Tags

, , ,


Pk 12.30. Ibadah siang baru saja usai. Andri bergegas keluar dari ruangan. Di ruang tunggu, sebuah bangunan serba guna, Gisel, puterinya, telah menanti bersama bibinya, kakak ipar Andri.

skizofrenia, depresi, pengobatan gangguan jiwa, orang dengan skizofrenia

Gisel dengan telaten membukakan bekal makan siang dari sebuah gerai cepat saji yang ia bawakan untuk ayahnya. Berdua, mereka duduk berhadapan di lantai. Andri makan dengan lahap potongan ayam di tangannya sembari menyimak cerita yang keluar dari mulut puterinya. Matanya menatap lekat – lekat wajah puterinya. Sesekali, di sela mengunyah makanannya, ia memotong cerita Gisel dengan pertanyaan. Melihat keakraban ayah anak itu, tak terbayang betapa banyak sabar yang mereka kerahkan bersama sepanjang melewati masa – masa sukar hingga hari ini.

Gisel masih bayi merah ketika ibunya meninggalkan rumah. Ia ditinggalkan bersama ayahnya yang depresi karena kondisi ekonomi keluarga yang jatuh. Andri tak punya pegangan, sedari muda ia bergantung sepenuhnya pada orang tuanya. Tak dapat menerima perubahan keadaan, jiwanya terguncang. Ia menjadi pemarah, merusak apa saja yang tampak di depan mata, dan menumpuk hutang di beberapa toko yang minta ditagih ke rumah. Perawatan puterinya diambil alih oleh kokohnya. Saat Gisel 13 tahun, Andri yang sudah tak bisa mengendalikan dirinya sendiri, menambah repot keluarga; diantar dan dititipkan ke panti rehabilitasi jiwa di Kampung Sewan, Tangerang.

Bertepatan dengan datangnya Tahun Baru Cina kemarin, bertiga kawan, kami mengunjungi Yayasan Pelita Jiwa, panti rehabilitasi jiwa yang dikelola oleh Yogi Simanullang. Tak sulit untuk menemukan tempatnya. Arahan dari google maps memudahkan perjalanan dari Pasar Lama Tangerang hingga ke titik tujuan. Hanya saja karena nama tempat yang tertera di google maps asing bagi kuping warga setempat, kami pun kebingungan ketika tujuan akhir perjalanan diarahkan ke tempat penampungan sampah. Setelah bertanya ke warga di sekitar lokasi, petunjuk jelas didapatkan dari seorang ibu yang rumahnya berjarak 200 meter dari tujuan.

skizofrenia, depresi, pengobatan gangguan jiwa, orang dengan skizofrenia

Oooh tempat orang stres itu? Luruuus saja mbak sampai ketemu tempat sampah. Kendaraan dititipkan saja ke warga yang ada di sana. di tanah yang agak lapang di samping tempat sampah itu. Aman koq. Mbak ikuti jalan kecil di samping tembok, di situ ada jembatan kecil menuju kampung. Rumahnya ada di sebelah kanan persis di ujung jembatan itu. Warga di sini mengenal tempat itu sebagai rumah penampungan orang stres.

Benar saja. Dengan mengikuti petunjuk si ibu, kami sampai di depan gerbang rumah yang berdiri di pinggir sungai Cisadane. Bangunannya tampak berbeda dengan rumah di sekitarnya yang masih didominasi rumah – rumah sederhana berdinding gedek. Bangunan panti sudah permanen, berpekarangan cukup luas, dipagari pepohonan, dan kebun singkong.

Siang itu, 30 orang penghuninya sedang menunggu waktu sembahyang. Mendengar kata sembahyang, yang terbayang ritual seperti di kelenteng mengingat penghuni panti sebagian besar keturunan Tionghoa. Begitu mendapat penjelasan tata ibadahnya dilakukan secara kristen, saya meminta ijin pada Yogi agar dibolehkan ikut beribadah. Dua kawan saya sebenarnya ragu, apalagi setelah mengintip ke bakal ruang ibadah – kamar tidur besar dengan 20 unit ranjang besi dua susun berderet menempel ke dinding – tak seorang pun perempuan yang tampak di sana. Rio yang sehari – hari membantu Yogi di panti mempersilakan kami duduk di bangku kayu panjang di depan para lelaki yang duduk bersila dengan rapi di lantai dibatasi meja kayu dan keyboard yang siap mengiringi ibadah. Sebuah keranjang putih tergeletak di ujung kiri meja berisi beberapa buah alkitab.

Meski sederhana, ruangan tidur itu bersih. Lantai semennya mengkilap karena sering terkena kain pel. Kasur – kasur di dipan tertata rapi. Dan yang lebih penting lagi aromanya hampir serupa di rumah pada umumnya, tak tercium aroma lain seperti bau pesing mengingat siapa penghuninya. Di dinding depan kamar bercat kuning kehijauan itu menggantung spanduk bekas kegiatan amal dan sebuah papan putih kusam tergantung di pojok kanan dinding di seberangnya berisi kutipan ayat alkitab dari kitab Yesaya.

Sebab seperti bumi memancarkan tumbuh – tumbuhan, dan seperti kebun menumbuhkan benih yang ditaburkan, demikianlah Tuhan Allah akan menumbuhkan kebenaran dan puji – pujian di depan semua bangsa – bangsa [Yesaya 61:11]

Kikuk? Iya. Tegang? Sedikit.

Ibadah dimulai sedikit terlambat karena Yogi kedatangan tamu. Ditambah lagi kami yang datang menyela mengajaknya berbincang 😉 Mereka yang di ruang itu pun menatap kami dengan pandangan beragam. Ada yang melihat dengan mata penuh tanya, ada yang melirik lalu menunduk saat mata bertabrakan, ada yang tersenyum bahkan senyum – senyum sendiri dengan pandangan kosong.  Saat Yogi masuk ruangan dan menempati bangku di belakang keyboard, semua yang di ruangan serentak berdiri.

Selamat siang, shalom. Maaf ibadah kita hari ini sedikit lambat.
Kenapa semua diam? Malu ya ada tiga tamu perempuan di depan? Gak usah malu.
Semua sudah pegang alkitab? Yohanes, Hans, alkitabmu mana?

Seseorang sigap berdiri dan berlari menjangkau keranjang putih di meja, menumpahkan isinya ke atas meja, sebelum mengambil satu alkitab dan kembali duduk.

Nyanyi apa kita hari ini?

skizofrenia, depresi, pengobatan gangguan jiwa, orang dengan skizofrenia

Yogi membuka ibadah. Salah seorang dari mereka maju ke depan menjadi pemimpin pujian. Belakangan, saya mengenal namanya Yanto. Suaranya lebih nyaring dari yang lain. Dulu, ia masuk ke panti karena keadaannya sama seperti yang lain. Kalau sekarang dia masih di sini karena dia mendapat kepercayaan membantu Rio mengurus keperluan teman – temannya di panti. Ibadah berlangsung satu jam diisi dengan puji – pujan, melafalkan ayat hapalan – bila tak salah mengingat ada 10 ayat alkitab yang mereka hapalkan siang itu – membaca firman Tuhan bersama – sama, khotbah singkat, dan berdoa.

Tak bisa dipungkiri perubahan sosial yang melaju pesat karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi; berdampak pada perubahan gaya hidup masyarakat. Mau tak mau, setiap orang pelan – pelan mesti beradaptasi. Mereka yang tak dapat menyesuaikan diri dengan perubahan – perubahan yang terjadi, akan dihantui kecemasan, stres, hingga mengalami depresi. Depresi yang berkepanjangan menyebabkan seseorang mengalami gangguan jiwa berat seperti skizofrenia.

Skizofrenia, gangguan kejiwaan yang menyebabkan penderitanya mengalami halusinasi, delusi atau waham, kekacauan berpikir, dan perubahan perilaku.

Andri dan kawan – kawan di panti rehabilitasi Pelita Jiwa ini contohnya. Selain karena faktor sosial, mereka ada di panti karena tak kuat menghadapi tekanan ekonomi dan psikologis karena kehilangan orang terdekat, juga karena tak tercapainya harapan setelah mendalami ilmu hitam. Tepat bila warga sekitar panti menyebut mereka orang stres. Karena, mereka tidak gila seperti anggapan umum di masyarakat kita jika melihat orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) berkeliaran di jalan. Mereka, orang dengan skizofrenia (ODS), yang mengalami gangguan jiwa berat sehingga cara berpikir, emosi, dan perilakunya terganggu.

Gangguan jiwa merupakan penyebab utama disabilitas (ketidakmampuan, cacat) pada kelompok usia paling produktif yakni antara 15 – 44 tahun – [dr. Vijay Chandra, Health and Behaviour Advisor WHO wilayah Asia Tenggara (WHO-SEARO)]

Stigma dalam masyarakat yang memandang ODS disebabkan kutuk, dosa, dan guna – guna membuat penanganan ODS lebih sering dibawa ke orang pintar bahkan dipasung keluarganya daripada diajak ke psikiater atau psikolog.

Berdasarkan data WHO (2016), sekitar 35 juta orang di dunia terkena depresi, 60 juta orang terkena bipolar, 21 juta terkena skizofrenia, serta 47,5 juta terkena dimensia. Sementara di Indonesia, dari data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas 2013) yang masih relevan jadi acuan saat ini menyebutkan 14 juta orang usia 15 tahun ke atas mengalami gangguan jiwa. Data itu juga mengungkap 15,8% keluarga Indonesia memiliki penderita gangguan jiwa berat diobati maupun tidak diobati dengan perbandingan 1 dari 1000 orang Indonesia atau 400.000 orang mengalami skizofrenia.

skizofrenia, depresi, pengobatan gangguan jiwa, orang dengan skizofrenia

Dari data di atas terlihat bahwa masalah kejiwaan di Indonesia memprihatinkan dan butuh perhatian serius. Jika tak ditangani dengan baik, jumlah kasus ODGJ akan terus meningkat dan berdampak pada bertambahnya penurunan produktivitas manusia dalam jangka panjang.

Yayasan Pelita Jiwa yang berdiri pada 2004 ini hanya satu di antara sedikit panti rehabilitasi jiwa yang ada di Indonesia. Meski memiliki kapasitas 100 tempat tidur di dua ruang tidur besar, Yogi membatasi maksimal 50 orang saja yang bisa ditampung untuk memaksimalkan pelayanan. Sejak dibuka, panti yang dikelola secara swadaya ini, penghuninya tak hanya datang dari warga di sekitar Kampung Sewan tapi juga dari luar kota seperti Lampung, Palembang, dan Medan. Walau terapi  yang diberikan sesuai ajaran kristen, menurut Yogi, tak semua penghuni panti beragama kristen. Ada beberapa yang beragama lain. Untuk itu, ada aturan yang dibuat terutama bagi yang beragama Islam. Sebelum dititipkan, keluarga harus membuat surat pernyataan tidak akan menuntut jika anggota keluarganya yang dititipkan di panti mendapat bimbingan rohani kristen terlebih jika nanti mereka keluar dan sembuh lalu memilih untuk mendalami kekristenan, tak ada yang akan dituntut. Itu adalah pilihan, karena terapi yang diberikan pun tak memaksa mereka masuk kristen.

Mereka setiap hari hanya diwajibkan mengikuti ibadah dua kali sehari, bersih – bersih, olah raga, dan kegiatan keterampilan. Lagi kata Yogi, beberapa di antara mereka yang beragama lain tidak tergerak untuk membaca alkitab tetapi tetap duduk di ruangan saat ibadah. Kita tidak bisa memaksakan itu, Tuhan Yesus hanya menjamah hati yang terbuka untuk Dia masuk. Terapi psikoreligius berlandaskan kasih yang diterapkan dalam keseharian ternyata mampu membantu pemulihan ODS dengan cepat, asal mereka mau buka hati untuk dijamah Tuhan.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari penghuni panti, ada biaya bulanan yang dibebankan kepada keluarga. Hanya saja biayanya tidak mengikat tapi disesuaikan dengan kemampuan keluarga. Ada yang malah tak membayar karena keluarganya sudah tak peduli, dan tak ketahuan lagi dimana mereka berada sehingga jadilah mereka penghuni tetap di panti.

Keluarga memegang peran paling penting dalam pemulihan skizofrenia. Karena keluarga adalah orang – orang yang paling dekat dan yang lebih tahu kondisi serta peranannya banyak memberi pengaruh pada ODGJ. Andri termasuk yang beruntung karena perhatian keluarga sangat besar untuk mendukung pemulihannya. Gisel puterinya yang memasuki tahun akhir kuliah di salah satu fakultas kedokteran di Jakarta berjanji seusai menjalani masa koas akan menjemput ayahnya pulang sehingga mereka bisa menjalani kehidupan normal seperti keluarga yang lain. Namun untuk saat ini, Andri yang sudah pulih harus bersabar sedikit lagi tinggal di panti. Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk sebuah proses pemulihan dan rekonsiliasi keluarga. Kasih Tuhan nyata, waktuNya tak pernah terlambat.

skizofrenia, depresi, pengobatan gangguan jiwa, orang dengan skizofrenia

Hal utama yang dibutuhkan ODS adalah perhatian orang – orang di dekatnya. Perlakukanlah mereka dengan wajar. Mengasihi bukan hanya kepada orang yang mengasihi kita, tapi juga kepada mereka yang membenci, mencemooh, bahkan  mencaci maki kita. Teladani Tuhan Yesus. Jangan melihat konsepnya tapi lihat sosok Yesus dalam hidupmu.

Pk 14 lewat … kami pamit pada Yogi, melangkah dari pekarangan panti bersama Gisel dan bibinya. Mereka berbelok ke kiri, ke jalan besar. Kami mengambil arah yang berlawanan menyusuri gang kampung ingin menikmati suasana perkampungan Cina Benteng di Kampung Sewan pada hari imlek.

Tuhan tidak pernah memberikan ujian melebih dari yang dapat kita tanggung. Bukan suatu kebetulan jika keisengan mencari alamat ini membuat kami bertemu dengan Andri dan teman – teman di panti serta ikut beribadah bersama mereka. Ketika Tuhan menggerakkan hatimu untuk melakukan kebaikan kepada sesama, janganlah berlambat – lambat. Segera responi panggilan Tuhan. Tuhan Yesus memberkati, saleum [oli3ve].

Ditulis untuk Buletin Oikoumene Persekutuan Gereja – gereja di Indonesia, dibagikan di sini sebagai dokumentasi.