Tags

, , , , , ,


Tempat impian yang selama dua tahun hanya terbayang-bayang di angan kini di depan mata. Dari tempat kaki berpijak, belumlah tampak jelas karena terhalang dedaunan yang meneduhi peristirahatan di atas bukit. Meski panas cukup terik, semilir angin menebar sejuknya di sekitar Bukit Malahayati.

Taklah mudah berdiri tegap  di atas kedua kaki yang gemetar menahan gemuruh yang merambat dari dalam dada. Taklah mudah tetap terlihat tenang ketika hati ingin jejeritan, ketika air mata haru dan bahagia berlomba untuk unjuk rasa. Sejenak berdiam meredakan emosi syukur terangkai bagiNya, Sang Penuntun yang telah menghentar kaki ke tempat ini.

Malahayati

The Grave


Perempuan Keuamala

Demi masa …

Hati memulai perdebatannya sendiri; satu sisi ingin memacu langkah berlari, agar segera sampai di puncak bukit. Sisi yang lain berteriak, ingin mengatur langkah satu demi satu demi menikmati setiap tapak yang dijejakkan di tempat ini. Va dove ti porta il cuore! Pada akhirnya sepakat untuk melangkah dengan kecepatan  sedikiiiiit di atas rata-rata agar tapak demi tapak tetap bisa dinikmati untuk segera menemui Ibu di atas sana.

Peluh mengalir di sekujur tubuh, tinggal selangkah menapaki anak tangga terakhir untuk menggapai peristirahatan yang dikelilingi pagar hijau.

Assalammu’alaikum, IBU aku pulang,” getar hati menebar rindu pada Ibu Negeri. Kuusap peluh yang mengalir di wajah dengan punggung tangan sambil menurunkan backpack di sisi pusara pujaan hati, Laksamana Keumalahayati.

makam malahayati

Menjumpai IBU di bukit Malahayati (dok. Aceh Adventure)

Demi masa, kini ialah yang berkuasa. Untuk memanggil kembali anak-anak bangsa yang lengah tertidur pulas, tanpa ingat perjuangan nenek moyang merebut kemenangan dengan bertaruh nyawa. Untuk ingatkan kembali mereka, anak-anak bangsa, agar terbangun dari mimpi panjang, dalam hidup bergelimang kesenangan. Pedang dan anak panah telah kusematkan di punggungnya, di darahnya akan terembus angin Sang Kuasa. …. Hai anakku, Putroe Jeumpa, jangan pernah jauh dariku. Rinduku pada kebenaran dan kebajikan telah membawamu dari tempat yang jauh di seberang sana untuk kini berada di dekatku. Tajamkan hati agar naluri menjadi kendali. Ibu ada di sini …” [Perempuan Keumala, hal. 348 – Endang Moerdopo].

Ingatan melayang pada hari kedatangan ketika kunci kamar disodorkan di penginapan untuk beristirahat.

Teratai 309! Teratai adalah lambang kesucian dan kesuburan, DAN di pusara IBU ada 3 mahkota teratai!! kebetulan??? Tak ada yang hadir secara kebetulan ketika semua sudah digariskan untuk dijalani, taklah kuasa menampik ketika panggilan hati menjerit untuk menautkan rindu.

Perempuan Keumala

Tak ada yang kebetulan

Tinggal kubur kini hening, sepi menanti
Langkah-langkah baru tunas pengganti
Hai Inong Nanggroe, bangkitlah berdiri
Di tanganmu kini jiwa Aneuk Negeri
[Perempuan Keumala, Endang Moerdopo]

Takkan padam kobar semangat yang telah kau sulut berabad silam. Kupenuhi panggilanmu yang menuntun getar jiwa melangkah ke Negerimu hai Perempuan Keumala. Beristirahatlah Ibu, kan kusampaikan rindumu akan tenteramnya negeri ini. Terima kasih telah berjuang untuk negeri Keumala, untuk Nanggroe, untuk Indonesia!

Sebelum kaki mengajak melangkah ke Benteng Inong Balee, mata tak henti memandangi pusara IBU, masih ingin habiskan waktu bersama. Aaah IBU, rindu ini belumlah tuntas. Aku pasti kembali, menuai rindu yang telah disemai di sini, di bukit ini, tempat yang teduh untuk merangkai asa akan kedamaian yang tercipta di negeri tercinta, Nanggroe!

Sebuah persembahan kasih untuk Ibu Endang Moerdopo yang telah meracuni naluri dengan rangkaian kata yang terlahir dari Perempuan Keumala. Langkah ini pembuktian cinta pada Negeri Keumala. Lon cinta Aceh! Saleum dari Aneuk Negeri Nanggroe [oli3ve].

*special thank untuk Ari Buzzerbeezz yang menemani hingga rindu ini tersampaikan dan langkah rela beranjak dari bukit .

Advertisements