Tags

, , , ,


Gelap mulai menyelimuti sudut-sudut Jakarta ketika pemberitahuan untuk bersiap memasuki pesawat diteriakkan melalui corong pengeras suara oleh petugas di ruang tunggu Terminal 2 Keberangkatan Internasional, Bandar Udara Soekarno Hatta. Saya membenahi backpack yang sedari tadi dibiarkan tergeletak di lantai, merapikan jaket dan mengeluarkan boarding pass untuk ditunjukkan ke petugas di depan pintu.

KLM, KLIA, penjelajah kuburan

Terbang bersama KLM

Sembari menunggu giliran menuju pesawat, tangan membolak-balik boarding pass. Memperhatikan cetakan huruf-huruf besar di pojok kanan atas yang tertera di sana, KLM Royal Dutch Airline. Seulas senyum penuh arti tergambar di bibir menyertai langkah menuju tangga pesawat meninggalkan ruang tunggu bandara. Syukur terangkai padaNya, diberi kesempatan untuk kembali bertandang ke negeri tetangga.

Ya, dalam hitungan menit saya akan terbang dengan KLM Royal Dutch menuju Kuala Lumpur memenuhi undangan Kementerian Pelancongan dan Kebudayaan Malaysia untuk menghadiri Count Down Visit Malaysia Year 2014 Carnival di Pulau Penang. Adalah anugerah, menjadi satu-satunya travel blogger Indonesia yang hadir di antara travel blogger dan perwakilan media se-ASEAN untuk meliput satu momen besar.

Rasa yang sama pun memenuhi rongga dada ketika berada di tengah-tengah 900 perwakilan media dan agen perjalanan internasional yang datang dari 47 negara di Bangkok Convention Center, akhir Juni yang lalu. Bersama Dhanang Dave, haru menjadi duo kompasianer dan blogger yang secara tidak langsung mewakili Indonesia. Diberangkatkan oleh Tourism Authority of Thailand (TAT) Jakarta dan Thailand Airways International Co., Ltd untuk menghadiri peluncuran kampanye pariwisata Thailand’s Best Friend Forever 2014.

Tak ada sesuatu yang terjadi tanpa campur tanganNYA, Sang Penuntun yang setia memberkati dengan KasihNYA. Semua berawal dari kegemaran melakukan perjalanan di Indonesia dan membaginya lewat tulisan di blog. Ragu sempat melanda ketika hendak memulai berbagi tulisan di Kompasiana pada Maret 2011. Apakah tulisan tentang perjalanan berbau sejarah, lebih spesifik lagi kegiatan di musium dan kuburan tua akan dilirik oleh pembaca? Namun, pada akhirnya panggilan jiwa dan kerinduan berbagi inspirasilah yang menjadi penyemangat untuk memulai langkah.

press card id, id kompasiana, penjelajah kuburan

Press card Kompasianer

Selama 2011 – 2012 Kompasiana menjadi media utama untuk menebar jejak perjalanan, tempat menimba ilmu menulis serta tempat membangun jaringan pertemanan dengan Kompasianer yang memiliki minat yang sama. Lambat laun satu per satu tulisan pun menuai komentar. Dari masukan yang membangun hingga menjadi tempat perdebatan, dari pujian hingga komentar/kritikan pedas turut meramaikan ketika tulisan dipublikasikan.

Berkat Kompasiana, semenjak 2012 sebuah kerjasama terjalin baik dengan Goethe-Institut Indonesia untuk membagikan kegiatan-kegiatan menarik yang diselenggarakan oleh Goethe-Institut yang berhubungan dengan seni dan budaya. Menjadi satu kebanggaan tersendiri ketika hadir sebagai satu-satunya perempuan, travel blogger yang diundang untuk meliput peresmian Pameran Monografi Raden Saleh. Pfiuuuh, tak gampang untuk meliput kegiatan yang dihadiri oleh petinggi negara. Jelang akhir 2012, lambaian kerjasama dari Nokia Indonesia pun disambut dengan sukacita untuk melakukan uji coba produk baru ke Maluku. Lalu memasuki 2013 kerjasama lainnya pun serasa berlomba menghampiri.

Beberapa kegiatan yang dinikmati selama menjadi travel blogger dan kompasianer:

  • Volunteer di Komunitas Sahabat Museum, 2005 – sekarang
  • Admin dan kontributor Toraja Cyber News, 2011 – sekarang
  • Rekanan media Goethe-Institut Indonesia, 2012 – sekarang
  • Rekanan media Nokia Indonesia, Nokia Lumia920, 2012
  • Pemenang Lomba Blog I Love Aceh, 2013
  • Finalis Blogger Wanita Terbaik Bloscar Travel 2013, Skyscanner Indonesia
  • Partisipan Malaysia Tourism Hunt 2013, September 2013
  • Rekanan media Kementerian Pelancongan & Kebudayaan Malaysia, 2013 – sekarang
  • Anggota aktif Komunitas Travel Blogger Indonesia, 2013 – sekarang
  • Rekanan media KLM Royal Dutch Airline, 2013
  • Rekanan media Tourism Authority of Thailand, Jakarta, 2014
  • Rekanan media Pemda dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Belitung Timur, 2014
Membaca Jelajah Negeri Sendiri, buku keroyokan bersama kompasianer di depan makam Kuhl & Hasselt

Membaca Jelajah Negeri Sendiri, buku keroyokan bersama kompasianer di depan makam Kuhl & Hasselt

Sering sekali kita hanya melihat tiitk akhir yang dicapai oleh seseorang yang kita idolakan. Tanpa mau melihat proses untuk sampai ke titik tersebut, kita pun berharap menjadi seperti sang idola dalam sekejap. Banyak yang sering bertanya bagaimana caranya untuk menjadi travel blogger yang dilirik oleh sponsor? Bagaimana bisa jalan-jalan gratis tanpa perlu bersaing lewat lomba? Bagaimana bisa seperti kamu? Mulailah dengan menebarkan cinta lewat apa yang kita lakukan. Karena menyukai sejarah, saya memilih menebar kecintaan pada Indonesia dengan menuliskan perjalanan tak biasa. Bukan untuk mencari sensasi, tapi karena minat dan panggilan jiwa memang ada di sana; menjelajahi kuburan tua! Dan demi cinta pada Aceh dan bangga pada jejak Laksamana Keumalahayati, berkolaborasi dengan penulis idola membuat blog Perempuan Keumala sebagai rekam jejak perjalanan dan inspirasi perempuan.

Percayalah kita tidak akan pernah bisa menjadi seperti orang lain, karena setiap kita adalah pribadi yang diberkati dengan talenta yang unik. Yang bisa kita lakukan adalah belajar dari proses yang dijalani seseorang yang kita idolakan hingga menjadi orang yang berhasil dalam bidang yang kita pilih. Kuncinya adalah konsisten dengan pilihan. Saat diundang untuk meliput satu kegiatan berikan hasil liputan paling lambat seminggu setelah kegiatan usai, tuliskan dengan bahasa yang baik dan benar serta teruslah menjalin komunikasi yang baik dengan penyelenggara meski kegiatan telah berlalu. Bergabunglah dengan komunitas yang punya kegemaran dan memiliki visi yang sama, ikutlah kegiatan-kegiatan untuk menambah pengalaman, buka diri seluas-luasnya terhadap kritik dari orang lain dan tetaplah rendah hati ketika diberi kesempatan yang lebih baik dari yang lain.

Sebagai travel blogger, saya lebih senang menuangkan hasil pengamatan melalui tulisan. Tipe manusia yang sangat irit mengeluarkan kata ketika berbicara, lebih senang berada di belakang layar daripada tampil di depan orang banyak. Namun seiring meluasnya jaringan, tawaran untuk menjadi pembicara pun satu per satu hadir di depan mata.

Tawaran mengejutkan datang dari Admin Kompasiana untuk menjadi salah satu narasumber di ajang Kompasianival 2013. Saya yakin banyak yang bertanya kenapa dia yang dipilih, kenapa bukan si A atau si B yang punya pengalaman lebih banyak? Begitu pun ketika awal Maret 2014 lalu kembali Admin Kompasiana menghubungi untuk menjadi narasumber di Kompasianival 2014 Nopember mendatang. Tak habis pikir kenapa dipilih dari antara sekian ratus Kompasianer, padahal banyak kompasianer lain yang memiliki jam terbang lebih tinggi. Tentu ada alasan yang menjadi pertimbangan Admin dan Petinggi di Kompasiana untuk menyelipkan nama saya di antara orang-orang hebat yang secara kebetulan sebagian adalah mereka yang membuat saya kagum.

kompasianival 2014

Para Narasumber di Kompasianival 2014

TUHAN punya rencana indah bagi setiap anakNya. Dia terlalu sering memberikan kejutan – kejutan yang membuat hati tak henti bersyukur, ketika apa yang tak pernah terbersit dalam hati, yang tak pernah timbul dalam pikir, diberikanNya sebagi penyejuk jiwa. Tanpa pembaca yang setia membaca dan memberikan masukan pada setiap tulisan yang dibagikan, tanpa dorongan semangat dari teman-teman dan tanpa komitmen pada pilihan yang sudah dipilih; rasanya mustahil untuk mendapatkan semua kesempatan itu, berjalan dan terus menulis cerita perjalanan seperti ini:

Menulislah dengan jujur karena tulisan adalah jejak abadi dari seorang penulis. Menulislah bukan untuk satu kebanggaan demi memenangkan sesuatu yang hanya bisa dinikmati sendiri. Menulislah untuk berbagi sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain. Yakini, ketika kita mau berbagi tanpa mengharapkan balas jasa, berkatNYA-pun akan mengalir. Berkat tak sebatas materi, ada kepuasan dan kebahagiaan tersendiri ketika kita bisa menjadi saluran berkat bagi orang lain melalui tulisan dan lewat apa yang kita lakukan. Tak ada yang terjadi secara kebetulan, semua ada prosesnya. Segala yang diraih dengan perjuangan akan membuat kita menghargai dan bersyukur ketika memetik buahnya. Sampai jumpa di Kompasianival 2014, saleum [oli3ve].

*****

Sebelumnya dipublikasikan untuk meramaikan Aksi untuk Indonesia di Kompasiana, 23 Oktober 2014. Dan menjadi salah satu tulisan yang memenangkan lomba Aku dan Kompasiana dalam rangka Kompasianival 2014.

Advertisements