Tags

, , , , ,


Satu siang di Kota Lumpia, Semarang. Dalam kendaraan menuju Bandeng Juwana, sebuah informasi didengungkan dari bangku depan. Peringatan dini untuk tidak memenuhi perut dengan sajian icip-icip, karena makan siang yang sebenarnya akan digelar sejam lagi di destinasi berikutnya. Terpujilah Tuhan, meski jam makan siang sudah menjelang; perut masih berlaku manis. Ia tak merengek-rengek walau sepagian hingga siang itu dia hanya mendapatkan semangkok Soto Semarang Pak Man berikut 2 (dua) potong tempe goreng dan setusuk sate. Dia pun senang-senang saja ketika hanya mencicipi sepotong kecil Bandeng Asam Manis, setengah mangkok Bandeng Srani, dua suap Bandeng Garang Asem, secuil dua cuil Pepes Bandeng aneka rasa dan sekotak Teh Kotak. Lhoooo, icip-icipnya kalau digabung makan besar donk, Lip? Tapi kan makannya nggak pakai satu piring dan tak duduk diam di meja makanΒ  πŸ˜‰ #ngeles

Lumpia Semarang, Restoran Semarang, Jongkie Tio, Semarang Hebat, Kuliner Semarang

Lumpia Restoran Semarang

Baiklah, acara icip-icp selesai, perjalanan dilanjutkan. Pk 12.30 saat kami memasuki pekarangan resto di Jl Gajah Mada 125 – 127, destinasi yang diberitakan sebagai tempat untuk makan siang; Restaurant Semarang. Meski telah dibuka sejak 1990, ternyata tak banyak yang tahu keberadaanya. Saya cukup familiar dengan tempat ini. Ia tak berubah, masih tampak seperti kala terakhir mampir ke sini 3 (tiga) tahun lalu. Saat membuka pintu, setiap tamu akan disapa oleh pasangan Jawa yang bersetia di depan pintu itu. Di bagian kiri ruangan tempat yang dikhususkan untuk memajang gambar dan potret Semarang Tempo Doeloe koleksi yang empunya resto. Di sebelah kanan kasir dengan meja pajangan berisi beberapa buku tentang Semarang yang ditulis Om Jongkie Tio sedang di bagian tengah ruangan; meja-meja bulat untuk makan. Di serambi belakang, juga dimanfaatkan sebagai tempat makan yang pada hari-hari tertentu ada pertunjukan kesenian. Tampak pula beberapa pernak-pernik serta buah tangan dari beberapa kegiatan yang dipajang di sana.

Restaurant Semarang adalah tempat yang serta merta menjadi destinasi wajib didatangi setiap kaliΒ  berkunjung ke Semarang sejak pertama menikmati makan malam di sini 2005 lalu. Salah satu tempat untuk menikmati dan terlebih mendengarkan tuturan masa, Semarang Tempo Doeloe, langsung dari penutur Semarang, Om Jongkie Tio, sang pemilik resto. Ketika yang lain sibuk memilih tempat duduk dan menikmati suasana di dalam ruang makan, saya mendekati meja kasir, berbincang dengan mbak yang berjaga siang itu menanyakan keberadaan Om Jongkie.

Kuliner Semarang, Restoran Semarang, Jongkie Tio, Semarang Hebat

Restoran dengan konsep tempat makan heritage ini terkenal dengan Lontong Cap Gomehnya, menu favorit yang selalu dipesan pengunjung sedari dulu. Ia disajikan dalam pinggan yang cekung, terdiri atas 12 – 13 macam sajian makanan, dengan potongan-potongan lontong sebagai alasnya. Di atasnya ditambahkan suwiran opor ayam, buncis, telur rebus, Β serundeng, sambal goreng udang, tahu goreng yang dipotong dadu, docang (parutan kelapa + kedelai kukus), abing (campuran kelapa parut + gula jawa), kerupuk udang lalu disiram dengan kuah opor.

Om Jongkie muncul di resto saat Lumpia disajikan di atas meja. Berbeda dengan lumpia pada umumnya, Lumpia Restaurant Semarang tampak lebih padat. Rebung yang menjadi untinya pun padat menyatu sehingga tidak berceceran keluar ketika dimakan. Aroma rebung yang banyak dihindari orang tak lagi medok karena telah mengalami penyesuaian rasa. Setiap makanan yang tersaji di tempat ini memiliki kisahnya sendiri-sendiri. Menjadi bagian dari perjalanan masa dan perpaduan rasa serta akulturasi budaya dari ratusan tahun silam. Jika kamu beruntung dan bertemu dengan Om Jongkie, beliau dengan senang hati akan menuturkan kisahnya. Itulah kelebihan tempat makan ini yang tak akan dijumpai di tempat lain.

Lontong Cap Gomeh, Restoran Semarang, Kuliner Semarang, Semarang Hebat, Jongkie Tio, Sejarah Lontong Cap Gomeh

Lontong Cap Gomeh

Menurut Om Jongkie, Lontong Cap Gomeh adalah kreasi contekan orang Tionghoa atas hantaran yang diterima dari tetangga mereka yang muslim seminggu usai lebaran. Dalam tradisi Jawa dikenal sebagai Hari Kupatan. Sebagai tetangga yang baik, mereka pun rindu untuk membalas hantaran tersebut. Maka pada peringatan Cap Go Meh, orang-orang Tionghoa pun mengirimkan hantaran berupa Lontong Cap Gomeh yang telah dimodifikasi dari hantaran Kupat dan Opor Ayam kepada tetangga muslimnya. Karena di dalam budaya Tionghoa kesempurnaan dan keindahan selalu diibaratkan dengan bulan purnama; untuk merepresentasikan bulan purnama dibuatlah kupat lonjong yang kemudian dikenal dengan nama lontong. Lontong yang dipotong-potong bentuknya bulat, nampak seperti bulan bukan?

Tentang Lumpia, ia pun punya kisah sendiri. Lahir dari akulturasi Tionghoa dan Jawa yang disatukan oleh rasa cinta. Adalah Tjoa Thay Joe sebagai pendatang di Semarang membuka usaha makanan yang diisi potongan daging babi dan rebung. Satu hari, dirinya bersua dengan Wasih, perempuan asli Jawa yang menjual makanan sejenis dengan isi berbeda, kentang dan udang. Benih-benih cinta tumbuh di hati mereka, hingga mereka memutuskan untuk menikah dan mengembangkan usaha dagangnya. Lumpianya pun mengalami paduan rasa, isinya berganti menjadi campuran udang/ayam dan rebung. Sekarang, lumpia menjadi kuliner khas Semarang.

Restoran Semarang, Kuliner Semarang, Semarang Hebat, Jongkie Tio

Bersama Om Jongkie Tio

Sebelum santap siang dimulai, saya menyempatkan untuk berbincang dengan Om Jongkie. Dari kuliner beranjak ke pertemuan menyenangkan dengan anak-anak Oei Tiong Ham yang pernah datang ke Semarang dan ditemaninya menyusuri jejak ayahnya. Obrolan berpindah ke tempat-tempat seru yang sudah jarang mendapat perhatian hingga dikomporin untuk berkunjung ke monumen peringatan pertempuran 5 (lima) hari Semarang, Monumen Ketenangan Jiwa. Sudah terbayang serunya perjalanan ke sana di Minggu pagi, ketika mendapat kepastian tiket pulang ke Jakarta bukan malam tapi pagi – pagi. Hikmahnya, menumbuhkan harap akan ada kesempatan lain untuk mengunjungi tempat-tempat menyenangkan lainnya di Semarang, amiiin.

Restaurant Semarang
Jl Gajah Mada 125 – 127, Semarang 50134
Telp 024-8310140

Es Rujak Puspa, Restoran Semarang, Jongkie Tio, Kuliner Semarang, Semarang Hebat

Oleh-oleh wajib πŸ™‚

Es Rujak Puspa, dikeluarkan sebagai menu penutup hari itu. Ini salah satu the bestnya Restaurant Semarang juga yang tak boleh disia-siakan. Rasanya ya seperti rujak, asam manis seger. Bila masih kurang, boleh koq dipesan sebagai buah tangan untuk dibawa pulang. Alhasil, siang itu saya pamit dengan senang karena berhasil mendapatkan tanda tangan Om Jongkie di buku Kota Semarang dalam Kenangan, saleum [oli3ve].

Advertisements