 2016 lalu. Sebagian besar pejalan rasanya mubazir sudah menguras tabungan dan waktu, jauh – jauh ke Toraja bila tak merasakan terkantuk – kantuk bangun di pagi buta dan bergerak dengan kendaraan melewati jalanan yang gelap dan berkelok – kelok demi bergambar dengan .. AWAN!

pong torra lolai, tempat hits di lolai toraja, lolai di atas awan

Biar nggak bertemu awan, asal dengan Dilan nikmati saja 😉

Adalah Lolai, Negeri di Atas Awan di Toraja yang menjadi daya tarik wisata Toraja saat ini. Berada di ketinggian 1300 mdpl, Lolai dapat dijangkau dari Rantepao, ibukota Toraja Utara dengan berkendara sejauh 12 km selama 30 – 45 menit. Pada musim liburan, di akhir pekan, dan di pagi hari; suasananya serupa pejalan yang tumpah di jalan menuju kawah Bromo. Waktu tempuh perjalanan ke Lolai tergantung kepadatan arus lalu lintas pengunjung Lolai dan kepiawaian pengemudi. Continue reading

Borok di Kaki Yesus yang Memberkati Toraja

Tags

, , ,


Promosi Rafly, sopir yang menjemput kami di Bandara Hasanuddin, Makassar, tentang kehadiran jembatan kaca di pelataran Patung Yesus Memberkati di Buntu Burake menggoda kami untuk memintanya membelokkan kendaraan ke Buntu Burake sesaat setelah kendaraan kami memasuki Toraja. Dalam perjalanan menanjak ke puncak bukit, saya mulai membayangkan rupa jembatan kaca yang digambarkan oleh Rafly -berdasarkan berita yang banyak beredar- akan menyerupai Zhangjiajie Skywalk di Hunan, Cina.

Buntu Burake, Patung Yesus Memberkati, Patung Yesus Toraja

Ide pembangunan patung Yesus Memberkati datang dari Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo, menyusul kehadiran salib raksasa di Bukit Singki’, Rantepao, Toraja Utara, yang diresmikan pada Desember 2012 lalu. Destinasi wisata religi Patung Yesus Memberkati berada di ketinggian 1500 mdpl dan mulai dibuka untuk umum pada pertengahan 2015. Patung setinggi 40 meter yang berdiri di puncak bukit adalah hasil karya permatung asal Bantul, Yogyakarta; Hardo Wardoyo Suarto.

Continue reading

Di Gang Kecil itu, Kami Berkenalan dengan Wong Fu Kie

Tags

, , , ,


Kegiatan apa yang menyenangkan dilakukan jelang imlek? Kuliner ibab! *ngiiik*

Dulu setiap menjelang imlek saya rajin bermain ke kawasan pecinan Jakarta di Glodok. Kalau tak menemani kawan keluar masuk kelenteng melihat kegiatan menjelang tahun baru Cina, seringnya demi mengurai kangen pada makanan berlemak yang haram tapi enak itu. Kadang pula sebersit hasrat pada sebatang es potong rasa ketan item yang dijual abang – abang di mulut gang Petak Sembilan-lah yang mengantarkan langkah keluar masuk gang di Glodok.

wong fu kie, restoran haka tertua di Jakarta, Mun Kiaw Mien, Wong San Fumak

Semua berawal dari mulut gang ini

Inipun kembali terjadi seminggu yang lalu. Salahkan Ghana yang sengaja memasang gambar makanan di akun IGnya, sehingga timbul keinginan yang sangat kuat pada Mun Kiaw Mien. Penasaran, saya mengirimkan pesan kepada Ghana agar dia memberi sedikit keterangan tambahan posisi tempat kejadian perkara (TKP). Setelahnya, mencari tahu siapa kira – kira yang waktunya bisa dibajak untuk diajak berkenalan dengan Min Kiaw Mien.

Continue reading

Sarapan Mie Sedap di Sabang

Tags

, , , , ,


Thomas Kurniawan tak terusik sedikit pun pagi itu ketika saya muncul di dapurnya. Dirinya terus saja mengaduk mie di dalam wajan besar di hadapannya agar tak gosong. Ada banyak pesanan mie untuk dibungkus dan dibawa pulang pagi itu. Empat lelaki yang membantunya di dapur pun terlihat sibuk. Ada yang mencuci mie, membantu menuangkan mie ke dalam wajan, meracik pesanan ke dalam piring, ada pula yang bertugas menerima, membungkus serta mengantarkan pesanan ke meja – meja di depan dapur. Mereka hanya melemparkan senyum dan membiarkan saya berkeliling di dapur sederhana itu. Tak jauh dari kompor, ada rak penyimpanan mie buatan sendiri. Di sampung dapur ada ruang makan yang difungsikan pula sebagai ruang kerja. Deretan foto – foto leluhur di salah satu bagian dindingnya menandakan ruang itu juga sebagai ruang sembahyang.

Continue reading

5 Tempat Sarapan dan Brunch Menyenangkan di Toraja

Tags

, , ,


Menyesap secangkir kopi sembari duduk berbincang – dan berkhayal – di alang (=lumbung) adalah ritual pagi orang Toraja. Kadang sebagai teman ‘ngopi dihadirkan sepiring singkong atau pisang rebus/goreng atau deppa te’tekan. Tak ketinggalan satu dua batang rokok habis disulut hingga kopi tandas. Deppa te’tekan – sering pula disebut deppa tori’ – adalah kue tradisional Enrekang, kabupaten tetangga dekat Toraja. Saya tak tahu pasti kapan tori’ mulai bertandang ke Toraja. Namun sebagai tetangga sebelah rumah, tori’ sudah lama bergaul dengan keseharian orang Toraja, hadir di upacara adat, dan pertemuan – pertemuan yang digelar di Toraja.

kopi toraja, arabica toraja, robusta toraja, sejarah kopi toraja

Tentang kopi, para arkeolog, pecinta sejarah dan budaya memperkirakan kopi datang ke Toraja sejak awal abad 17 bersamaan dengan kedatangan saudagar – saudagar Arab berdagang ke Sulawesi. Dalam bukunya Tana Toraja: A Social History of An Indonesian People, Bigalke menulis saudagar Arab lebih dahulu mengenalkan qahwah (= kopi) di Bugis yang kemudian mengakrabinya dengan sebutan kawa. Karena perbendaharaan abjad Toraja tak mengenal q dan w, tergelincirlah qahwah menjadi kaa. Jadi bila bertamu ke rumah – rumah orang Toraja dan ditawari hendak minum apa? Sebut saja kaa, bila kamu ingin menyesap kopinya. Continue reading

Memangkas Macet dengan Kereta Api Bandara

Tags

, , , , , ,


Gegara keluh kesah seorang kawan di sebuah grup WA yang tak jua menemukan informasi petunjuk menggunakan kereta api (KA) sebagai moda transportasi baru dari ke Bandar Udara International Soekarno Hatta (SHIA) ke Jakarta, sepulang mudik kemarin, saya memutuskan untuk menjajal kereta api dari SHIA.

skytrain soekarno hatta, kalayang bandara, skytrain bandara, tips naik kereta bandara

Sesuai arahan kak Donna, kawan berjalan yang sudah lebih dahulu menjajal kereta api dari Jakarta ke SHIA, untuk menggapai stasiun Bandara Soekarno Hatta (BST) yang berada di luar terminal, “kakak naik skytrain atau Kalayang dari terminal manapun. Terminal 1, 2 atau 3.” Continue reading

Mereka Pergi di Usia Belia

Tags

, , , ,


Edgar, lelaki muda yang kutemui pagi itu di sebuah bukit, duduk bersendiri di dekat gerbang saat aku kembali ke tempat kami bertemu beberapa tahun yang lalu. Di tempat yang berpuluh tahun dirinya berdiam. Aku tak akan pernah lupa gaya bicaranya ketika sepotong nama terlontar dari mulutnya saat kami berkenalan. Nama yang mengingatkan pada seorang kawan berjalan bernama serupa dari negara tetangga. Postur tubuh mereka hampir sama. Hanya saja Edgar yang kutemui pada satu pagi yang sedikit muram di awal tahun itu; badannya lebih tipis.

Edgar lahir dan besar di Rantepao, sebuah kota kecil di kaki gunung Sesean, Toraja pada 1923; tujuh tahun setelah ayah ibunya menjejakkan kaki di Toraja. Ayahnya, Hendrik van der Veen adalah utusan zending yang menaruh minat sangat besar pada dunia bahasa. Salah satu pertimbangan kuat kenapa Hendrik dipilih oleh Gereformeerde Zendingsbond (GZB) ketika dirinya melamar untuk ikut pelayanan misi di Hindia Belanda. Continue reading

Berdamai dengan Keadaan

Tags

, , , ,


Setiap orang punya alasan sendiri – sendiri ketika menentukan kegiatan untuk menyambut tahun baru. Seorang sahabat baik punya kebiasaan menyepi selama seminggu, melepas kemelekatan pada benda – benda yang hadir di keseharian pada setiap pergantian tahun dengan bermeditasi. Ada pula kawan yang memilih untuk pergi jauh – jauh dari rumah, melanglang seorang diri menikmati perjalanan ke tempat yang baru.

Usai ibadah akhir tahun di malam terakhir pada 2016 lalu, bersama beberapa kawan, kami memilih duduk – duduk dan berbincang tak tentu arah di kedai kopi, di mal dekat gereja, lalu pulang tidur. Malam itu, kulihat malam pun bergegas pulang ke peraduannya. Sebelum beranjak ke pembaringan, kusetel waktu pengingat agar terbangun di jelang pergantian hari untuk berbincang denganNYA. Meski berusaha menjalankannya dengan tekun, kadang aku bisa tidur berkepanjangan tak peduli suara alarm meraung – raung sepanjang pagi. Continue reading