Lelaki yang Pamit Lewat Secangkir Kopi


Aku mengenal baik lelaki yang senang membakar berbatang-batang rokok sembari menyesap secangkir kopi item. Lelaki yang dengannya, kami – aku dan dia, kadang dengan dua tiga kawan – biasanya duduk di teras rumah kawan atau di warung-warung kopi sembari bercerita ke sana ke mari.

Satu malam, ketika sedang berada di kota Anging Mammiri, satu dari lelaki itu mengajakku mencari warung kopi yang masih buka hingga pagi. Sebenarnya, malam itu, kami baru beberapa langkah keluar dari Kampoeng Popsa yang sudah sepi. Perutku masih penuh setelah menyesap segelas jus pepaya dan dirinya menghabiskan dua botol bintang sembari menikmati lampu-lampu dari kapal-kapal yang bersandar di pelabuhan Makassar. Tapi, dia ngotot ingin ‘ngopi.

Kami lalu menyusuri jalan Ujung Pandang demi secangkir kopi item. Warung pertama yang kami datangi sebentar lagi tutup. Pelayannya berbaik hati ingin membuatkan kopi tapi untuk dibawa pulang saja. “Mana enak?” Serempak kami protes. Kalau sekadar menyeduh kopi, di kamar hotel pun bisa! Dua orang kawan berjalan yang tadinya ingin pula ‘ngopi, memutuskan kembali ke hotel untuk tidur. Mereka tak yakin masih ada warung kopi yang buka hingga pagi di sepanjang jalan yang sudah lengang itu.

Tinggallah kami berdua. Aku belum pernah berjalan berdua saja apalagi selarut ini dengannya. Entah kenapa malam itu kuturuti inginnya, menemaninya mencari warung kopi di jelang pagi. “Kita coba lihat dua tempat lagi ya, Mas. Seingatku di dekat hotelku ada kafe. Kalau semuanya tutup, aku pulang tidur.” Dia manggut-manggut walau mulutnya ikut menggerutu,”Mana asyik ngopi gak bakar rokok, Lip? Cari warung biasa ajalah.”

Kami menemukan sebuah kafe yang menempel di sebelah kelab malam yang buka 24 jam setelah pemilik warung kopi yang kami sasar di seberangnya; menggembok pintunya. Yakin kafenya menyediakan kopi tubruk – dan boleh merokok – kami pun masuk dan sengaja memilih duduk di meja di dekat dinding kaca agar tak langsung terkena angin dari jendela kafe yang dibuka lebar-lebar. Dinding kaca itu membatasi ruang kafe dengan ruang di sebelahnya yang selintas tadi aku baca tulisan berkelip-kelip di atas pintunya; karaoke.

refleksi 2021, tempat ngopi favorit, jam kehidupan, bila sampai waktumu

Lip, loe perhatiin deh .. kenapa orang-orang dari tadi ngeliatin meja kita melulu, ya? Ada yang salahkah dengan penampilan gue?” Kuturunkan cangkir kopi yang sedikit lagi menyentuh mulut dan mengangkat muka sejenak, memperhatikan meja-meja lain lewat kaca hitam yang tembus pandang di belakangnya. Alamak jaaang! Di ruang sebelah, tampak lima orang perempuan muda dengan pakaian kekurangan bahan sedang berdiri di depan seorang satpam yang sepertinya sedang memeriksa bawaan mereka sebelum naik tangga. Ada yang berbaju bulu-bulu tebal berwarna putih – sejak datang kemarin, cuaca di kota ini sedang panas-panasnya – di tempat yang tak pantas, ada yang mengenakan sackdress hitam yang dadanya sangat rendah dan panjangnya lebih mirip kemeja sepaha, yang seorang berbaju merah ketat yang bagian bawahnya terbelah memanjang hingga ke ujung pantat sehingga renda-renda di celana dalamnya tersenyum setiap kali kakinya yang mengenakan sepatu berhak lancip, bergerak-gerak. Dua orang lagi mengenakan pakaian yang tak jauh berbeda dengan tiga kawannya dengan warna yang mencolok. Beberapa perempuan muda lainnya, tampak duduk di sofa panjang. Entah menunggu apa.

Koq senyum-senyum?” dia makin penasaran karena aku dari tadi tidak menjawab pertanyaannya.
“Jangan Ge-eR, Om! Mereka itu liatin orang-orang yang ada di ruang sebelah. Bukan ke meja sini!
Emang di sebelah ada apaan?Kuminta dia memutar badannya pelan-pelan jika ingin tahu apa yang tampak di ruang kaca di belakangnya yang menarik perhatian orang-orang.
Astagfirullaaaaah .. kita salah masuk warung kopi, ya?

Kami menyudahi duduk di kafe kamuflase – untuk menyamarkan aktivitas tempat hiburan malam yang serupa akuarium di sebelahnya – tepat saat ayam berkokok. Di waktu lain, seorang kawan yang lama tinggal di Makassar mengisahkan, di kota ini, tempat semacam itu dikenal sebagai tempat mencari ayam (=perempuan malam). Istilah itu disematkan karena mereka – perempuan yang malam-malam suka duduk di tempat hiburan malam dengan pakaian kekurangan bahan – serupa ayam kebelet yang ingin buru-buru bertelur. Sebagai sesama perempuan, hatiku terganggu mendengarnya. Tak adakah julukan yang lebih wajar untuk mereka?

Seingatku, secangkir kopi item yang dipesannya pada malam atau dini hari itu adalah kopi terakhir yang dinikmatinya di sela-sela embusan asap rokok yang dibakar seijinku – aku hanya membolehkan dirinya membakar sebatang rokok malam itu – saat kami membincangkan banyak hal, ke sana ke mari. Sepulang ke Jakarta, kami lama tak berjumpa. Beberapa kali dia mengajak ngopi tapi jarak dan waktu membuat pertemuan tak pernah mewujud. Hingga satu malam, kutemui dia terbaring tinggal kulit membungkus tulang di ruang ICU sebuah rumah sakit. Melihatku melangkah mendekati ranjangnya, senyumnya melebar. Matanya berbinar-binar serupa anak kecil yang baru saja mendapatkan kado ulang tahun yang diimpikannya,”Akhirnya kamu datang juga, Lip. Ke mana aja?

Dia ingin sekali bercerita banyak hal tentang hari-hari yang dilaluinya kemarin hingga jatuh sakit dan tubuhnya hanya bisa diam di ranjang itu dengan berbagai alat yang terpasang di badannya. Namun suara yang keluar dari mulutnya, tersendat oleh sesak dan batuk. “Gimana kalo aku aja yang cerita, Mas?” Sebenarnya aku tak tahu harus bercerita apa, tapi kucoba menggali ingatan dengan cerita-cerita menyenangkan yang pernah kudengar tentangnya. Ketika hari semakin larut, sebelum pamit dari ruangan itu, kuajak dia berdoa,”Kita doa yuk, Mas. Tapi pakai caraku ya, aku kan gak paham caramu.” Dia mengangguk dan menarik napas pelan-pelan, parasnya riang. Kurapatkan tubuhku ke sisi ranjangnya, sembari kugenggam erat tangannya yang sudah lebih kurus dari tanganku yang kecil. Ketika semua yang ada di ruangan itu tertunduk menutup mata, kuminta kawan lain yang berdoa. Aku tak kuat. Pun kalau aku yang berdoa, kan kupandu masuk doa penyerahan. Bisa panjang urusannya dengan orang-orang dekatnya.

Kabar tentangnya aku terima sepuluh hari setelah pertemuan malam itu lewat pesan singkat dari kawan dekatnya,”Dia sudah pergi, Liv. Baru saja, lima belas menit yang lalu.” Dari kawan lain, kudengar proses dirinya beranjak malam itu. Perginya sedikit susah. Mungkin dirinya masih ingin lekat dengan riuhnya dunia, lebih lagi malam itu beberapa kawan dekatnya berkumpul di ruang tempatnya dirawat. Semua yang hadir berusaha membujuknya untuk pasrah, berserah pada Pemilik Kehidupan. Tapi .. dirinya terus saja gelisah. Tak ada yang bisa menolak ketika Dia, Sang Waktu, mengulurkan tangan dan memanggilmu pulang. Dia tak bisa dirayu apalagi disogok! Siap, tidak siap; waktuNya tak pernah salah.

Esoknya, di siang yang muram, kusempatkan hadir ke tempat peristirahatan terakhirnya di taman pemakaman yang sudah sesak di selatan Jakarta. Banyak kawannya yang datang. Sebagian besar tak kukenal. Hanya saja tatapan yang terpancar dari setiap mata yang hadir, sama. Kehilangan. Aku memilih berdiri di sisi kanan liang lahat, di dekat kepalanya. Tepat saat tubuhnya dibaringkan di tanah, hujan menderas.

refleksi 2021, tempat ngopi favorit, jam kehidupan, bila sampai waktumu

Setahun berlalu. Ketika sedang duduk-duduk saja di kedai makan langganan, dirimu berkabar ingin berjumpa. Kamu datang dengan bersemangat saat matahari di luar jendela mulai meninggi. “Liiip, loe ke mana aja? Kangen dicerewetin sama loe.” Hmm .. baru kali ini kudengar rindu semacam itu. Kurentangkan tangan menyambut tubuhmu yang basah, kupeluk erat-erat. “Gue juga kangen ‘ngomelin loe!” Kita duduk berhadap-hadapan, mulutmu seperti biasa lebih bawel. Tak kau beri aku kesempatan untuk bercerita, hingga kamu minta dipeluk dan pamit, “Aku mesti pergi, ditungguin di kantor. Ntar kita janjian ngopi ya .. ada tempat baru, kamu pasti suka deh.”

Kupandangi punggungmu yang menjauh hingga menghilang dari pandanganku. Di dalam hati aku berdoa kuat-kuat agar kamu bukan lelaki berikutnya, yang pamit lewat secangkir kopi. Bukan karena takut kehilangan. Kamu lelaki yang berbeda. Lelaki yang tak suka dengan asap rokok. Darimu aku selalu mendapat wejangan tentang hidup sehat juga bagaimana hidup lebih berarti dan berkenan padaNya. Namun Tuhan punya skenario yang berbeda. Kamu mendadak pulang, tugasmu sudah selesai walau cerita kita baru saja dimulai. Kamu seperti berangkat tergesa-gesa tanpa sempat pamit demi memenuhi panggilanNya saat kita belum lagi mengatur janji temu dan duduk semeja di kedai kopi kesukaanmu.

Jam kehidupan kita,
hanya sekali diputar.
Dan tak seorang pun sanggup mengatakan:
kapankah jarum ini berhenti?

Cepat ataupun lambat,
akan tiba waktuNYA.
Tak ada kuasa dapat mencegahnya
hanyalah TUHAN Sang Waktu

Jakarta, 10 Desember 2021 pk 12.00

Sebuah refleksi yang ditulis sembari mendengar dan merenungkan lirik tembang Jam Kehidupan-nya Pdt. Chris Manusama. Untuk lelaki-lelaki kesayangan yang acap menemani ‘ngopi dan memberi makna perjalanan hidup ini, yang telah menyelesaikan tugasnya dan tenang di sana. Juga untukmu .. yang sedang berjuang di rumah sakit. Tuhan beri yang terbaik, saleum [oli3ve].

7 thoughts on “Lelaki yang Pamit Lewat Secangkir Kopi

  1. Kok aku menarik nafas panjang setelah selesai baca pos ini. Lalu banyak lintasan kesan yang pernah singgah juga di kepala saat mengalami peristiwa serupa. Peristiwa berpulangnya seseorang itu pasti menorehkan kesan, apalagi mereka yang dekat. Kadang tak dekat pun bisa meninggalkan kesan yang dalam. Sepertinya mba Olive berlimpah hujan berkat terkait peristiwa kepergian seseorang dan bisa menyalurkannya kembali. Sehat-sehat selalu ya…

    1. Latihan napasnya udah mbak Ri? 😉

      Sepertinya mba Olive berlimpah hujan berkat terkait peristiwa kepergian seseorang dan bisa menyalurkannya kembali. Sehat-sehat selalu ya…

      Amiiin. Kepergian tiba-tiba orang-orang di dekat kita, akan selalu menghadirkan keterkejutan bahkan bisa meninggalkan luka yang berkepanjangan jika kita melihatnya dari sisi kehilangan. Tapi ketika kita bisa menerima dan memahami bahwa kita pun sedang antri menujuNya, maka lahirnya cerita-cerita yang bermakna.

      Sehatt-sehat juga ya mbak Ri, Tuhan sertamu

  2. Aku kok jadi membawang matanya baca kisah ini Mbak Olive. Kenapa mereka berdua harus pamit kepadamu dengan kopi? Semoga tawaran kopi berikutnya selalu berakhir bahagia. Amin

    1. Kenapa mereka berdua harus pamit kepadamu dengan kopi?

      Kopi item itu rasanya pahit, tapi para penikmat kopi tetap saja menyenanginya. Hidup pun begitu kan? Jadi aku melihat ‘ngopi itu sebagai jembatan komunikasi-nya, mbak Evi.

      Itu juga terjadi ketika akan berpisah dengan Papaku, kami menikmati secangkir kopi bersama (tepatnya, aku ikut menghabiskan kopi dari cangkirnya) di hari terakhir bertemu beliau.

  3. Kak Oliv, turut bersimpati atas kepergian-kepergian yang telah kamu alami. Kelak ketika bertemu dengan laki-laki penikmat kopi berikutnya, tak perlu kau hadapi lagi pamit yang pahit, namun terus ngopi berdua hingga menua.

    Ngomong-ngomong, aku juga penikmat kopi tanpa rokok.

    1. Kelak ketika bertemu dengan laki-laki penikmat kopi berikutnya, tak perlu kau hadapi lagi pamit yang pahit,

      Terima kasih kk Nugi,
      hmm .. setelah kepergian-kepergian itu & melihat proses kepergian orang terdekat; aku tak melihatnya sebagai pamit yang pahit tapi disadarkan bahwa hidup ini harus memberi makna bagi orang lain.

      Semangat ngopi sehat kk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s