Tags

, , , , , ,


Matahari mulai condong ke barat namun pendar sinarnya masih terasa perih menyentuh kulit. Tanda waktu di pergelangan tangan telah menunjukkan pk 16.00 kurang beberapa menit lagi. Sekelebat bayangan hitam terlihat berlari kecil di antara pohon dan gundukan-gundukan beton yang ditinggikan para pekerja di Museum Taman Prasasti.

Dalam sepersekian detik bayangan itu sudah tampak jelas di depan mata,”Mau tutup, Bang?” Yang ditanya hanya mengangguk sambil melirik pergelangan tangan kirinya. “Bentar ya Bang, kasih aku waktu 10 menit lagi ya. Mau mutar ke sana bentaaaaar aja.” Si abangnya tersenyum, kembali menggangguk lalu balik badan melangkah ke arah datangnya tadi.

museum taman prasasti

Lonceng kematian, akan berdentang saat berita kematian hendak disiarkan

Sebuah bayangan lain menjulang di tengah taman membuat terpana. Langkah melesat mendekat tak peduli berpasang mata tukang bangunan yang sedang bercengkerama di sekitarnya memandangi dengan heran. ” Waaaoouuuwwwww! pastor sudah berdiri lagi, horeeeeee!” Terakhir menjejak di sini, sang pastor tergolek di lantai di ruang belakang yang selalu terkunci dan jarang ditengok orang.

Opa Van der Grinten, salah seorang pemrakarsa berdirinya Batavia’s Vincentius Vereeniging (sekarang Yayasan Vincentius Jakarta) untuk membantu penanganan anak-anak yatim pada 1856. Beliau adalah pastor kepala di De Kerk van Onze Lieve Vrouwe ten Hemelopneming (atau sekarang dikenal dengan Katedral Jakarta) pada 1847 – 1848 dan pada 1854 hingga akhir hayatnya 1864. Van der Grinten mulai melayani sebagai imam diosesan 200 tahun yang lalu saat menjejak di Batavia pada 1811. Pelayanannya abadi, itulah gambaran pada tempat peristirahatannya di tengah Kebon Jahe Kober (sekarang Museum Taman Prasasti).

van der grinten

Patung Opa Van der Grinten tergolek di salah satu ruang Museum Taman Prasasti beberapa waktu lalu karena diterpa angin kencang

van der grinten

Mari berbagi kebaikan bagi sesama, Opa Van der Grinten sudah berdiri tegak lagi di tengah Museum Taman Prasasti

… bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya [I Kor 9:22a], potongan  ayat dari firman Tuhan yang ditulis dalam bahasa Belanda terpatri di bawah kakinya. Firman yang tepat buat seorang yang telah berbuat banyak kebaikan untuk sesama.

Teeenggggg … teeeeennnnggggg … teeeeenggggg! Suara lonceng yang mendadak menggema di seantero taman menyentak lamunan. Duuuh, siapa yang iseng membunyikan lonceng itu? Meski berabad telah berlalu, suaranya masih sangat nyaring. Lonceng kematian, yaa … lonceng kematian! Dia akan dibunyikan ketika ada penghuni baru yang akan meramaikan sepi di taman ini.

Berdiri di bawah lonceng ini membawa lamunan kembali menari-nari ke masa jayanya. Lagi asik membayangkan prosesi iring-iringan kereta mendekati taman pemakaman, sebuah ajakan menyentak langkah untuk kembali berlari sejenak ke sisi kanan taman. “Bang, maaaaap … ke sana sebentar yak.”

Mgr Jacobus Staal

Tempat peristirahatan Mgr W. Jacobus Staal

Langkah berhenti di depan peristirahatan Mgr Walterus Jacobus Staal, ouww rupanya masih ada iri-irian ya di taman sepi ini; antar sesama pastor pula! Hehehe .. Opa Staal adalah orang yang keukeuh merintis dan memperjuangkan berdirinya Katholieke Kerk Kajoetangan atau sekarang dikenal dengan Katedral Kayutangan, Malang pada 4 Juni 1897.

Satu hal yang membuat kening berkerut di depan Opa Staal, kutipan ayat firman yang terpatri di prasastinya koq ya aneh? Salah cetak atau salah dikte nih? Mencoba berasumsi sendiri, kalau itu kutipan dari Pengkhotbah (Eccl. singkatan dari Ecclesiastes kan?) mungkin yang dimaksud adalah Pengkhotbah 4:4 karena Pengkhotbah hanya sampai pasal 12! Atauuuuu …. Pengkhotbah 5:1 ya? #bingungsendiri

Janji 10 menit sudah terlewati, pada Opa Staal pamit undur diri. Urusan perayatan benarkah salah tulis, nanti ditanyakan kepada ahli baca enkripsi makam; suhu Lilik Suratminto.

Pastor Claessens

Konon dari mata MGR Adami Caroli Claessens sering menetes air mata

Sebelum menggapai gerbang, langkah berhenti sejenak di depan Opa Claessens. Konon si Opa ini suka menitikkan air mata, jadi sebelum hatinya semakin bersedih disempatkan untuk menyapa beliau. Mgr Adami Caroli Claessens, menjejak di Batavia 15 Pebruari 1847. Wilayah pelayanan beliau sampai ke Bangka, pada 1849 dan 1851 beliau membaptiskan orang-orang Cina di sana. Pada 1874 Opa Claessens diangkat menjadi Pastur Kepala di Batavia, setahun kemudian 2 Pebruari 1875 ditahbiskan sebagai Uskup Batavia hingga 1893.

Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh
Mengapa ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku

Manisku jauh di pulau,
kalau kumati, dia mati iseng sendiri

– Cintaku Jauh di Pulau, Chairil Anwar, 1946

Teeenggggg … teeeeennnnggggg … teeeeenggggg! Gema lonceng kembali terdengar. Kali ini bukan untuk memberitakan kematian, tapi peringatan untuk segera beranjak dari pelataran taman pemakaman karena jam kunjungan telah selesai.

SOO GY. NU SYT.WAS. IK VOOR DEESEN DAT. JK, NV BEN SVLT GY OOK WEESEN … “Seperti anda sekarang, demikianlah aku sebelumnya. Seperti aku sekarang, demikianlah juga anda kelak.”

Dengan apa dan seperti apa kita mengisi hidup, demikianlah nanti kita akan dikenang.
Museum Taman Prasasti, Sabtu, 12 Oktober 2013 [oli3ve].

catatan kaki:
Pada awal berdirinya Batavia’s Vincentius Vereeniging dikelola oleh para Pastor Jesuit, pada 1920 pengelolaannya diserahterimakan kepada para Pastor Fransiskan (OFM) hingga hari ini.

Setelah menulis ini, baru sadar sejak Juni lalu “terlibat” pelayanan OFM. Sempat ngoprek-oprek foto seorang pastor yang adalah mantan pimpinan Panti Asuhan Vincentius Putera, Pastor Urbanus K. Ratu OFM (1999 – 2005). Baru nyadar pernah menjumpai beliau di ruang kerjanya pada 2002 lalu, whatttaaaa life. Pada akhirnya teringat, masih banyak ulasan Malang yang belum ditulis. Hmmm … boleh deh buat setoran lomba ngeblog uppzzz. Sebuah ending yang belibet heehe.