Indo Kaboro


Rasanya seperti ada sepuluh matahari yang bergelayutan di langit Aceh, Jumat siang itu. Ketika para lelaki bersiap mengayun langkahnya ke masjid, dan kuhitung napas dengan menapakkan kaki satu – satu mendaki lereng Lamreh tuk menyusuri jejak yang pernah kutitipkan di sana; ia tegak di atas kepala. Jalannya tak mudah, serpihan batu kapur yang berserakan di jalur naik – tak ada setapak di sana, langkah diayun mencari jalannya, mengikuti rasa  – sesekali tapak kasutku yang licin tergelincir saat ia menindih bulir – bulir batu kapur itu.

Continue reading “Indo Kaboro”

Pieter de Bruijn

Siron Mass Grave

Matahari hanya diam, ia memandangiku dengan muka ditekuk-tekuk. Belumlah waktunya makan siang, namun dirinya tampak sudah terlalu lelah dan hendak menangis saja. Harusnya yang tersedu si Darlang, yang berdiri tanpa kepala di depanku. Kepalanya hilang entah kemana. Aah, keterlaluan sekali mereka yang tega memisahkannya dari si empunya badan. Beruntung aku melihatnya di saat matahari masih ada, sehingga tak perlu khawatir berlebihan saat menjumpainya menyendiri di sudut kerkhof.

Apa yang membuat orang menghancurkan jejak masa, sebuah karya yang seharusnya bisa dinikmati oleh generasi yang lahir jauh setelahnya? Uangkah? Kebanggaaankah? Kepongahankah? Atau kebencian?

Pikiranku sedang berputar-putar memikirkan semua itu ketika lelaki di depanku ini mendadak muncul dari belakang Darlang. Lelaki berkulit hitam, yang sorot matanya tajam, yang raut mukanya terlihat bersahabat meski tampak kikuk berhadapan dengan orang yang baru dijumpainya.

Continue reading “Pieter de Bruijn”

MerinduMU Menyapa Pagi

Benteng Inong Balee, Benteng Malahayati, Laksamana Malahayati, Inong Balee

Happiness is when what you think, what you say, and what you do are in harmony – [Mahatma Gandhi]

Pagi yang dinanti itu datang juga. Sebait syukur dipanjatkan padaNYA yang selalu setia menuntun langkah dan tak pernah bosan menyayangi jiwa. Di pagi yang dinanti itu; kembali tersungkur dalam diam. Berterima kasih masih bisa menghela napas, memenuhi rongga paru dengan udara pagi dan diberi kesempatan untuk melihat dunia.

Berkemas. Sebuah pertemuan telah disepakati dari beberapa bulan sebelumnya. Pertemuan yang waktunya telah berkali-kali berganti karena kesibukan yang menyertainya. Percaya, tak ada yang terjadi secara kebetulan. Di antara kesibukan itu, diberinya kita kesempatan untuk menyiapkan hati menyambut pertemuan ini, bukan? WaktuNYA tak pernah terlambat, meski harus melewati proses penantian panjang yang terkadang melelahkan dan mulai membosankan. Continue reading “MerinduMU Menyapa Pagi”

Perempuan Pengutip Kerang


Aku mematung di ujung Indra Patra, memandang mentari beranjak memunggungiku. Dia mengijinkanku menyaksikan senja mencumbui cakrawala, menghantarkan desah binarnya memancarkan rindu pada tembok-tembok bisu yang padanya kaki kujejakkan. Ini kali pertama dirinya membiarkanku menikmati kemesraan senja, setelah berkali harapku pupus dilerai derai hujan.

benteng indra patra, sejarah benteng di aceh
Bagian belakang Benteng Indra Patra

Pikirku, mungkin ini hari yang istimewa. Atau … sapa rindu penebus kesalahan setelah melewati hitungan tahun untuk kembali menjejak di sini. Entahlah, aku tak ingin berdebat. Aku hanya ingin menikmati senyum puas senja, usai memagut-magut setiap jengkal benteng yang telentang di hadapannya. Mencoba memindai setiap gerak-geriknya, tuk kuceritakan bila nanti kita berjumpa. Entah kapan. Menebaknya aku meragu. Hanya jejak yang kutitipkan di gerbang Indra Patra dengan sejuta asa kupasrahkan pada sang waktu. Continue reading “Perempuan Pengutip Kerang”

Manuskrip dari Aceh

asa untuk nanggroe, harapan untuk nanggroe, monumen tsunami aceh

Aku beringsut dari balik selimut di saat sebagian besar penghuni bumi lebih memilih untuk meringkuk di kehangatannya. Saat gelap masih menyelimuti cakrawala dan dingin sedikit menusuk, aku memilih mengantri di depan petugas bandara. Menunjukkan boarding pass, bergegas memanggul Meywah dan Onye mencari tempat bersandar untuk memejamkan mata sebentar saja. Namun, sebentar menjadi sangat langka.

Di ruang keberangkatan, obrolan tentang perjalanan tak dapat ditampik mengisi waktu penantian terbang saat bersua dengan Vera, teman berjalan. Ya, stasiun bus/kereta, terminal keberangkatan/kedatangan, dan destinasi yang dilalui adalah tempat para pejalan dipertemukan. Pertemuan di tangga toilet ruang keberangkatan membuatku sebentar  lupa pada kantukku hingga penantian itu berakhir jua pada pk 05 kurang sedikit ketika pengeras suara memanggil calon penumpang yang akan terbang ke Medan dan Banda Aceh masuk ke pesawat.

perpustakaan ali hasjmy, ali hasjmy, perpustakaan banda aceh, zentgraaff, sejarah aceh
Menyelami Aceh di Perpustakaan dan Museum Ali Hasjmy, Banda Aceh

Continue reading “Manuskrip dari Aceh”

Merindu di Victoria Fountain

merdeka square, dataran merdeka, kuala lumpur

… Merdeka Square pagi itu …

Seorang lelaki tuna wisma masih terbuai mimpinya ketika kaki melintas di depan bangku taman tempatnya lelap, di sisi lapangan berumput hijau. Tak terganggu cekikikan perempuan yang tampak saling memotret di seberang Gedung Abdul Samad. Kaki terus  kuayun hingga ke depan Kuala Lumpur City Gallery, dimana sekelompok pelancong sedang berkerumun, mengantri untuk bergambar di ikon I Love Kuala Lumpur.

merdeka square, dataran merdeka, kuala lumpur
Dataran Merdeka di minggu pagi

Senyumku mengembang, teringat senyummu saat bergambar di tempat itu beberapa waktu yang lalu. Apa kabar dirimu? Aku merindu kebersamaan itu, menikmati secangkir kopi hitam pengusir dingin selepas hujan menyirami bumi, sebelum kaki diayun menikmati kota ini. Adakah engkau juga memiliki rindu yang sama? Rindu berjalan bersama, bercanda dan berbagi tawa, menertawakan kebodohan dan ketololan diri, membangun mimpi dan terus saja meminta berkatNYA, berpura-pura tak paham hingga mencoba berkompromi dengan laranganNYA?  Aaah, rasaku semakin nelangsa. Continue reading “Merindu di Victoria Fountain”

Big Lost, A Tribute to Mr Gaylord

pulau galang, pengungsi vietnam

Without the people like you and the ship that rescued us at sea. We the boat people surely would not make it.  Many of us live is the direct kindly from people like you.  You guys will also be a hero in our eyes.  therefore,  I want to say thank you and hope someday I can meet you.  [Jamie to Mr Gaylord, 27 Februari 2015]

Engkau tak akan pernah tahu apa artinya memiliki jika engkau tak pernah merasakan kehilangan, Lip. Pesan yang disampaikan oleh seorang pendeta dalam satu ibadah di Minggu pagi yang sebenarnya ingin kuhindari beberapa tahun lalu kembali terngiang. Tak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan, tidak pula kebetulan meski terjadi seperti kebetulan.

pulau galang, pengungsi vietnam
Lukisan di Museum Pulau Galang

Tanggul itu kembali jebol dua hari lalu, airnya deras menerjang ke segala arah. Secara fisik kita belum pernah bersua, secara waktu pertemuan kita hanya sesaat. Itu pun berbalas surat elektronik yang bila dihitung tak mencapai sepuluh jari tanganku. Namun, percakapan yang tertuang di sana telah menautkan potongan kisah perjalanan masa meski hanya berbagi lewat dunia maya. Continue reading “Big Lost, A Tribute to Mr Gaylord”

Gairah Nanggroe

travelnblog, worshop travel blogger

“Kok bisa isi blognya tentang Aceh sedang penulisnya orang Toraja?” tanya yang sering mengemuka acap kali ada yang mampir di sini atau di sana. Pula saat mudik ke Toraja akhir tahun kemarin, diberondong tanya serupa,“Kok bisa jatuh cinta pada Aceh?” Pertanyaan sederhana yang kadang membuat diri bingung dari mana memulai, membeberkan jawabannya. Secara raut wajah, sering disangka orang Jawa yang melahirkan canda dan mengakui diri sebagai orang Solo[wesi]. Tapi ketika disapa dengan bahasa Jawa, jawabannya pasang muka tak bersalah sembari senyam-senyum.

image
Cinta mengajak langkah menyusuri jejak manuskrip Aceh ke Univ. Kebangsaan Malaysia

Jadi kenapa Aceh? Mungkin jawaban Bang Tunis, rakan dari Nanggroe yang sedang menikmati perselingkuhannya dengan Heizung di tengah salju Berlin ini bisa sedikit mencerahkan,”karena, Nanggroe untuk dicintai.

Continue reading “Gairah Nanggroe”