My Guardian Angel

guardian angel quote, malaikat kecil, cerita khina

Buah dari PERJALANAN adalah dipertemukan dengan banyak orang baru dan hal-hal baru yang mengajak diri lebih sabar berPROSES: membuka mata, melihat sekeliling, mengelola emosi dan ego, memahami dan menghargai pilihan/pendapat orang lain, mengenal dan bersahabat dengan diri sendiri serta lebih bijak menjalani hidup. Ringan beratnya PROSES serta reaksi sang pejalan akan mempengaruhi pada cara berpikir, memandang, mengambil keputusan dan bersikap terhadap sekeliling.

Dalam merencanakan dan mengeksekusi rencana perjalanan, saya lebih memikirkan KUALITAS dan MAKNA yang akan didapatkan di akhir perjalanan itu. Bukan sekadar memenuhi kuantitas agar tampak sibuk berjalan. Karenanya, sebagai pejalan yang memiliki minat sedikit berbeda dengan yang lain, sering penolakan untuk berjalan bersama ke satu tempat membuat mereka yang tak jua memahami keinginan diri sebagai langkah untuk menghindar. Mereka lupa, saya sering terbentur pada pengambilan jatah cuti ;).

The most glorius moment you will ever experience in your life is when you look back and see how GOD was protecting you all this time – [Shannon L. Alder]

Continue reading “My Guardian Angel”

#TBIGath1: Bertemu, Tertawa lalu Curhat


Pernahkah terbayang cangkang telur yang biasanya dibuang setelah isinya dikeluarkan untuk dibuat telur dadar, campuran kue dan sebagainya dapat disulap menjadi pernak-pernik yang cantik bahkan menjadi wadah untuk cincin berlian? Bagaimana mengosongkan telur agar cangkangnya tak rusak? Sepertinya pikiran itulah yang berkeliaran di kepala Adlienz siang itu. Ia terpaku di ujung meja. Badannya sebentar dilipat sebentar tegak. Daun matanya selang-seling membelalak lalu memicing, sesekali dikucek dari balik kaca mata yang kadang melorot.

atrasina adlina, travel bloggers indonesia
Adlienz yang katanya kalem (dok. Taufan Gio)

Berada di ruang semi terbuka dengan perut penuh selepas┬ádiisi makan siang, dibuai semilir angin membuat mata sedikit susah untuk diajak berkonsentrasi. Adlienz tak sendiri, beberapa pasang mata yang duduk bersama di ruang itu mulai menunjukkan gejala yang sama hingga keajaiban terjadi. Continue reading “#TBIGath1: Bertemu, Tertawa lalu Curhat”

Gemu Fa Mi Re untuk Negeriku

travel beruang, lily riani, kampung mongkos, dayak bidayu serawak, wisata serawak

Kamu kurang gaul, Lip!”

Skakmat yang aku terima di tengah perbincangan seru kami semalam. Kalimat yang terlontar tanpa gejolak rasa dari bibirnya yang tak henti bergerak, menampar ulu hati saat kutanyakan Gemu Fa Mi Re padanya.

Lihat dan dengarkanlah sendiri, nanti kamu akan tahu,” katanya sembari berlalu, menyisakan kunang-kunang yang beterbangan di atas kepalaku.

Kurang gaul? huhhh … berani sekali dia menuding dan mengaduk-aduk emosi saat baru bersua! Belum cukupkah langkah menjauh sesaat dari negeri untuk membuktikan seberapa luas pergaulan itu? Kuredam riak yang mulai menjalari nadiku, mencoba memaknai kata demi kata yang dilontarkannya.

soekarno di pengasingan, penjara banceuy, sel no 5, soekarno
Menjumpai Bung Karno di belakang Sel No 5 penjara Banceuy, Bandung

Musik dengan nada riangnya memenuhi tenda tempat kami menikmati santap malam. Generasi Sumiran tampil ke depan. Tua muda meliukkan badan mengikuti irama yang mengalun dari pengeras suara. Mereka bergerak tak lelah, raut wajah mereka memancarkan senyum tiada henti. Di tengah hentakan musik dan gelak tawa, anganku mengembara mencari jawaban atas tanya yang tak dijawabnya. Continue reading “Gemu Fa Mi Re untuk Negeriku”

14 Langkah Menikmati Perjalanan Tak Biasa

ereveld candi semarang, god is good

Minggu pertama Februari 2015, untuk kali kedua kaki ini menjejak di Pulau Mutiara, Pulau Pinang dalam rangkaian promosi wisata Malaysia Year of Festival 2015 dan Visit Penang Year of 2015. Bersama mas Eka dari MQTV, kami diterbangkan dengan Malaysia Airlines dari Jakarta oleh Tourism Malaysia dan bergabung dengan partisipan Kembara Cuti-Cuti 1 Malaysia (KCC1M) Pulau Pinang di Penang, Rabu (04/02/2015). Bersyukur di sela agenda KCC1M, kaki mendapatkan semangatnya melangkah di suatu pagi buta menyusuri jejak-jejak sunyi di Protestant Cemetery.

Berjalan dengan tuntunan hati tanpa pernah berharap yang muluk-muluk selain hasrat untuk berbagi adalah langkah awal yang mengantarkan tapak kaki menjejak di beberapa tempat tak biasa. Tempat yang bagi sebagian besar (pejalan) orang adalah destinasi yang sangat jarang bahkan tak akan pernah dicantumkan dalam agenda perjalanan. Tempat yang banyak dihindari namun justru menjadi destinasi terpenting dari perjalanan ini, tempat peristirahatan terakhir: kuburan! Continue reading “14 Langkah Menikmati Perjalanan Tak Biasa”

Gairah Nanggroe

travelnblog, worshop travel blogger

“Kok bisa isi blognya tentang Aceh sedang penulisnya orang Toraja?” tanya yang sering mengemuka acap kali ada yang mampir di sini atau di sana. Pula saat mudik ke Toraja akhir tahun kemarin, diberondong tanya serupa,“Kok bisa jatuh cinta pada Aceh?” Pertanyaan sederhana yang kadang membuat diri bingung dari mana memulai, membeberkan jawabannya. Secara raut wajah, sering disangka orang Jawa yang melahirkan canda dan mengakui diri sebagai orang Solo[wesi]. Tapi ketika disapa dengan bahasa Jawa, jawabannya pasang muka tak bersalah sembari senyam-senyum.

image
Cinta mengajak langkah menyusuri jejak manuskrip Aceh ke Univ. Kebangsaan Malaysia

Jadi kenapa Aceh? Mungkin jawaban Bang Tunis, rakan dari Nanggroe yang sedang menikmati perselingkuhannya dengan Heizung di tengah salju Berlin ini bisa sedikit mencerahkan,”karena, Nanggroe untuk dicintai.

Continue reading “Gairah Nanggroe”

lndonesia, Belajarlah pada Malaysia

surat untuk menteri pariwisata, indonesia bertindak, perempuan keumala

Sejatinya tulisan berikut ini adalah surat terbuka untuk Bapak Arief Yahya, Menteri Pariwisata Indonesia periode 2014 – 2019. Namun, menilik bahwa pariwisata bukan hanya menyangkut satu orang; maka surat ini saya tulis dan tujukan untuk diri sendiri sebagai pengingat dan kepada Indonesia tercinta agar dengan kesadaran penuh, kita bersama mau menjaga dan memajukan pariwisata Indonesia tanpa mengandalkan orang lain. Tulisan ini pula dimaksud untuk mengajak kita mencerna bersama Benarkah Malaysia tidak ada apa-apanya seperti yang diungkapkan oleh bapak Menpar?

indonesia bertindak, keluarga esjepe, cinta indonesia
Indonesia Mendambakanmu! ikon provokasi cinta Indonesia dari Indonesia Bertindak

Engkau mungkin tak akan pernah tahu apa yang akan kau dapat dari setiap tindakanmu. Tapi jika engkau tak melakukan sesuatu; engkau tak akan pernah belajar dan tak ada sesuatu pun yang akan terjadi. – [Mahatma Gandhi]
Continue reading “lndonesia, Belajarlah pada Malaysia”

[Review Blog] Catperku, Jejak dalam Untaian Kata

catperku, rijal fahmi

Apa yang kamu dapat dari sebuah perjalanan? Adakah yang engkau bagikan kepada orang lain ataukah hanya ingin kau nikmati sendiri? Lalu, untuk apa melakukan perjalanan?

Rijal Fahmi, pemilik blog Catperku (= Catatan Perjalananku) yang dihinggapi bosan hanya menggunggah foto perjalanan lewat facebook, mulai merambah dunia blog pada 2010 untuk berbagi cerita dan pengalaman perjalanannya. Baginya, traveling memberikan semangat dan optimisme untuk selalu maju berkembang.

catperku, rijal fahmi
Fahmi, [Diary Day 10] Terios 7 Wonders

Memiliki misi yang jelas saat membangun blog akan sangat membantu seorang blogger dalam menentukan ke mana blog tersebut mengarah. Continue reading “[Review Blog] Catperku, Jejak dalam Untaian Kata”

Merangkai Serpihan Kenangan di Peunayong

pulang, wisata aceh

Jejak hujan masih tersisa kala kaki kita menapak di Peunayong malam itu. Aku sudah tak tahan dengan rengekan usus dalam perut yang sedari siang merindu sayuran. Entah kenapa tak mudah menemukan sayuran di Aceh. Sayuran yang aku maksud adalah sayuran hijau yang dibening. Aaah dasar perut kampung! Doyannya makanan rumahan. Kata Kak Yasmin yang seharian mengantarkan kita berkeliling; orang Aceh nggak doyan sayur.

Rex, pusat kuliner Banda Aceh tampak sepi. Tenda-tenda makanan yang biasanya ramai berjejer malam itu tak terlihat. Malam belum pekat, masih pk 19.00. Apa karena hujan?

Kepala kulongokkan ke setiap tempat makan yang kita lewati namun tak terlihat sayuran tersaji di meja. Untuk menenangkan rengekan perut aku membangun harap paling tidak sepiring cap cay bisa kita dapatkan untuk santap malam. Tapi ternyata meski Peunayong dikenal sebagai kawasan pecinan Banda Aceh, Continue reading “Merangkai Serpihan Kenangan di Peunayong”

Ber-Ekowisata bersama Tintin di Hutan Kota Kemayoran

bandara kemayoran

Minggu pagi (01/06/14) lalu, kaki kembali mengayuh Prince Red mengitari Jakarta bersama tim Gowes Heritage. Gowes kali ini menyusuri jejak petualangan seorang tokoh komik dunia yang pernah mendarat di Jakarta, Tintin.

Ketika sebagian besar warga Jakarta lebih senang menyesakkan diri di seputar Sudirman – Thamrin, berduabelas kami justru menghindari pusat keramain. Mengayuh dari titik pertemuan sejuta umat di bundaran Hotel Indonesia (HI) menyusuri Menteng, Kwitang, Senen hingga Kemayoran. Mencoba menghirup udara pagi Jakarta, meski harus berpacu dengan kendaraan bermotor yang membuang gas kotornya ke udara. Resiko hidup di hutan beton yang sebagian besar warganya tak peduli dengan lingkungannya.

bandara kemayoran
Landasan Parkir dan Terminal Bandara Kemayoran Jakarta kini

Kemayoran. Apa yang terlintas dalam benak ketika mendengar kata ini? Pameran? Pekan Raya Jakarta (PRJ), festival musik? Sebagian besar dari kita mungkin saat ini hanya mengenal Halim Perdana Kusumah dan Soekarno Hatta sebagai bandara udara (bandara) sipil di Jakarta. Bagaimana dengan Bandara Kemayoran? Continue reading “Ber-Ekowisata bersama Tintin di Hutan Kota Kemayoran”