Tags

, , , , ,


Banda Aceh sore itu. Kita duduk melepas penat, menikmati seduhan kopi dari sebuah kedai kopi yang berdiri di salah satu pojok Blangpadang. Pilihanmu es cappucino, sementara aku, memesan kesenangan lidahku; sanger dingin.

Maghrib sebentar lagi datang. Kita harus bergegas ke Baiturrahman, agar tak terlambat menyambutnya.”

masjid baiturrahman aceh, syarat berkunjung ke masjid baiturrahman aceh, ke aceh harus berjilbab

Selamat datang di Serambi Mekkah 😉

Kuseruput sanger yang tersisa di dalam cangkirku sebelum kubereskan  tagihan pada si abang penjaga kedai yang sedari tadi kuperhatikan sebentar – sebentar melirik ke meja kita. Rupanya si abang penasaran, kamu makhluk dari bumi sebelah mana? Kenapa rupanya tanyanya senada dengan penjaga Museum Tsunami yang kita mampiri tadi? Serupa jawabanku di museum, kuberi jawab si abang itu dengan,”PERI[bumi], bang.” Jawaban yang membuat mereka puas – kurasa – karena tak kudengar lagi tanya yang mengikutinya.

Selangkah dua langkah terayun, aku teringat pesan seorang kawan ketika kuutarakan niat untuk kembali ke Baiturrahman,“Eh Nong, jangan coba – coba melangkah ke Baiturrahman bila tak mengenakan busana syar’i!”

Ouww …  aturan dari mana  itu?”
Ah, tak percaya kakak ni. Coba sajalah kakak ke sana, kalau diminta keluar, sudah kuingatkan ya kak.”

Bisa begitu? Tiga kali aku pernah memasuki Baiturrahman, tak pernah kudengar aturan itu. Apakah pengurus masjid sudah berganti? Ataukah setelah dua tahun, dan masjid dibaharui serupa Masjid Nabawi di Madinah dengan payung – payungnya yang bisa dibuka tutup serta pelataran dan lantainya dilapisi marmer dari Italia; ada peraturan baru yang diterapkan pengurus masjid? Lalu, bagaimana pula mereka yang tak punya baju syar’i macam aku, yang ingin berwisata ke ikon sejarah Banda Aceh yang wajib dikunjungi bila bertandang ke Aceh itu? Haruskah [membeli] mengenakan busana muslim?

prasasti kohler, mayor kohler, masjid baiturrahman banda aceh, masuk baiturrahman harus berjilbab

Di beberapa perjalanan, aku senang bertandang ke masjid dan rumah – rumah ibadah agama lainnya. Misal di Malaysia – tak bermaksud membandingkan, tapi ini kenyataan – pengelola masjid tak sekadar membuat aturan, tak mengenakan busana muslim tak boleh masuk ke dalam masjid. Mereka menyediakan jubah untuk dipinjam dan dikenakan selama berada di kawasan masjid. Jadi sembari melangkah, kubuang segala prasangka tak baik yang berusaha mengganggu itu. Aku tak ingin memikirkan berbagai kemungkinan yang bisa saja kujumpai nanti. Menyenangkan ataukah mengecewakan. Biarkanlah ia menjadi warna dari perjalanan ini. Jadi, kuayun saja terus langkahku hingga ke Taman Ghairah, taman bersantai keluarga kerajaan yang dibangun pada abad ke-16 semasa Sultan Iskandar Thani; lalu menyeberang ke Baiturrahman.

PEDAGANG dilarang berjualan di pekarangan masjid!

Nah kaaaaan! Di spanduk yang menggantung pada dinding pagar dan kertas yang disampirkan di gerbang jelas terbaca tulisan larangan dan peruntukannya buat siapa.

Di situ tak kutemukan kata – kata .. PEREMPUAN tak berBUSANA SYAR’I dilarang masuk pekarangan masjid!

masjid baiturrahman aceh, syarat berkunjung ke masjid baiturrahman aceh, ke aceh harus berjilbab, pedagang di masjid baiturrahman

Kurasa ibu ini paham bahwa berjualan di kawasan Baiturrahman itu DILARANG 😉

Tergesa, kukeluarkan syal dari perut Onye, dan menudungi kepala. Engkau pun mengeluarkan mukena untuk sholat dan melangkah di depan. Katamu, cuek aja Lip! Aku mengekor dari belakang, pura – pura tak peduli dengan pandangan aneh dari mereka yang keluar masuk pekarangan masjid dan berpapasan di gerbang yang baru saja kita lewati. Kuingat, empat tahun lalu, saat terakhir masuk Baiturrahman, tak ada keharusan untuk mengenakan busana syar’i atau aku yang bebal pura – pura tak tahu? Jika sekarang ada peraturan yang berbeda setelah masjid didandani, pasti ada alasan – alasan kuat yang menjadi landasan dikeluarkannya peraturan tersebut. Otakku berpikir keras, aku datang dengan hati bersih dan niat baik (menurut pandanganku), bukankah itu yang utama? Kalau sekujur tubuh sudah kututupi tapi hati dan pikiranku kotor, buat apa? Aku berjalan sembari merapalkan doa dalam hati, tak menemui kendala di Baiturrahman.

Kutitipkan sandal di tempat penitipan sandal/sepatu di samping kiri gerbang. Pada bang Nazarudin, salah seorang yang bertugas di sana, kupastikan, apakah boleh berjalan – jalan saja di pelataran luar seperti penampakanku di depannya? Kepala sudah ditutup syal, kurasa tak mengapa untuk berjalan – jalan di luar saja. Bukankah semua sudah tertutup, kecuali lengan yang menganga karena sore itu aku mengenakan kaos berlengan pendek. Dari sebuah rak di belakangnya, Bang Nazarudin mengambil selembar rok panjang berwarna putih dengan corak kembang – kembang pada ujung kakinya,”Tak enak sama yang lain, pakai rok panjang ya.” Melihatku mulai berbincang akrab dengan bang Nazarudin, kau pun pamit untuk sholat.

Sore itu udara Nanggroe cukup panas. Dengan selembar kaos saja, keringat sudah menderas di badan. Gimana rasanya badan ditutupi dengan kain dobel – dobel? Namun dorongan kuat yang mengajak untuk kembali ke Baiturrahman, membuatku abai pada gerah, dan mengenakan rok itu bertumpuk dengan jin.

prasasti kohler, mayor kohler, masjid baiturrahman banda aceh, masuk baiturrahman harus berjilbab

Kantor pengelola Masjid Baiturrahman, tempat sementara meminjam jubah

Kamu tahu, salah satu alasanku ke Baiturrahman untuk memastikan prasasti bersejarah itu tetap dipasang setelah tempatnya dibenahi. Sayangnya, ketika kutanyakan hal itu, bang Nazarudin malah mengantarkanku ke papan – papan informasi di bagian belakang masjid. Beruntung sekali kami bersua dengan bang Naisaburi, salah seorang pengelola masjid. Si abang yang sudah duduk manis di atas motor bersiap untuk pulang, menawarkan diri menemaniku berkeliling masjid dengan syarat,”Dengan kaos lengan pendek begitu, tak nyaman jika dilihat yang lain. Kalau mau, kami ada jubah untuk menutupinya.”

Aaaah, bolehlah kupinjam bang. Berapa sewanya?
Tak perlu sewa, memang jubah ini disiapkan untuk dikenakan mereka yang tak membawa baju tertutup.”

prasasti kohler, mayor kohler, masjid baiturrahman banda aceh, masuk baiturrahman harus berjilbab

Nantinya, ruang peminjaman jubah akan pindah ke ruang dalam kotak merah, di bawah area parkir

Alhamdulilah dipertemukan dengan lelaki – lelaki  baik hati ini. Tak serupa lelaki – lelaki (pun beberapa perempuan) di gerbang tadi yang menatap nanar dan penuh curiga pada perempuan bercelana panjang dengan kaos lengan pendek, dan cueknya minta ampun haha. Dengan cuek pula kubuka rok panjang, kutitipkan di ruang pengelola masjid, dan menggantinya dengan jubah. Petang itu, kunikmati setiap ruang di Baiturrahman dengan hati lega dikawani bang Naisaburi.

Jadiiiii, setelah direnovasi selama dua tahun, kini Masjid Baiturrahman tampak seksi. Pelatarannya dilapisi marmer yang memantulkan bayanganmu ketika melangkah di atasnya. Ada ruang bawah tanah di bawah pelataran itu yang dilengkapi dengan ruang parkir kendaraan bermotor, yang dapat menampung 340 unit sepeda motor dan 250 unit mobil. Tempat wudhu serta toilet untuk lelaki dan perempuan dibuat terpisah, demikian juga tempat penitipan barang, untuk bagian lelaki dijaga oleh petugas lelaki dan bagian perempuan tentu saja dijaga oleh petugas perempuan.

prasasti kohler, mayor kohler, masjid baiturrahman banda aceh, masuk baiturrahman harus berjilbab

Tempat penitipan barang terpisah antara lelaki dan perempuan

Saat melangkah di selasar di bawah tanah, kami menjumpai pasangan muda – mudi yang sedang melakukan pemotretan. “Bang, kalau yang foto – foto itu sudah sah ataukah masih pra nikah?” Ini di Aceh, kau tahu dan pernah dengarkan aturannya? Menurut si abang, mereka pasangan yang sudah mengucap janji ijab kabul di Baiturrahman. Biasanya, mereka memanfaatkan selasar dan pelataran masjid untuk bergambar. Di ruang bawah tanah itu juga tersedia ruang pertemuan yang bisa dimanfaatkan untuk berkegiatan serta ruang menyusui untuk ibu – ibu yang membawa balita.

prasasti kohler, mayor kohler, masjid baiturrahman banda aceh, masuk baiturrahman harus berjilbab

Ruang wudhu, hati – hati ubinnya licin!!

Aku melangkah ke ruang wudhu perempuan. Tempatnya megah dan lapang, lantainya .. marmer, licin! Karena tempat itu akan selalu basah, pengelola masjid harus awas dan memasang karpet anti slip, serta menjaga kebersihannya agar tak berlumut, pengap, dan lembab.

Dari ruang bawah tanah, bang Naisaburi mengajakku berjalan ke samping masjid, ke tempat yang ingin kudatangi. Aku melihat beberapa pokok kurma yang ditanam di pekarangan Baiturrahman, tapi bukan pokok itu yang kucari. Aku mencari pokok geulumpang, satu – satunya pokok ketapang yang ditanam di sana, tempat prasasti itu seharusnya dipasang. Kami berjalan berputar, ke samping kiri masjid. Di tempat yang tersembunyi itu, kutemukan apa yang kucari; prasasti Kohler!

prasasti kohler, mayor kohler, masjid baiturrahman banda aceh, masuk baiturrahman harus berjilbab

Prasasti Kohler di bawah pokok ketapang aka geulumpang

Bang Naisaburi pun mengajakku memasuki Baiturrahman, menikmati suasana di dalam masjid sebelum dirinya sendiri pamit setelah kusita banyak waktunya untuk menemaniku berkelliling. Kulihat, makin sore, makin ramai pula pengunjung datang memadati pelataran Baiturrahman. Ada yang datang dengan toga – mungkin usai wisuda – ada yang datang beramai – ramai dengan keluarga, ada yang berpasangan, pun yang berjalan seorang diri serupa diriku yang asik sendiri. Ah dan jangan lupa, ada satu yang tak lepas dari pandangan; beberapa pedagang yang terlihat menjajakan barang dagangannya di dalam lingkungan masjid. Kamu bisa menebak, siapa sebenarnya yang tak memahami aturan, aku ataukah mereka?

Kunikmati sesaat duduk selonjoran di atas ubin dingin di pelataran masjid. Tak lupa kukirimkan pesan padamu, cepat – cepatlah keluar bila sudah selesai urusanmu bercengkerama denganNYA. Aku menunggumu di gerbang Baiturrahman, saleum [oli3ve].

Advertisements