Tags

, , , ,


Rasanya seperti ada sepuluh matahari yang bergelayutan di langit Aceh, Jumat siang itu. Ketika para lelaki bersiap mengayun langkahnya ke masjid, dan kuhitung napas dengan menapakkan kaki satu – satu mendaki lereng Lamreh tuk menyusuri jejak yang pernah kutitipkan di sana; ia tegak di atas kepala. Jalannya tak mudah, serpihan batu kapur yang berserakan di jalur naik – tak ada setapak di sana, langkah diayun mencari jalannya, mengikuti rasa  – sesekali tapak kasutku yang licin tergelincir saat ia menindih bulir – bulir batu kapur itu.

“Aaaghhh …njirrr!” sontak, kuangkat tangan yang perih dan mendapati duri – duri dari semak yang tak sengaja kugapai untuk pegangan, menancap dalam – dalam menorehkan luka pada tapak tangan yang melahirkan perih dan mulai mengeluarkan cairan merah. Sial, kenapa harus luka saat langkah belum setengah perjalanan? Kalau bukan karena IBU, tak kan kubela – belain untuk merangkak di sini!

“Kenapa, Lip?” khawatirmu memecah sepi.
“Nggak kenapa – napa, luka dikit.”

Dua tahun lalu aku tak payah mendaki Bukit Lamreh. Rerumputannya menghijau, beberapa akar pohon yang berdiri di lerengnya yang terjal; siap dijadikan tumpuan. Hanya perlu awas melangkah, sedikit saja salah perhitungan menapak, di bawah, lautan siaga memeluk tubuhmu yang meluncur ke tebing di belakangmu. Tapi siang itu lerengnya kerontang, serupa melangkah di padang belantara yang tandus dan kering. Oh, ada satu yang tetap sama. Kotoran sapi dan kambing menikmati kebebasannya bergelimpangan. Jika mata dibiarkan berkeliaran di atas saja, kotoran yang masih sedikit basah di permukaan tanah di bawah, kan leluasa melumat kasutmu. Tak ada air untuk membasuh, tak ada semak yang cukup lebat untuk sekadar melerainya agar tak terus mengintil dan mengusik hidung dengan aroma sengitnya.

Ya, TUHAN, lihatlah, betapa besar ketakutanku, betapa gelisah jiwaku; hatiku terbolak-balik di dalam dadaku, karena sudah melampaui batas aku memberontak – [Rtp 1:20]

Mimpi itu telah merasuki jiwaku, menancapkan cengkeramannya dalam – dalam, perlahan, ia merobek – robek ketenangan bathinku. Tak kurisaukan lagi matahari yang memerihkan kulit. Aku hanya ingin segera menggapai bayangan pohon yang melambai di puncak sana. Dan kala tubuh kuhempas di bawah bayangnya, kularungkan dahagaku pada Semesta. Pada samudera yang terbentang di depan mata kukumandangkan asaku agar gelisah yang diam – diam merayap di dalam dada, larut bersama geloranya.

Makassar, September 2017
Semenjak KAU bawa pulang lelaki kebanggaanku, aku sering meminta agar KAU berbicara saja di mimpiku. Jangan lagi berikan kejutan yang membuat jantungku berlari cepat – cepat. Sayangnya, KAU pulalah penulis naskah dan sutradara atas setiap mimpiku, sehingga tak bisa kupilih kisah kesenanganku saja yang boleh KAU hadirkan.

Kini, KAU biarkan pandanganku mengabur karena mataku mulai memanas dan tak lagi bisa kutahan untuk tidak basah. Dua lembar kertas putih dengan bermacam angka dan grafik teronggol di pangkuanku. Pesan yang tertulis pada catatan di kakinya membuat perutku bergolak. Rupanya masih kurang banyak proses yang harus kulalui. Perkara apa lagi yang akan KAU gelar di depanku?

Ujian macam apa ini? Ketika KAU sodorkan setiap kata yang terlalu sering kugelontorkan ketika ada yang lara .. segala perkara dapat kutanggung di dalam DIA yang memberi kekuatan kepadaku – [Filipi 4:13] .. dariMU-lah kekuatan yang memampukan diri tetap tegak meski dayaku di ambang kehampaan.

Kupingku sudah tak bisa menyimak kata – kata yang mengalir dari mulut dokter di depanku, istilah – istilah medis yang dilontarkannya membuatku mual. Angka – angka dan catatan – catatan kaki yang sempat kubaca dari lembar hasil laboratorium dan radiologi sebelum memasuki ruangan putih beraroma karbol itu; beradu di kepala.

“Ibunya jangan ditinggal ya, dalam kondisi seperti ini, pasien akan banyak mengeluh, rewel, dan kesakitan dimaklumi saja … bla … bla … ”
Tak sadar, kupotong penjelasan panjangnya, “Peluangnya berapa persen, dok?”

Aku berusaha tetap tenang menanti jawaban dokter meski emosi diaduk tak beraturan. Di saat bersamaan, selintas, ekor mataku menangkap gerak tubuh perempuan berkemeja putih, dua dari lima dokter muda, yang berada di ruang itu yang ikut menyimak penjelasan dokter, berpelukan. Pikirku, sebagai calon dokter mereka semestinya sudah siap mental ketika menghadapi kondisi yang memerihkan seperti ini, terlebih di depan keluarga pasien. Kenapa mata mereka yang basah saat mulut dokter menyebutkan angka yang aku minta?

Aku membayangkan wajah perempuan berhati baja yang selalu mengunci rapat – rapat laranya. Perempuan kuat yang kukenal sepanjang usiaku, yang menanti di luar ruangan yang ditutup rapat – rapat. Perempuan yang tetap berusaha tampak tegar dan segar meski tubuhnya yang kepayahan, terkulai di kursi roda. Wajah letihnya, dan wajah lelakinya yang pernah menitipkan kekasih jiwanya sebelum dirinya pergi; muncul bergantian, mengaburkan pandanganku.

“… pilihlah kata – kata ringan dan sampaikan sehalus mungkin agar mudah dicerna bla .. bla ..” sayup, suara dokter mengantarkan ragaku kembali ke ruangan itu.

Sedari mimpi itu hadir dan mengusik hariku, di setiap keluh kesahku padaNYA telah kuminta agar membagi perih yang mengikutinya. Sejak itu pula, setiap malam, bantal tidurku harus rela menyerap rembesan air dari retakan tanggul air di kedua mataku. Lebih mudah memilih dan merangkai kata untuk sebuah tulisan daripada memilih kata untuk disampaikan secara lisan agar yang menyimak tak kalut. Dadaku sesak, pandanganku semakin buram. Sepertinya minus lensa mataku bertambah banyak dalam sekejap.

Siapa gerangan ada padaku di sorga selain ENGKAU? Selain ENGKAU tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah ALLAH selama-lamanya. – [Mzr 73:25 – 26]

Dan ketika waktuMU berbicara .. meski hati hancur berkeping, dan perih yang mengikuti datangnya kehilangan yang sama yang terasa sepuluh tahun lalu kembali menyerang; kukuatkan hati tak meratap di punggung perempuan yang telah bertarung nyawa melahirkanku berpuluh tahun lalu. PadaMU, kuserahkan perempuan teguh, yang tak pernah sedikitpun mengeluhkan perih dan meratapi deritanya; menyusul kepergian lelakinya kembali kepadaMU, Sang Empunya Hidup.

Jakarta, Oktober 2017
Kamu ingat malam – malam ketika lelapmu terganggu dengan suara – suara dan bahasa asing yang terlontar dari mulutku? Itu adalah malam ketika mimpi itu berputar – putar di bawah sadarku.

“Gimana kondisi(hati)mu, Lip?”
“Aman terkendali hehe ..”
“Kamu ingat kenapa aku mendorongmu cepat – cepat pulang dari Nanggroe?”

Aku bersyukur diberiNYA banyak – banyak kesempatan untuk merasakan dan menerima retakan di dalam diriku sendiri. Tak ada yang abadi di hidup ini, segala sesuatu ada masanya. Ada saat lahir ada saatnya harus mati, ada saatnya tertawa ada saat untuk menangis, ada saat menanam ada saat mencabut apa yang ditanam. Satu hal yang kuyakini, IA membuat segala sesuatu indah pada waktuNYA. Apalagi yang manusia bisa kerjakan selain BERSYUKUR?

Kamu tahu kenapa kesenanganku tak pupus berjalan dan menyepi menyusuri jejak sunyi? No, bukan karena aku #TukangKuburan!!

Sepi mengijinkanmu mengenali kemuraman yang menyergap saat waktuNYA mendekat. Sepi mendekatkan bathinmu pada Pencipta sepi. Sepi menguatkan jiwamu tetap melangkah ketika jam kehidupan berjalan pelan – pelan hingga yang ada tinggal senyap. Hening.

Aku tak pernah menyesali setiap keputusan – keputusan yang kuambil disaat getirku. Aku berteguh pada setiaNYA, aku yakin DIA selalu beri yang terbaik meski harus melewati proses yang memerihkan.

“Aah, syukurlah.”

Kepergian orang terkasih pastilah menyesakkan. Siap atau tidak, kita akan berhadapan dengannya. Hidup ini milikNYA, satu hari nanti kita pun akan kembali mempertanggungjawabkan semua laku kita di hadapanNYA. Kuatkan dan teguhkan hatimu, saleum [oli3ve].

Advertisements