Tags

, , , ,


dengan kereta malam ku pulang sendiri
mengikuti rasa rindu pada kampung halamanku
pada ayah yang menunggu
pada ibu yang mengasihiku

duduk di hadapanku seorang ibu
dengan wajah sendu, sendu kelabu
penuh rasa haru ia menatapku
penuh rasa haru ia menatapku
seakan ingin memeluk diriku

Mendadak tembang “Perjalanan”-nya Franky dan Jane Sahilatua menjadi bekson penerbangan malam Cengkareng – Banda Aceh (Jumat, 22/02/13) yang tertunda 2 (dua) jam karena keterlambatan singa udara. Hmmm … this is the time. Saya menarik napas dalam-dalam menatap kilau cahaya Jakarta di waktu malam yang perlahan hilang dari pandangan. Tak ada was-was sama sekali meski berangkat seorang diri ke Serambi Mekkah, hanya ada rasa rindu yang teramat dalam pada kampung halaman (?). Agak aneh sih, tapi memang seperti mau mudik ke kampung sendiri, Toraja.

Perempuan Keumala

Siap-siap terbang malam bersama Perempuan Keumala

Senyum manis menyembul di wajah ibu yang duduknya dibatasi satu bangku kosong di sebelah kanan saya. Sepintas matanya melirik Perempuan Keumala yang tergolek di pangkuan, suaranya lembut memecah senyap,”Mau kemana dek?
“Ke Aceh, Bu.”
“Sendiri saja?” pandangannya penuh selidik namun wajahnya tetap memancarkan teduh. Saya membalas dengan anggukan disertai senyum lebar dan mata yang tak mau berhenti berkedip.

Aaaaah, wajah teduh penuh senyum itu sepertinya tak asing; entah dimana pernah menjumpainya. Iseng menggali memori ke warung-warung dan rumah makan mie Aceh seputar Jakarta tapi tak ada petunjuk dimana pernah bersua. Tanpa dikomando, tatapan kami kembali bersirobok sebelum senyumnya tenggelam dalam lembaran buku tebal yang terbuka lebar di depannya. Kudekap Perempuan Keumala, meresapi detik demi detik perjalanan yang telah lama dinanti. Karenanya rindu ini tersimpan untuk Nanggroe, karenanya kaki ini kembali ke Serambi Mekkah, tuntaskan rindu pada IBU, Laksamana Keumalahayati.

Buuummmmmm! Pijakan kasar roda pesawat mencumbu bumi di landasan Polonia, Medan menghentak alam sadar. Gilaaaaa ya, ini pilotnya gak romantis banget deh! Bangunin orang dari mimpi gak pakai perasaaan. Jelang pk 23 dan perut mulai merengek karena hanya diisi dengan sebungkus roti pisang coklat sisa jatah sarapan yang terbawa hingga ke ruang keberangkatan tadi sore. Niat awal mencari cemilan di darat tak kesampaian jadikan air mineral yang tersisa sebagai pelipur lapar. Waktu 20 menit transit molor menjadi 30 menit digunakan untuk meluruskan kaki di dalam kabin sambil sesekali melirik penasaran ke wajah teduh si ibu.

40 menit penerbangan Medan – Aceh menjadi momen paling sentimental berdulang emosi bak sinetron. Meski mata dilanda kantuk dan susah payah ingin diistirahatkan, tak sekejap pun pulas. Pandangan ke ibu berwajah teduh kini terhalang oleh bapak berbadan tegap yang duduk ngorok di antara bangku kami. Ada rindu yang tiba-tiba menyerang membuat pantat duduk gelisah ingin segera menjejak di tanah Nanggroe.

Sabtu (23/02) dini hari tepat pk 00.00, singa udara mencengkeram landasan Sultan Iskandar Muda (SIM) tanpa basa basi. Entah pilotnya dah capek atau memang bawaannya kasar; kayak sopir metromini yang main berhenti sesuka hati untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Ibu berwajah teduh memandang dari balik bahu bapak berbadan tegap, melemparkan senyum sebelum beranjak meninggalkan bangkunya,”Selamat datang di Aceh dek!” Tersenyum di antara mata yang sembab menahan kantuk, saya melambaikan tangan perpisahan pada si ibu.

“IBU, aku pulang!” gak ngerti, kenapa kalimat itu meluncur tiba-tiba dari bibir yang bergetar. Kucium Perempuan Keumala, mendekapnya dengan erat, mengangkat tangan pada Sang Khalik diiringi syukur atas tuntunanNya membawa langkah kembali ke Aceh dalam kurun 4 (empat) bulan setelah kunjungan pertama di pertengahan Oktober 2012 lalu.

benteng inong balee

Menyusuri jejak Ibu di Benteng Inong Balee  *foto ulang dengan hp dari kamera bang Faisal*

Sekelompok bule brondong melangkah terkantuk-kantuk memandang aneh tingkah seorang perempuan muda yang asik mengangkat-angkat tangan dan berkomat-kamit di sisi pesawat di pagi buta. Agghh, sudahlah mereka gak tahu saya sedang mentransfer energi hahaha. Tangan direntangkan selebar-lebarnya menghirup udara tanah impian yang selalu memanggil untuk kembali.

Usai ritual kecil itu, kaki melangkah ke ruang kedatangan menjumpai rakan dari I Love Aceh yang menjemput di pintu keluar. Dari Blang Bintang, Aceh Besar kami beriringan naik kereta menuju kota Banda Aceh ditemani bulan purnama. Hari ini ditutup dengan sepiring mie tumis Aceh untuk menghangatkan perut. Oh maaaaaak! cantiknya perjalanan ini. Pk 03.00 di kamar teratai sebuah penginapan kecil di sudut Banda Aceh, mata ini akhirnya terlelap penuh senyum memeluk Perempuan Keumala.

Selasa, 12 Maret 2013 .. selepas senja
Dua minggu setelah kepulangan dari tanah rencong. Saat baru menjejak kembali di Batavia usai perjalanan ke Semarang dan Lasem, saya meluncur dari Soekarno Hatta untuk menjumpai sosok yang telah banyak menginspirasi, menumbuhkan cinta serta kekaguman pada Laksamana Keumalahayati dan Aceh.

Senyum, pelukan hangat dan sebuah tonjokan penuh kasih mendarat halus di pipi menyambut kedatangan saya di sebuah rumah yang teduh di daerah Mampang. Ini pertemuan kedua setelah perjumpaan singkat kami pada malam penganugerahan Indonesian Women of Change Awards di @america Pacific Place seminggu sebelumnya. Lebih rileks, lebih akrab tanpa terasa ngobrol dari A-Z tentang Aceh tentang asa hingga obrolan gak penting jelang tengah malam.

pelabuhan malahayati

Pelabuhan Malahayati dipandang dari Benteng Inong Balee

sebuah energi besar
yang telah mempertemukan kita ..
pendar warna menyatu
dalam dahsyat negeri KEUMALA

Setelah dua tahun merindu, penggalan oretan tangan di buku Perempuan Keumala di atas menjadi saksi perjumpaan malam itu. Adalah anugerah pada akhirnya berpelukan dengan penulis idola, aiiiih berasa mengejar artis pujaan. Dampak jadi pejalan yang gak suka foto narsis, LUPA untuk mendokumentasikan momen berharga. Bu, tolong ingatin di pertemuan berikutnya saya mau foto bareng hahahaha.

Jakarta, 14 Maret 2013
Sepenggal catatan awal perjalanan menyusuri jejak Laksamana Malahayati di Krueng Raya, Aceh. Tulisan ini didedikasikan untuk ibu Endang Moerdopo, penulis novel sejarah Perempuan Keumala untuk inspirasi, cinta dan kasihmu. I Love you ibuuuuu!

Terima kasih teramat sangat untuk:

  • Rakan-rakan komunitas I Love Aceh yang menemani selama di Aceh : Aulia, Wanti, Iqbal, Liza dkk.
  • Ari “buzzerbeezz” Murdiyanto untuk petualangan seru mencari jejak Panglima Polem hingga Teungku Cik Di Tiro, masih ngiri dan penasaran sama sunsetnya bukit Jackie Chan dan Uleu Lheu.
  • Bang Faizal dari Aceh Adventure, what a great adventure! bagi candid foto-foto saya donk selama bertualang di Aceh😉
  • Bang Darzam dari Lubok Sukon, sambal ganja dan kopi itam di kedai kopi tepi sawahnya sungguh nikmat mengingatkan pada Toraja. Satu hari nanti, saya pasti kembali ke Lubok Sukon bang!
  • Kompasianer Hadi Sianak Desa yang menemani sepanjang hari terakhir di Aceh menyusuri makam-makam tua, asik kan main ke kuburan hahaha *senang “meracuni” seorang agam menikmati kuburan*
  • Poetri Moore yang gak sodaraan sama Demi Moore, ntar kalo saya balik ke Aceh kita jalan malam lagi ya cari itu kopi ganja😉
  • Bang Udi, mbak Yenny so sorry gak sempat berjumpa, next visit kita harus bertemu (lagi).
  • Untuk rakan-rakan muda yang memenuhi Taman Budaya Banda Aceh, Sabtu (24/02/12) lalu: jempol untuk kalian semua! keep the spirit on!