MerinduMU Menyapa Pagi

Benteng Inong Balee, Benteng Malahayati, Laksamana Malahayati, Inong Balee

Happiness is when what you think, what you say, and what you do are in harmony – [Mahatma Gandhi]

Pagi yang dinanti itu datang juga. Sebait syukur dipanjatkan padaNYA yang selalu setia menuntun langkah dan tak pernah bosan menyayangi jiwa. Di pagi yang dinanti itu; kembali tersungkur dalam diam. Berterima kasih masih bisa menghela napas, memenuhi rongga paru dengan udara pagi dan diberi kesempatan untuk melihat dunia.

Berkemas. Sebuah pertemuan telah disepakati dari beberapa bulan sebelumnya. Pertemuan yang waktunya telah berkali-kali berganti karena kesibukan yang menyertainya. Percaya, tak ada yang terjadi secara kebetulan. Di antara kesibukan itu, diberinya kita kesempatan untuk menyiapkan hati menyambut pertemuan ini, bukan? WaktuNYA tak pernah terlambat, meski harus melewati proses penantian panjang yang terkadang melelahkan dan mulai membosankan. Continue reading “MerinduMU Menyapa Pagi”

Mengenang Keumala


Lamreh, 14 Juni 2013
Mentari mulai turun kala langkah kembali menjejak di kaki Bukit Malahayati

Hanya kami berdua menghitung langkah meniti seratus empat puluh anak tangga ke bukit itu berkawan siulan bayu dan desah dedaunan kering yang saling berpagut di bawah redup mentari senja. Di kejauhan lenguh sapi yang asik memamah rumput kering makan sorenya memecah sepi, tak peduli dengan alam yang menggelap.

Langkahku terhenti jelang puncak bukit. Satu tepukan lembut di pundak kanan yang menyalurkan energi panas mengunci tubuh sehingga tak kuasa untuk bergerak.

makam malahayati
Bukit Malahayati, tempat peristirahatan Laksamana Malahayati

Kuturunkan backpack yang menggantung di punggung, pikirku .. mungkin beratnya yang menghambat langkah. Hmmm … rasanya dua botol air mineral 660 ml bekal yang masih tersisa tak akan memberatkan. Lalu kenapa langkah tertahan di sini? dan tangan siapa gerangan yang mengalirkan udara hangat di sekujur pundak? Continue reading “Mengenang Keumala”

Keumala, the Power of Nanggroe

benteng inong bale

Roda kendaraan menggelinjang menuruni jalan berbatu, sesekali dihindarinya gelitikan semak belukar dari kiri kanan jalan yang berebut menggapai tubuhnya. Melihat kondisi jalan yang kami lalui, bisa dipastikan sangat jarang kendaraan yang sengaja untuk berlalu lalang di sini.

Jelang tujuan, mata berulang menyusuri kembali pesan-pesan yang dikirimkan oleh sang Penerima Pesan sehari sebelum berangkat ke Nanggroe. Petuah untuk menyiapkan hati menghalau kecewa jika nanti mendapati hal yang jauuuuuuuh dari harapan bila bertandang ke benteng IBU.

“Jangan lewatkan pemandangan indah menuju benteng.”
“Kalau ke benteng jangan sedih ya, di sana tak ada satu pun yang tersisa.” Continue reading “Keumala, the Power of Nanggroe”

Keumala, the Soul of Nanggroe

makam malahayati

Tempat impian yang selama dua tahun hanya terbayang-bayang di angan kini di depan mata. Dari tempat kaki berpijak, belumlah tampak jelas karena terhalang dedaunan yang meneduhi peristirahatan di atas bukit. Meski panas cukup terik, semilir angin menebar sejuknya di sekitar Bukit Malahayati.

Taklah mudah berdiri tegapĀ  di atas kedua kaki yang gemetar menahan gemuruh yang merambat dari dalam dada. Taklah mudah tetap terlihat tenang ketika hati ingin jejeritan, ketika air mata haru dan bahagia berlomba untuk unjuk rasa. Sejenak berdiam meredakan emosi syukur terangkai bagiNya, Sang Penuntun yang telah menghentar kaki ke tempat ini.

Continue reading “Keumala, the Soul of Nanggroe”

Keumala, the Spirit of Nanggroe


Pantai Ujong Batee, selintas tulisan pada papan penanda tempat wisata di Jl Krueng Raya, Aceh Besar tertangkap ujung mata. Sekitar 200 meter dari sana, kami berhenti di bibir pantai yang senyap menanti beberapa kawan yang menyusul dengan kereta (=sepeda motor).

Langit berselimut awan kelabu. Sang surya yang biasanya tampil gagah turut bermuram durja melengkapi Minggu pagi yang sepi di penghujung Pebruari 2013. Kaki diayun di atas hamparan pasir yang berlomba memeluk erat pori-pori kaos yang membalut jemari kaki. Di pantai itu hanya terlihat satu keluarga kecil menikmati berendam dalam air laut yang mereka bendung di tepian. Continue reading “Keumala, the Spirit of Nanggroe”

Keumala, Seusai Perjalanan


dengan kereta malam ku pulang sendiri
mengikuti rasa rindu pada kampung halamanku
pada ayah yang menunggu
pada ibu yang mengasihiku

duduk di hadapanku seorang ibu
dengan wajah sendu, sendu kelabu
penuh rasa haru ia menatapku
penuh rasa haru ia menatapku
seakan ingin memeluk diriku

Mendadak tembang “Perjalanan”-nya Franky dan Jane Sahilatua menjadi bekson penerbangan malam Cengkareng – Banda Aceh (Jumat, 22/02/13) yang tertunda 2 (dua) jam karena keterlambatan singa udara. Hmmm … this is the time. Saya menarik napas dalam-dalam menatap kilau cahaya Jakarta di waktu malam yang perlahan hilang dari pandangan. Tak ada was-was sama sekali meski berangkat seorang diri ke Serambi Mekkah, Continue reading “Keumala, Seusai Perjalanan”