Tags

, , , , ,


Kedai untuk duduk – duduk ngopi, berbincang atau sekadar bersapa kawan yang lama tak bersua – dan bersua kawan baru – sedang menjamur di Toraja. Di Rantepao, Toraja Utara saja ada banyak kedai dari warung kopi sederhana hingga kafe kekinian, buka di sana – sini. Sebagian besar kedai menawarkan sajian yang serupa. Hanya satu dua saja yang menawarkan sajian unggulan, kebanggaan mereka, dan (diharapkan) menjadi kesukaan pelanggan yang datang.

Dari analisa sederhana saya, ada dua hal yang mempengaruhi menjamurnya usaha tempat makan minum di Toraja. Pertama, kehadiran kedai – kedai di hampir setiap persimpangan jalan sebagai bukti masih tingginya peluang pasar di Toraja (meski orang Toraja bukanlah tipe konsumen yang senang jajan di luar rumah). Kedua, kesetrum bisnis kagetan. Dalam perjalanannya, beberapa kedai bisa bertahan. Tak sedikit pula yang tersendat – sendat di tengah jalan. Hal ini terjadi ketika kelahiran kedai didorong oleh poin kedua. Sehingga tak jarang saat hendak bertandang ke satu kedai, pengunjung hanya akan menemui pintu yang tertutup rapat dengan nama kedai menggantung atau menempel pada salah satu dinding kedainya. Mungkin kedainya dibuka sebagai selingan saja ketika pengelolanya sedang tak sibuk dengan kegiatan lain. Mungkin. Saya tak menanyakannya, kan kedainya tutup hehe.

Dua minggu lalu saya diajak bersua seorang kawan di Lemon 84, sebuah kedai yang kata kawan tadi,”tempatnya asik dan cukup terkenal di Rantepao.” Meski terkenal – di mata segelintir pelanggannya- dan tinggal selonjoran dari rumah, ternyata saya tak familiar dengan te-ka-pe yang bila ditengok dari lokasi; berada pada tempat yang strategis, di pusat kota. Tempat duduk di Lemon 84 berupa bangku panjang yang mengapit meja kayu, dindingnya dihiasi tulisan bergambar layaknya kedai kopi instagramable sebagai latar belakang foto. Meski pintu dan jendelanya terbuka lebar – lebar, ruang duduknya remang – remang cocok buat yang senang berbincang berdua saja.

Sore itu, saya hanya ingin memesan minuman yang segar karena lambung masih penuh. Ketika disodori menu dan melihat Jus Tamarillo (Terong Belanda) tercantum di sana, saya pun memesan rasa kesayangan lidah itu dengan pesan khusus,”mbak, esnya sedikit, gulanya dikurangi ya.”

jus tamarillo, jus terong belanda, terong belanda

Jus Tamarillo @la_moraipa

Pengunjung Lemon 84 hari itu tak banyak. Hanya saya berdua kawan dan istrinya menempati dua meja di lantai bawah – saya tak tahu kenapa istri sang kawan memilih duduk terpisah – mungkin takut mengganggu obrolan kami, pun tak habis lima jari di tangan kanan untuk menghitung jumlah pengunjung di lantai atas – saya menghitungnya dari banyaknya pesanan di nampam yang diantarkan oleh pelayan.

Kami sudah berbincang lama, mulut saya pun mulai kering namun pesanan tak datang – datang. Dalam bayangan saya, menyiapkan jus untuk satu orang di saat kedai sedang sepi tak perlu berlama – lama. Kenyataannya, Jus Tamarillonya muncul TEPAT WAKTU menjelang pertemuan selesai, dan saya sudah duduk kehausan 45 menit serta bersiap komplain ke dapur.

Untuk penantian yang tak sebentar itu, saya mendapat KEJUTAN secangkir air berwarna merah jambu yang disajikan di dalam cangkir plastik (cup take away). Ketika diseruput ada rasa terong SEDIKIT. Lebih banyak rasa gula dan air. Untuk satu cup jus RASA terong Belanda itu harganya Rp 10,000. Harga yang tak sepadan untuk secangkir air yang hanya dicampur dengan biang terong Belanda untuk memunculkan warna merah muda, dan sedikit aroma buah terong Belanda di dalamnya. Oh, tapi saya masih beruntung, karena sore itu jusnya dibayarin sehingga protes disimpan untuk dituliskan saja hahaha.

Penasaran dengan Jus Tamarillo, beberapa hari kemudian, ketika berkunjung ke  La Moraipa, sebuah kedai makan dan melihat nama jus kesenangan lidah dari masa kecil itu ada di menu, saya pun memesan dengan pesan yang sama,”mas, esnya sedikit, gulanya juga sedikit saja.” Di tempat ini lidah saya tak perlu menunggu lama untuk menyeruput segarnya Jus Tamarillo yang diidamkan. Untuk secangkir jus kental dengan rasa yang menyenangkan ini – lain kali saya akan menambah pesan khususnya, tak usah dikasih susu – saya cukup membayar Rp 12,000 saja. Selisih dua ribu perak dengan minum air merah jambu kan?

Berbicara bisnis kedai kopi, saya pun teringat Warung Kopi Elim, kedai kopi sederhana yang dikelola seorang nenek tak jauh dari Pantai Losari, Makassar. Saya tak sengaja menemukan kedai ini minggu lalu ketika mencari kedai kopi yang menarik perhatian dan tak sempat disinggahi setahun lalu – ternyata sudah menghilang – entah pindah lokasi atau sudah tutup.

Warkop Elim dimulai dengan usaha rumah makan semasa orang tua Nenek Lanny masih hidup. Setelah orang tuanya tiada, Nenek Lanny yang mengaku tak pandai memasak, tak sanggup meneruskan usaha rumah makan  peninggalan orang tuanya yang lumayan ramai. Dirinya lalu membuka kedai kopi sederhana – belakangan ditambah bisnis kelontong untuk menyiasati kedai kopi yang mulai sepi – sebagai sumber penghasilan.

Susah mi cari pembeli sekarang, banyak mi saingan. Jarang sekali mi yang datang duduk dan minum kopi.”

Saya masih ingat rasa senang yang terpancar dari mata Nenek Lanny melihat saya berdiri di depan pintu dan bertanya apakah di kedainya tersedia kopi untuk disesap. Meski bisnis kedai kopi melamban, Nenek Lanny tak patah semangat walau di seberang kedainya berdiri kedai kopi kekinian yang dikelola anak muda.

Secangkir Jus Tamarillo dan secangkir kopi susu di kedai Nenek Lanny mengingatkan ada banyak faktor yang mempengaruhi berjalan tidaknya pengelolaan usaha tempat memuaskan rasa dan menyenangkan lidah ini. Persaingan, mutu sajian, pelayanan, manajemen, kenyamanan tempat, lokasi, harga, serta banyak faktor lain bisa menjadi penyebab kedai mulai jarang dikunjungi hingga menjadi sepi pelanggan. Dari sekian banyak faktor itu, yang paling sering terlupakan adalah pelayanan, kenyamanan, dan rasa, saleum [oli3ve].

Advertisements