Tags

, , , , ,


Masih ingat keriaan yang terjadi ketika negara tetangga mengklaim batik sebagai warisan budayanya? Media sosial ramai dengan beragam komentar sampai sumpah serapah saling menuding karena semua merasa paling berhak dan benar. Yang tadinya diam tak mau tahu (boro-boro peduli) batik, turut keriaan. Lupa selama ini memilih cuek. Ya, hati biasanya baru tersulut ketika harta berharga yang kita miliki, yang tadinya tak kita hiraukan (atau tak disadari ada di sekitar kita) mulai diusik orang lain.

untannun kameloan, wastra toraja, tenun toraja, toraja melo

Untannun Kameloan

Berangkat dari keterusikan inilah, Sabtu (14/11/2014) siang bertempat di Alun-alun Indonesia, Grand Indonesia, Jakarta; Toraja Melo menggelar diskusi buku Untannun Kameloan: Textiles of Toraja, Mamasa, Mamuju, Rongkong, Sulawesi. Tampil sebagai panelis Lynda Ibrahim, jurnalis The Jakarta Post, Barbara Johnson, pemerhati wastra Indonesia, Nina Jusuf, in-house designer, Olive Bendon, co-founder Perempuan Keumala seorang travel blogger berdarah Toraja dan Jihan FL.Dillon sebagai pemandu jalannya perbincangan.

Untannun Kameloan secara harafiah berarti menenun kebaikan. Sebuah ungkapan dari bahasa Toraja yang memiliki makna sangat dalam. Berasal dari dua suku kata untannun (tannun = tenun, untannun = menenun) dan kameloan (melo = baik, indah, tulus, kameloan = kebaikan, keindahan, ketulusan, kasih). Jadi, untannun kameloan berarti melakukan sesuatu dengan kesungguhan hati yang didasari oleh kasih untuk kebaikan bersama.

untannun kameloan, tenun toraja, wastra toraja, toraja unik

Diskusi Untannun Kameloan ki-ka: Barbara Johnson, Olive Bendon, Jihan Dillon, Lynda Ibrahim

Dalam perjalanan ke Toraja akhir 1997 lalu, berempat kawan kami menghadiri upacara Rambu Tuka’ (=upacara syukuran tongkonan/rumah adat Toraja) yang digelar oleh keluarga bangsawan di satu kampung. Memasuki tempat upacara, mata terpukau melihat aneka wastra yang terlihat menghiasi sekeliling tempat itu. Ada yang digantung di atas lettoan (=sejenis lumbung mini yang dihias untuk membawa hasil pertanian dan babi pada upacara syukuran). Aneka corak wastra panjang pendek yang sebelumnya tak pernah terlihat bahkan sebagian besar sudah sobek di sana sini; mendadak hadir di depan mata.

Dari seorang tetua adat di tempat upacara, saya mendapat informasi bahwa wastra yang ada hari itu bukan sembarang wastra. Hanya orang-orang tertentu dengan strata sosial tinggi dalam masyarakat yang memilikinya dan dikeluarkan hanya saat upacara adat; entah itu Rambu Tuka‘ atau pun Rambu Solo’ (=upacara kedukaan). Sekembali ke Jakarta, saya melupakan semua pemandangan tersebut hingga pada 2010 ketika berbincang dengan 3 (tiga) orang penenun sepuh di To’ Barana, desa wisata di Toraja Utara; ucapan mereka sungguh bikin miris,”jika kami mati, tidak ada mi yang kasih terus.” Artinya .. ketiadaan regenerasi membuat tenun Toraja di ambang kepunahan!

penenun toraja, to'barana, tenun toraja, untannun kameloan, toraja melo

Penenun sepuh di desa wisata To’Barana Toraja Utara (dok. Chandra Christrianti)

September 2012, memenuhi amanat dari seorang kawan di Toraja Cyber News, saya berangkat ke Museum Tekstil untuk meliput kegiatan Pameran Tenun Toraja, Untannun Kameloan. Di sana saya bertemu dan berkenalan dengan Diana Iriana Jusuf, CEO dan founder  Toraja Melo. Mantan Sekertaris Jenderal (Sekjen) Komisi Nasional (Komnas) Anti Kekerasan Terhadap Perempuan yang akrab disapa Dinny Jusuf ini, juga pernah berkecimpung di dunia perbankan; mengabdikan diri untuk berbagi semangat dan memulai usahanya karena mimpi dan kecintaannya pada tenun Toraja.

Tak mudah untuk masuk ke dalam satu lingkungan yang dipagari dengan seksama hingga terasa asing bagi warga di lingkungan itu sendiri terlebih disentuh oleh pihak luar. Dan, Dinny Jusuf yang tak punya setetes pun darah Toraja berani melangkah melewati pagar itu demi sebuah asa yang untuk Toraja. Ragam wastra Toraja yang sangat langka dan jarang dipublikasikan, direlakan oleh para kolektor untuk dipamerkan ke hadapan publik di Museum Tekstil pada hari itu. Untuk membantu memahami koleksi tak biasa yang dipajang di sana, sebuah buku panduan pun diluncurkan dengan judul yang sama dengan tajuk pameran. Buku full colour yang oleh Barbara Johnson disebut sebagai sebuah buku yang sangat bagus, buku langka di Indonesia karena baru kali ini ada sebuah buku yang mendokumentasikan wastra Indonesia khususnya Toraja secara detail dan dilengkapi dengan ulasan singkat tentang sejarah dan kegunaannya dalam masyarakat adat Toraja hingga teknik pewarnaan wastra yang dipaparkan dalam buku tersebut oleh seorang antropolog Jepang, Keiko Kuzakabe.

tenun toraja, untannun kameloan, toraja melo

Nina Jusuf membantu seorang pelanggan memadupadankan busana tenun Toraja kreasi Toraja Melo

Dinny Jusuf mendirikan Toraja Melo pada 2008 untuk mendukung usahanya meremajakan dan melestarikan tradisi tenun Toraja. Pula membantu para perempuan Toraja dalam meningkatkan kualitas hidup mereka (dan keluarganya) atau yang dikenal dengan women empowering. Menegaskan hal ini, Lynda Ibrahim melihat dari sisi marketing upaya positif yang telah dilakukan oleh Toraja Melo dalam memasarkan produk serta membantu para penenun di Toraja lewat program pendampingan penenun. Dari sisi pendidikan, Toraja Melo telah mengawalinya dengan membuka sekolah Taman Kanak-kanak sebagai tempat pembekalan pendidikan dasar bagi anak-anak penenun.

Kesulitan bahan baku benang, kurangnya penenun serta keberanian untuk menabrak aturan baku dalam padu padan warna mengikuti permintaan pasar, menjadi bumbu penyedap perjalanan Toraja Melo dalam menjalankan usahanya. Diperlukan satu langkah berani yang digerakkan oleh panggilan jiwa untuk mengangkat tenun Toraja hingga diterima di pasar dunia.

Padu padan ide dan rasa yang berpacu dengan waktu adalah sebuah tantangan yang melahirkan kreatifitas. Dari tangan Nina Jusuf yang didapuk menjadi in-house designer Toraja Melo; lahir ragam kreasi tenun Toraja yang merambah pasar dunia. Tenun yang sebelumnya dipakai sebatas pelengkap sakral upacara budaya Toraja, ternyata dapat menjadi menjadi busana resmi dalam perhelatan kenegaraan Amerika Serikat; pun dapat dikenakan sebagai busana dalam beraktifitas sehari-hari. Tenun Toraja kreasi Nina Jusuf, membalut manis tubuh Maya Soetoro pada malam inagurasi pelantikan Obama sebagai presiden di Gedung Putih.

untannun kameloan, diskusi buku, toraja melo, tenun toraja

Anugerah bisa berdiri di antara perempuan-perempuan hebat ini

Meski sangat mudah untuk memberikan inspirasi, motivasi dan pembekalan semangat yang mendorong untuk meningkatkan rasa percaya diri dalam menggalli potensi diri pada seseorang; namun tidaklah mudah untuk mengubah pola pikir dan kekakuan yang telah terbentuk dalam satu tatanan masyarakat. Semua kembali kepada masyarakat itu sendiri, apakah mau berubah menjadi lebih baik atau tetap berjalan dengan ritme yang mengikat tanpa berani keluar dari zona nyaman yang memagarinya.

You are so fly u get me so high im up in the sky I feel so high
Kau buat aku semakin luluh dengan caramu melukiskanku
Coba buktikan yang kau katakan aku menunggu bukti darimu

Wow kau membuatku
Wow diam terpaku
Wow tak sanggup aku
Wow.. wow..wow..wow

jflow, tenun toraja, untannun kameloan, toraja melo

JFlow! kau membuatku Wouuww!! (dok. Dicky Setiawan)

Diskusi buku Untannun Kameloan ditutup dengan hentakan suara Joshua Matulesssy aka JFlow yang mengajak setiap perempuan untuk bangga dan menunjukkan potensi yang ada pada dirinya. JFlow telah menjalin kerja sama dengan Toraja Melo sejak peluncuran koleksi Drunken Butterfly di Indonesian Fashion Week 2014 yang berlangsung di Jakarta pada Pebruari lalu.

Tak ada yang terjadi secara kebetulan, semua ada prosesnya. Pun tak ada yang akan terjadi bila kita hanya berdiam diri tak melakukan apa-apa. Bila bukan kita, siapa lagi yang peduli? saleum [oli3ve].

*****

Sebelumnya dipublikasikan dan menjadi headline di Kompasiana, 20 Nopember 2014 dan dibagikan di laman Perempuan Keumala sebagai salah satu wujud gerakan perempuan untuk Indonesia. Dituliskan kembali di sini sebagai rekam jejak dan dokumentasi.

Advertisements