Indo Kaboro


Rasanya seperti ada sepuluh matahari yang bergelayutan di langit Aceh, Jumat siang itu. Ketika para lelaki bersiap mengayun langkahnya ke masjid, dan kuhitung napas dengan menapakkan kaki satu Рsatu mendaki lereng Lamreh tuk menyusuri jejak yang pernah kutitipkan di sana; ia tegak di atas kepala. Jalannya tak mudah, serpihan batu kapur yang berserakan di jalur naik Рtak ada setapak di sana, langkah diayun mencari jalannya, mengikuti rasa  Рsesekali tapak kasutku yang licin tergelincir saat ia menindih bulir Рbulir batu kapur itu.

Continue reading “Indo Kaboro”