Leyden, Dusta Antara Raffles dan Olivia?

John Casper Leyden, MD, museum taman prasasti, sahabat raffles

Tiga minggu lalu saat menemani seorang sahabat baik berkeliling di Museum Taman Prasasti, saya baru ingat belum pernah menuliskan kisah Opa Leyden saat kami berada di depan pusaranya. Terbiasa berjalan sendiri, ketika mendadak diminta menemani berjalan, suka lupa-lupa ingat hendak berbagi cerita apa. Untung yang ditemani lupa membawa peralatan rekam sehingga ekspresi lupanya tak tertangkap kamera hehe. Mumpung ingat, lebih baik dicatat agar nanti bila ada yang bertanya, tinggal buka tautannya.

John Casper Leyden, MD, museum taman prasasti, sahabat raffles
Tempat peristirahatan John Casper Leyden, MD

Selang setahun setelah Perancis mengeratkan pelukannya pada Belanda dengan diangkatnya Louis Napoleon sebagai raja Belanda; British East India Company (Perusahaan Dagang Hindia Timur Inggris) mengeluarkan perintah untuk segera mengusir Belanda dari pulau Jawa. Sebuah pulau yang terlihat subur dengan penduduk mayoritas Muslim, memiliki potensi sebagai pos pengatur jalur lintas perdagangan ke Tiongkok; namun tampaknya tak dikelola dengan baik oleh Belanda. Continue reading “Leyden, Dusta Antara Raffles dan Olivia?”

The Legend of Vader Jas

kapitein jas

Maghrib menjelang saat kaki melangkah keluar dari underpass Stasiun Beos, Jakarta. Bergegas melepaskan diri dari himpitan pedagang kaki lima yang memenuhi bibir stasiun, ikuti arus menerabas lewat pintu kecil di celah pagar yang satu jeruji besinya sengaja dipatahkan. Dari depan stasiun menyeberang ke arah Pangeran Jayakarta hingga tiba di depan gerbang Gereja Sion.

Tak ada jadwal ibadah sore itu, di halaman samping gereja hanya diramaikan oleh suara sekelompok remaja yang asik bermain basket. Kaki berjinjit di depan peristirahatan Opa Zwaardecroon tepat saat gema magrhib sayup terdengar dari kejauhan. Cukup lama tak bertandang ke sini, terakhir mampir saat menjenguk Opa Zwaardecroon di awal 2007 bersama rombongan Batmus. Continue reading “The Legend of Vader Jas”

Gowes Heritage: Jelajah Jejak Makam Kuno

Ereveld Menteng Pulo

Hari pertama di bulan Pebruari langit Jakarta masih saja bermuram durja. Entah sampai kapan dirinya akan memelihara sendu. Berbeda dengan Prince Red, sejak kemarin sore dirinya bersemangat menanti pergantian hari. Tak peduli mau langit Jakarta muram, ‘nangis, dirinya yakin Minggu pagi pasti diajak jalan-jalan.

Saking semangatnya, Prince Red semalaman tak bisa tidur. Bukan karena siaga banjir, tapi di otaknya sudah terbayang perjalanan seru yang akan dijalaninya. Pk 05.30 dirinya lagi tidur-tidur ayam saat sepasang tangan yang sudah sangat dirindukannya perlahan menepuk-nepuk punggungnya. Secepat kilat Prince Red menggeliat, memasang senyum paling manis, siap untuk jalan pagi. Continue reading “Gowes Heritage: Jelajah Jejak Makam Kuno”

Sebuah Senja di Satu Taman Kala Pastor Saling Iri

museum taman prasasti

Matahari mulai condong ke barat namun pendar sinarnya masih terasa perih menyentuh kulit. Tanda waktu di pergelangan tangan telah menunjukkan pk 16.00 kurang beberapa menit lagi. Sekelebat bayangan hitam terlihat berlari kecil di antara pohon dan gundukan-gundukan beton yang ditinggikan para pekerja di Museum Taman Prasasti.

Dalam sepersekian detik bayangan itu sudah tampak jelas di depan mata,”Mau tutup, Bang?” Yang ditanya hanya mengangguk sambil melirik pergelangan tangan kirinya. “Bentar ya Bang, kasih aku waktu 10 menit lagi ya. Mau mutar ke sana bentaaaaar aja.” Si abangnya tersenyum, kembali menggangguk lalu balik badan melangkah ke arah datangnya tadi. Continue reading “Sebuah Senja di Satu Taman Kala Pastor Saling Iri”

Peti Mati Sang Proklamator


Salah satu tips agar bisa melihat koleksi yang jarang diunjukin ke publik saat berkunjung ke musium adalah membina hubungan SOK AKRAB dengan petugas musium. Sepanjang sejarah kunjungan ke beberapa musium atau tempat-tempat yang rada ribet peraturannya, cara tersebut masih cukup ampuh untuk melunakkan hati yang jaga pintu masuk apalagi jika ditambah dengan: senyum manis, prolog didukung informasi yang meyakinkan tentang target dan muka memelas bila diperlukan hahaha.

Cara ini kembali dipraktekkan saat berkunjung ke Museum Taman Prasasti beberapa waktu yang lalu. Hasilnya, Eyang pemegang kunci ruangan yang sudah lama gak dibuka tanpa banyak tanya langsung meminta Imin untuk menemani langkah masuk ke sana. Gantian Imin dengan tampang penuh tanya berjalan mendahului ke depan pintu ruangan yang langit-langit luarnya mulai melambai-lambai karena sobek. Continue reading “Peti Mati Sang Proklamator”

Freemasonry, Mata Rantai Zionis Yahudi?


Kemarin dulu saya diinterogasi online oleh seorang saudara sepupu dari Makassar seputar kegemaran saya yang aneh di matanya (dan tentunya mata yang lain-lain). Semua bermula dari sebuah buku berbau kuburan yang dijadikan picture profile lalu melahirkan status,”ya ampuuun, bacaaanya” diakhiri dengan ikon muka ditutup tangan. Iseng, jari bergerak melantunkan tanya,”bacaannya sopo tanta[e])?”

Kaget, heran dan penasaran adalah reaksi reflek yang terpancar dari wajah setiap lawan bicara ketika mendengar kegemaran bermain ke kuburan. Kuburan??? Ya ampun, gak takut?? Apanya yang menarik, tempat sepi dan seram gitu?! Continue reading “Freemasonry, Mata Rantai Zionis Yahudi?”

Senandung Sunyi, Menggali Ilmu dari Sebuah Nisan Tua


Ketika berkesempatan mengunjungi satu kota, ada beberapa hal yang harus saya cari tahu sebelum bertandang yaitu : sejarah kotanya, tempat wisata yang jarang dikunjungi orang serta kuliner khasnya. Kawan saya geleng-geleng kepala memelototi catatan kecil yang ada di tangannya,”kamu ke sini cuma buat mencari kuburan dan jalan ke museum?” Dia membuka pintu apartemennya lebar-lebar buat saya menginap selama berlibur di Singapur beberapa waktu lalu, syok mendengar penjelasan saya. Banyak tempat yang sama sekali belum pernah dia dengar apalagi dikunjungi.

Baju yang basah oleh keringat menempel di badan setelah berjalan kaki dari St Andrew, tak menyusutkan semangat untuk menapaki anak tangga menuju Fort Canning Park. Tujuan pertama mencari petunjuk arah ke Battle Box, bunker yang dulu menjadi markas pusat komando bawah tanah Inggris semasa perang dunia kedua. Setelah membayar biaya masuk, saya bergabung dengan rombongan turis bule untuk menyusuri bunker dipandu oleh seorang pemandu lokal bernama William. Continue reading “Senandung Sunyi, Menggali Ilmu dari Sebuah Nisan Tua”

Plesiran Tempo Doeloe : Batavia in 19th Century

sahabat museum

Sekian lama gak ada acara PTD, kangen juga untuk ngumpul dengan para penikmat plesiran sambil belajar sejarah dan poto – poto. PTD (= Plesiran Tempo Doeloe) kali ini yg oleh Deedee diistilahkan sebagai PTD Sport Jantung dikarenakan persiapannya sangat mefet karena awalnya hanya rencana Pintong (= Pindah Tongkrongan) bareng Pak Scott truzz-nya seminggu menjelang hari “H” waktu tanya boss Adep di Batmalming belum dipastikan kapan tepatnya acara ini digelar.

sahabat museum
@Sunda Kelapa

Udah gitu, yg tadinya target peserta hanya 40 orang saja sesuai kapasitas 1 (satu) otobis si Burung Biru Besar mendadak menjadi 160 orang. Masih gak percaya dengan membludaknya peserta, pas hari “H” (Minggu, 14 Januari 2007) nyampe di ParkiT Senayan terkagum² melihat 6 (enam) ekor Burung Biru Besar berderet di belakang hotel Sultan. Continue reading “Plesiran Tempo Doeloe : Batavia in 19th Century”