Tags

, , , ,


Pernahkah terbayang cangkang telur yang biasanya dibuang setelah isinya dikeluarkan untuk dibuat telur dadar, campuran kue dan sebagainya dapat disulap menjadi pernak-pernik yang cantik bahkan menjadi wadah untuk cincin berlian? Bagaimana mengosongkan telur agar cangkangnya tak rusak? Sepertinya pikiran itulah yang berkeliaran di kepala Adlienz siang itu. Ia terpaku di ujung meja. Badannya sebentar dilipat sebentar tegak. Daun matanya selang-seling membelalak lalu memicing, sesekali dikucek dari balik kaca mata yang kadang melorot.

atrasina adlina, travel bloggers indonesia

Adlienz yang katanya kalem (dok. Taufan Gio)

Berada di ruang semi terbuka dengan perut penuh selepasย diisi makan siang, dibuai semilir angin membuat mata sedikit susah untuk diajak berkonsentrasi. Adlienz tak sendiri, beberapa pasang mata yang duduk bersama di ruang itu mulai menunjukkan gejala yang sama hingga keajaiban terjadi. Sebutir telur ayam yang bergerak-gerak di depan matanya,ย dikeluarkan isinya; membuat dirinya terjaga. Telur yang sama yang menyegarkan dan menarik perhatian mata-mata yang terkantuk untuk mendekat dan mengerubungi meja tempat Adlienz menemukan pemandangan yang menyenangkan.

travel bloggers indonesia, tbi gathering

Belajar bersama Lita Jonathans di kelas telur

Kulit telur mungkin tidak ada artinya buat sebagian besar orang. Namun di tangan Lita Jonathans, kulit telur bisa disulap menjadi barang bernilai tinggi yang dilirik oleh pasar luar negeri. Siang itu, di tengah ruang yang dijaga oleh Gatot Kaca, yang lantainya dimeriahkan kupu-kupu dari F. Widyanto; sekumpulan pejalan berkumpul untuk belajar Teknik Dasar Menghias Kulit Telur. Kegiatan siang yang dibawakan oleh Lita Jonathans mendadak riuh dengan candaan seputar telur. Dari kisah mbah dukun sakti yang banyak dicari orang ke pasar kembang hingga cerita pencarian telur busuk mewarnai kegiatan gathering Travel Bloggers Indonesia (TBI) yang digelar di Vila La Lita, Gunung Bunder, Bogor pada 29 – 30 Agustus lalu.

travel bloggers indonesia, tbi gathering

Lita Jonathans menunjukkan cara melubangi telur dengan paku kepada Nugie dan Kk Sinyo

Komunitas adalah sekumpulan orang dengan passion yang seiring dan visi yang sejalan, saling mendukung, saling melengkapi, dan bergandengan tangan untuk melakukan suatu kegiatan demi menggapai tujuan yang diimpikan. Keluarga adalah komunitas terkecil dalam masyarakat. Berangkat dari pengertian ini, #TBIGath1 menjadi ajang kumpul-kumpul resmi pertama yang diadakan oleh komunitas TBI yang anggotanya senang sekali berbagi di grup WhatsApp (WA) dan sesekali berbalas komentar di blog serta media sosial lainnya lalu janjian menumpang kopi darat saat diundang ke kegiatan orang lain.

Tak mudah untuk mengumpulkan pejalan yang tersebar di beberapa kota dan memiliki jadwal jalan yang padat di satu tempat dalam satu kesempatan. Bersyukur 1/3 anggota komunitas TBI yang sengaja datang dari Singapura, Semarang, Yogyakarta, Bandung, Bekasi, Depok, Jakarta, Tangerang dan Bogor dapat berkumpul di Stasiun Bogor pada Sabtu pagi (29/08/2015) lalu.

travel bloggers indonesia, tbi gathering, vila la lita

Bermain tebak-tebakan

Setiap keluarga memiliki kisah dramanya sendiri karena rentetan drama adalah bagian dari proses dalam membangun keluarga yang harmonis. Ada keluarga harmonis luar dalam, ada yang di depan publik pura-pura harmonis tapi di belakang gontok-gontokan, ada keluarga yang sukanya mengiri pada keluarga tetangga, ada keluarga yang senangnya saingan sama tetangga dan sebagainya. Sebagai satu keluarga, komunitas TBI pun tak lepas dari drama yang hanya dimengerti oleh pejalan dalam keluarga ini yang lebih sering berinteraksi di dunia maya sehingga diragukan kekaribannya di dunia nyata. Benarkah demikian?

travel bloggers indonesia, tbi gathering, vila la lita

Kk Bobby berbagi ilmu mengukur koteka yang benar๐Ÿ˜‰

Karena perjalanan adalah sebuah episode drama, #TBIGath1 pun tak lepas dari drama. Danan Wahyu yang suka jalan-jalan cuap-cuap dan sudah siap berjalan-jalan sembari bercuap-cuap di Bogor, harus rela melewati malam minggu sendiri karena kameranya ditelan ikan kerapu saat liburan di Anambas (drama habis kan?) dan mendadak jurig malam di Batam. Albert Ghana yang usai melewatkan liburan panjang bersama keluarga di rumah terpaksa merelakan tiket terbangnya hangus karena ban mobil bapaknya kempes di saat waktunya mepet untuk berlari mengejar penerbangan di tengah perjalanan menuju bandara Supadio, Pontianak. Lalu, Eka Situmorang-Sir yang sore harinya menyusul ke Gunung Bunder bersama keluarga kecilnya terpaksa putar balik kembali turun ke Jakarta karena kehilangan arah saat menuju lokasi dan tak satu pun yang menjawab panggilannya karena #TBIGath1 memang sengaja menyepi di wilayah yang tak dijangkau sinyal.

travel bloggers indoesia, tbi gathering

Melihat ekspresinya, coba tebak mereka lagi gosipin apa? (dok. Firsta)

travel bloggers indonesia. villa la lita, tbi gathering

Usai tertawa, lalu diam dengerin pengakuan kk Badai, terlaluuu (dok. Firsta)

Setelah mengadakan #TBIShare pada Februari lalu, #TBIGath1 memang dikhususkan untuk berkumpul dan menggelar piknik keluarga TBI. Bertemu muka, bertegur sapa dan berbagi pelukan di dunia nyata. Ada banyak cerita yang terangkai ketika 20 travel blogger kece yang biasanya tak lepas dari gawai berkumpul di satu tempat, mengisi malam minggu dan melewatkan waktu bersama tanpa gangguan bunyi notifikasi dan nada panggil dari telepon pintar karena berada di wilayah fakir sinyal. Tentu tak semua dapat dibagikan melintasi pagar rumah karena kami ingin ada bagian yang hanya untuk kami nikmati bersama di dalam keluarga.

Sebagai pejalan, kami sadar memiliki keterbatasan dan belum banyak berkontribusi untuk kemajuan pariwisata negeri yang sangat kami cintai ini. Tapi, setidaknya kami mau dan berani melangkah keluar dari kenyamanan berinteraksi sebatas di grup WA dan media sosial. Bertatap muka, saling berbagi senyum, berbagi pelukan, bermain teka-teki, bercanda dan tertawa sampai terkencing-kencing, dan yang sedikit serius belajar ilmu dasar SEO. Tentu, kami pun tak lupa untuk makan, makan dan makan, bermain dengan binatang peliharaan, jalan-jalan di hutan serta curhat hingga jelang pagi demi saling memahami apa yang ada di dalam pikiran dan hati setiap anggota keluarga.

vila la lita, tbi gathering, gunung bunder

Kk Tracy dan Kk Badai sedang berkeliling mencari telur

Sampai di sini saya bingung, tulisannya mengarah kemana ya? Kalau yang menulis saja bingung, apalagi yang membacanya? Mari kembali ke telur-telur yang menarik perhatian di atas.

Anggota komunitas TBI adalah cangkang telur yang tadinya berdiri sendiri dan telah mengalami benturan di sana-sini. Ada yang berbentuk telur burung puyuh, telur ayam, telur bebek pun telur burung unta. Setiap cangkang telur dihiasi dengan perjalanan yang penuh warna, serta minat yang beraneka ragam dari pemiliknya. Ada yang mengukir perjalanannya dengan menyelami lautan, mengejar senja, gemar mengembara hingga ke pelosok, mencicipi makanan segala rasa, bahkan ada yang tak bosan mencari kuburan. Telur-telur yang telah berdandan melalui pengalaman berjalan masing-masing ini dikumpulkan dalam satu wadah, untuk saling melengkapi dan membentuk harmonisasi perjalanan.

vila la lita, travel bloggers indonesia. tbi gathering

Manis sekali ya kk Titi, kk Bobby, kk Leo, Nugie dan Kuman eh Ridwan ambil makannya nggak berebut (dok. Firsta)

Sebelum menjadi hiasan yang dipajang dan bernilai tinggi setiap telur akan dikosongkan, dibersihkan, dikeringkan hingga benar-benar kering agar nanti tak busuk dan berulat, lalu diukir sesuai dengan keinginan pengukirnya. Untuk mengosongkan telur, paling tidak diperlukan perkakas dan perlengkapan berikut: pensil untuk menandai telur, paku atau bor kecil untuk melubangi telur, spuit untuk membersihkan cangkang, air cuka, air bersih, wadah untuk isi telur, mangkok untuk mencuci telur dan tentu saja telur yang siap dibor.

vila la lita, tbi gathering

Bayangkan cangkang telur yg pecah ini jika tak dihias, hanya akan dibuang ke tempat sampah.

Sebagai telur yang jauh dari sempurna, cangkang yang kami huni pun tak lepas dari benturan. Tapi kami berharap, kebersamaan yang terus dipupuk dan kesehatian yang terus dijalin akan mengeratkan persaudaraan di setiap liku perjalanan yang kami jumpai. Sebagai keluarga yang bertumbuh dalam kedewasaan, kami mencoba untuk terus menjaga sikap saling menghormati, percaya satu sama lain serta menghargai privacy masing-masing anggota keluarga. Tak ada larangan bagi anggota keluarga untuk menikmati berjalan sendiri dan beraktifitas di luar pagar rumah, sesenang saat kami piknik keluarga dimana kami dapat berbagi serunya perjalanan yang telah dilalui.

taman nasinal halimun salak, travel bloggers indonesia

Tes henpon sponsor๐Ÿ˜‰

curug cigamea, travel bloggers indonesia, tbi gathering

Sepertiga telur yang berada dalam cangkang TBI (dok. Wira Nurmansyah)

Tulisan ini dibuat jelang 3 (tiga) tahun menjadi keluarga TBI (sebelumnya ITB). Terima kasih kakak-kakak yang selalu mencerahkan hari-hari padat dengan candaan di grup WA yang sangat gampang dialihkan perhatiannya. Meski ada riak-riak, setahun ini adalah masa yang sangat menyenangkan dalam menjalin persahabatan unik yang semakin meyakinkan hati betapa berharganya kesehatian dan kebersamaan ketika menghadapi benturan. Yuk bersama selalu bergandengan tangan, berangkulan dan saling mendukung di tiap perjalanan menyusuri tanah air sesuai misi yang diemban Home Heart Indonesia. Saleum [oli3ve].