Jerit Rindu dari Lingko Bukit Rengge Komba

jerit rindu dari lingko bukit rengge komba, endang moerdopo, konflik tanah ulayat satarpunda, konflik tambang mangan di manggarai

Kehadiran tambang mangan di Bukit Rengge Komba menumbuhkan harap akan kehidupan yang lebih baik bagi warga Desa Satarpunda yang tinggal di dua kampung; Satarteu dan Serise. Dulu, di awal hendak berjalannya kegiatan penambangan, mereka memberi ijin kepada PT. ANADI SAKTI untuk melakukan operasi tambang di tanah mereka. Semoga kehidupan lebih sejahtera.

Tapi, apa yang kemudian terjadi?

Warga Desa Satarpunda terpecah ke dalam dua kelompok: pro dan kontra pada kehadiran tambang di Bukit Rengge Komba itu. Bukit yang tadinya hijau; terluka dan kerontang. Tanahnya menghitam. Debu menutupi lahan, dari kebun hingga ke perabotan di dalam rumah. Keluarga terpecah. Hubungan kekerabatan merenggang. Kehidupan menjadi sangat tak nyaman. Terlebih bagi mereka yang tinggal di Kampung Serise, yang turut merasakan pilu dan terluka karena alamnya dilukai.

Bukit Rengge Komba adalah tanah ulayat. Secara linko – hukum adat, bukit yang berdiri di perbatasan Satarteu dan Serise, masuk dalam wilayah Kampung Serise. Tak habis penyesalan Tua Teno Sina – tetua adat yang berwenang terhadap tanah adat, karena dulu ia juga turut menyetujui kehadiran tambang itu. Ia tak pernah menyangka akan dampak yang ditimbulkan karena kesewenang – wenangan perusahaan dalam mengelola penambangan. Makin dalam sesal dan rasa bersalahnya pada warga Serise karena Urbanus Sina, adiknya, berada di pihak perusahaan yang telah membuat orang kampungnya banyak menderita.

Jerit Rindu dari Lingko Bukit Rengge Komba, Kampung Serise, Konflik Tambang di Manggarai, dampak tambang bagi masyarakat manggarai

Ketika hasil ladang siap panen habis digerus air limbah yang hitam dan tak ada lagi yang bisa dimakan. Ketika tanah harapan rusak, Bukit Rengge Komba menjadi gundul dan penuh lubang menganga bekas galian. Ketika satu – satu warga jatuh sakit bahkan hidupnya harus berakhir karena lingkungan yang sudah tak sehat, setiap hari hidup jadi terasa di ujung maut. Dan Jerit Rindu dari Lingko Bukit Rengge Komba terus saja menggema. Lalu, bagaimana bertahan hidup?

Kita memang pernah salah. Tapi kita menyadari bahwa kita salah, oleh karenanya saat ini kita harus berjuang untuk memperbaiki kesalahan agar menjadi benar. Maka sekarang kita bangkit, bertahan untuk selalu benar … – [Mama Flora]

Hidup bukan semata hidup saja tetapi harus diperjuangkan. Masalah harus dicarikan jalan keluar bukan didiamkan, apalagi saling menyalahkan. Tua Teno Sina bangkit bersama warga adatnya untuk memperjuangkan kampung mereka. Memperjuangkan kehidupan di Lingko Bukit Rengge Komba. Dibantu Pater Yanuar, pastor yang bertugas di Satarpunda; mereka mengadakan pertemuan demi pertemuan dan mulai menyusun strategi untuk bergerak.

Tidak mudah, karena pihak – pihak berwenang yang mereka temui untuk diajak berbincang lebih banyak memikirkan dirinya sendiri. Tak peduli pada apa yang dialami warga Serise. Termasuk warga Saterteu, saudara mereka sendiri, yang tak pernah merasakan dampak dari operasi tambang di Bukit Rengge Komba. Tapi mereka harus terus berusaha, berjuang!

Jerit Rindu dari Lingko Bukit Rengge Komba, Kampung Serise, Konflik Tambang di Manggarai, dampak tambang bagi masyarakat manggarai, endang moerdopo

Kesempatan datang. Dibantu pihak Gereja Katolik, kelompok LSM, dan aktivis lingkungan hidup; warga Serise berhasil menduduki lokasi tambang selama beberapa hari tanpa kekerasan. Di tempat itu, mereka melangsungkan upacara adat takung ceki ari lewak lingko – persembahan kepada nenek moyang karena tanah adat yang sudah hancur dipimpin Tua Teno Sina, juga mengadakan misa raya dipimpin Bapa Uskup. Segala rasa tertumpah di situ hingga satu – satu pemimpin mereka harus undur karena “diamankan”.

Di tengah berjuang, Pater Yanuar mendadak mendapat mandat pemindahan tugas ke Jakarta. Tua Teno Sina harus merasakan tidur di ruang berjeruji besi. Setiap perjuangan butuh perngorbanan. Meski menjadi korban dan menerima dampak perbuatan orang lain. Namun harus diingat, semua kembali kepada tekad dan tujuan awal bergerak.

Jerit Rindu dari Lingko Bukit Rengge Komba, sebuah karya yang dipersembahkan Endang Moerdopo untuk masyarakat adat Kampung Serise; dipublikasikan pada September 2018. Beranjak dari kisah nyata, kehidupan di Desa Satarpunda, Manggarai Tumur, Nusa Tenggara Timur ketika aktivitas tambang mangan menjadi pemicu munculnya banyak konflik. Terpisahnya keluarga hingga gesekan politik, pun ada romansa terlarang yang tumbuh di tengah perjuangan warga untuk bangkit melawan kesewenang – wenangan.

Konflik yang melatarbelakangi buku ini sebenarnya rumit. Seputar keruwetan hubungan manusia dengan sesama pun dengan lingkungannya. Namun penulis menuturkannya dengan bahasa yang ringan sehingga tak perlu kening berkerut untuk mencerna makna tersurat maupun tersirat,  yang ada di dalamnya. Pesan – pesan disampaikan tanpa kesan menggurui sehingga membacanya pun tak perlu sembari berkeluh – kesah karena merasa dikuliti. Apa yang terjadi di Serise, terjadi juga di kehidupan keseharian kita meski pokok perkaranya berbeda.

Jerit Rindu dari Lingko Bukit Rengge Komba, Kampung Serise, Konflik Tambang di Manggarai, dampak tambang bagi masyarakat manggarai, endang moerdopo

Sarat pesan moral bagaimana tetap hidup waras di tengah ketidakwarasan. Bagaimana tetap menjaga hubungan baik dan hidup saling menghormati meski kehormatan diinjak – injak saudara sendiri. Bagaimana tetap bersyukur dan mengingat Tuhan meski hidup susah. Runyam? Iya, emosi diaduk – aduk mengikuti alur cerita hingga konflik memuncak dan membawamu lebur dalam kelindan rasanya menggapai orgasme.

Jangan pernah memendam dendam … saat hati dan rasa harus dibungkus dalam kemasan yang seharusnya .. yang semestinya .. biarlah hanya aku, dia, dan DIA yang tahu. Biar para penonton cukup hanya menikmati sajian drama hidup ini dengan baik dari kurisnya masing – masing. Tanpa perlu melihat kesibukan dan kerepotan kita di blalik layar panggung pertunjukan. – [Pater Yanuar]

Endang Moerdopo meramu kisah dari Lingko Bukit Rengge Komba lewat perjalanan imamat Pater Leonardus Yanuar Tan yang kembali ke Desa Satarpunda setelah dua puluh tahun meninggalkan daerah tugasnya itu. Ia bertutur lewat kumpulan kenangan tentang perjuangannya bersama warga Serise menuntut pemulihan di Lingko Bukit Rengge Komba. Tentang pergumulan rasanya dengan Rona, anak Urbanus Sina yang tak dapat dihindari sebagai manusia biasa yang masih dibalut daging yang disimpannya rapat – rapat. Pun aturan dan norma gerejawi serta pilihan – pilihan sulit yang harus dijalani agar tetap teguh pada panggilan imamat.

Walau terpuaskan, ada satu hal yang membuat saya gemas untuk mengkritisi Jerit Rindu dari Lingko Bukit Rengge Komba dari tata penulisannya. Paling banyak kekeliruan penulisan dan penempatan “di” sebagai kata sambung dan imbuhan. Kekeliruan ini terjadi dari bab awal hingga akhir! Banyak sekali. Bahkan typo dan kurangnya penempatan tanda baca sudah terjadi di Daftar Isi.

Jerit Rindu dari Lingko Bukit Rengge Komba, Kampung Serise, Konflik Tambang di Manggarai, dampak tambang bagi masyarakat manggarai, endang moerdopo

Mungkin bagi pembaca yang tak terlalu memperhatikan hal – hal detail, ini perkara sepele.  Buat saya, ini hal krusial dalam dunia literasi khususnya tulis menulis. Merusak pemandangan! Jari saya jadi gatal dan terpaksa mencorat – coret setiap lembar yang dibaca. Kekeliriuan semacam ini sangat umum terjadi karena ketidaktelitian ataupun ketidakpahaman saat penulisan. Bisa karena tergesa – gesa menulis dan tak sempat lagi mengoreksi apa yang telah ditulis. Penyunting bukunya pun abai untuk mengoreksinya. Bisa pula awalnya sudah benar, lalu dikoreksi menjadi salah kaprah. Ya … hanya kau, dia, dan DIA yang tahu.

Meski sudah pernah menyentuh dan sering membawanya berjalan sejak akhir 2018; Jerit Rindu dari Lingko Bukit Rengge Komba tak pernah tuntas dibaca. Kemarin, saya dapat kiriman bukunya (lagi) dari Ibu EM, penulisnya. Bisa jadi karena ada dorongan energi yang menjadi kobar semangat sehingga sekali duduk, tuntaslah ia dibaca. Jadi, usai pandemi, ke timur kita? saleum [oli3ve].

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s