Tags

, , , ,


Aku dan senja berjalan berlambat-lambat dari Tay Kak Sie ketika malam datang tergesa-gesa. Tiga langkah dari Kali Koping, sebelum senja bergegas menaiki jungkung yang ditambatkannya di sana sejak matahari perlahan-lahan turun di barat. Malam memintanya segera pulang, tanpa peduli aku masih ingin berlama-lama dengan senja. Aku tahu giliran malam untuk berjaga. Tapi, kenapa dia datang terlalu cepat? Senja melambaikan salam perpisahan. Tubuhnya beringsut ke dalam jungkung yang melaju perlahan-lahan mengikuti arah angin menuju ke barat hingga hanya pendar bayangnya yang tampak memerah di ujung-ujung bubungan rumah yang menjulang rapat-rapat di sepanjang bibir Kali Koping.

Kiang Cu Gee, Jiang Ziya, Klenteng Tay Kak Sie Semarang

Kiang Cu Gee

Gang Lombok pelan-pelan rebah dalam pelukan malam. Tak terdengar lagi suara cumbu wajan dengan sodet dari Kedai Lumpia di jalan itu. Aku tadi terlalu asik mendengar tuturan Kiang Cu Gee yang kutemui di beranda belakang Tay Kak Sie. Lupa bila senja datang, wajan dan sodet di kedai itu pamit beristirahat.

Lumpia Gang Lombok memang sangatlah termasyur di Pecinan Semarang ini. Kedai sederhana yang diwariskan Tjoa Thay Joe dan Wasih, istrinya yang Jawa tulen kepada keturunannya. Cintalah yang menautkan hati mereka, hati yang memadu melahirkan cita rasa yang nikmat pada segulung makanan yang berisi potongan kecil-kecil daging ayam, telur dan rebung. Mengingatnya, air liurku nyaris menetes bila tak buru-buru kuseka dengan ujung lidah. Meski siang tadi lidahku sudah mengecap lumpia, namun rasa lumpia yang berbeda di sini yang membuatku merindu.

laksamana cheng ho, diorama cheng ho, klenteng sam po kong

Diorama perjalanan Cheng Ho di Sam Po Kong

Tak ada tahun pasti kapan orang-orang Tionghoa mulai tinggal di Semarang. Ada yang mengira-ngira jauh sebelum 1000M, kaum petualang dari daratan Cina sudah menginjakkan kaki di sini. Yang pasti, catatan tentangnya mulai ramai disebut-sebut setelah jungkut-jungkut yang diturunkan dari armada Laksamana Cheng Ho berlabuh di Kali Semarang pada abad 15. Pada masa itu, juru tulis dari kerajaan Tiongkok yang menyertai perjalanan Cheng Ho memanglah rajin mencatat setiap jengkal tempat dan waktu yang mereka lintasi. Pada 1740 Semarang juga menjadi ramai didatangi para pengungsi Tionghoa ketika terjadi kekisruhan di Batavia. Mereka berduyun-duyun menyelamatkan diri dari Batavia yang bersimbah darah oleh amukan Adriaan Valckenier.

Ketika di satu daerah telah berkumpul beberapa orang sekampung, untuk mengeratkan tali persaudaraan, dibentuklah perkumpulan dan pertemuan demi pertemuan pun dijadwalkan untuk menjalin silaturahmi. Demikian halnya dengan warga Tionghoa yang mulai betah dan tinggal di sekitar bantaran Kali Semarang. Rasa Dharma adalah perkumpulan tertua Tionghoa Semarang yang masih berdiri hingga hari ini. Dibentuk di Gang Pinggir pada 1876 dengan nama Boen Hian Tong.

guzheng, alat musik tradisional cina, rasa dharma, perkumpulan tionghoa semarang

Guzheng

Dari Gang Lombok, malam mengantarkanku mampir sebentar ke Rasa Dharma menikmati secangkir wedang yang rasanya lucu sembari mendengarkan petikan guzheng, alat musik klasik dari Tiongkok. Saat denting dawai guzheng mulai meninggi, mendadak lampu mati. Gulita tak selalu menakutkan, ia mengajak imaji menari-nari mengingat masa-masa bersabar Kiang Cu Gee duduk bersendiri, mengail di tepi kali Weishu, menanti saat berjumpa Raja Wengwang. Damai itu dirasa, ketika hati lapang dan kita tahu bersyukur untuk setiap berkat yang dinikmati meski terang dan manis tak selalu menyertai.

Aku pun bersyukur ketika masih bisa mengudap dua potong Gandjelrel dan sebutir Bakpao yang kudapati tersaji di eCoffee, kedai kopi yang kumampiri usai dari Rasa Dharma. Tenang saja, ganjal rel ini tak akan merontokkan gigi. Ia terlalu lembut untuk itu. Ia terbuat dari tepung dan kawan-kawannya, bukan besi baja yang jadi bantalan rel kereta api. Nikmat ditemani secangkir kopi pahit.

gandjelrel, ganjal rel, kue khas semarang, kuliner semarang, pasar semawis

Gandjelrel

Malam semakin erat memeluk Semarang. Perutku mulai merengek-rengek manja. Ke Gang Warung langkah diayun, mencari sesuatu untuk menghiburnya. Di tempat ini pada akhir pekan dipadati warga sebagai tempat untuk bersua, mencuci mata, memanjakan lidah dan mencuci dompet. Sembari duduk-duduk mengitari meja-meja dan kursi-kursi yang ditata di depan bangunan-bangunan tua dengan aneka jajanan yang mencuri perhatian dan mengundang selera; berbincang dan mengunyah memanglah pilihan menyenangkan di Pasar Semawis.

Ketika satu perkumpulan mengagendakan kegiatan yang bermanfaat, tentulah akan membuat banyak hati senang. Pasar Semawis adalah keriaan pasar malam yang digelar di pecinan Semarang setiap Jumat – Minggu sebagai salah satu destinasi wisata yang digagas oleh Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata (Kopi Semawis) sejak 2004. Meski berada di pecinan tak berarti yang hadir di sana hanya kuliner khas Semarang yang lahir dari akulturasi budaya Tionghoa dengan Jawa. Di salah satu warung tenda, aku berbincang singkat dengan seorang anak muda yang asik mengipas-ngipas sate babi. Di belakangnya sebuah banner besar membuatku penasaran; Kedai Toraja Batak. Rupanya bapaknya orang Batak dan ibunya Toraja satu kampung pula dari SangallaΒ πŸ˜‰. Bernostalgialah kami, meski dia tak banyak tahu tentang Toraja, kunikmati setusuk satenya yang enak.

kuliner semarang, pasar semawis, warung semawis, pecinan semarang

Nasi Ayam

Pasar Semawis, sebelum berpisah dengan malam, kuriangkan penyesap rasa dengan Bakcang Daging, Tahu Gimbal, Nasi Ayam, Pisang Plenet, Es Cong Lik dan Liang Teh yang dihidangkan dalam tradisi tuk panjang. Di Pecinan Semarang, hati senang melihat pluralisme dengan indahnya mewujud lewat akulturasi seni dan budaya. Tak sekadar terhidang di atas meja, tak pula hanya tampak di depan mata karena ia pun dirasa lewat toleransi dalam keseharian yang terjalin antar warga yang tinggal dan yang mampir untuk merasa, saleum [oli3ve].