Tags

, ,


Seorang pemuda dengan kaos oblong dan celana selutut melompat ke atas metromini, lintingan rokok yg masih menyala di tangan kirinya dihisap sejenak sebelum akhirnya dibuang seenaknya keluar jendela. Ditilik dari segi usia, tergolong sangat produktif dengan postur tubuh yg tidak terlalu tinggi dan agak kurus secara garis besar kelihatan sehat walafiat. Bersaing dengan suara bising metromini yg sangat berisik, pemuda itu mulai berpuisi atau deklamasi atau mungkin lebih tepat memelas kepada penumpang. Dimulai dengan kalimat pembuka kenapa dia menjalani profesi sebagai pengemis dengan alasan orang tua yg sudah tidak ada, tidak ada pekerjaan lain yg sesuai dan berbagai alasan klise yg mengada – ada.

Setengah mengantuk saya gak begitu memperhatikan setiap kata yg keluar dari bibirnya, jujur gak respek aza melihat orang yg sehat begitu menadahkan tangan kepada orang lain dengan mematok angka seribu perak sebagai nominal terendah yg bisa dia harapkan dari setiap tangan yg manaruh iba padanya.

“Seribu perak mungkin tidak seberapa buat saudara, tapi sangat bernilai buat saya”

Yeeeeeee … 2 lembar seribu perak itu ongkos saya dari Lebak Bulus ke Senayan mas ! Lha situ buat beli rokok !!

Tiba² dia dah berlutut mukanya mencium lantai bis yg kotor,”Saya rela bersujud di kaki bapak ibu bla ..bla ..blaaaaa…”

Lama juga dia dalam posisi seperti itu, hingga akhirnya berdiri dan mulai mengedarkan kantong permen dari kursi depan hingga belakang. Ada juga lho, ibu² yg merasa iba dan merogoh kantong tasnya untuk memberi selembar seribu perak sementara yg lain hanya mengangkat tangan sekilas sebagai tanda maaf tak dapat memberi.

Beberapa waktu yang lalu pernah lihat acara di salah satu TV swasta yg menyoroti seputar GEPENG (Gelandangan Pengemis) di ibukota, beberapa alasan mereka menjalani kehidupan seperti itu al :

  • Tidak perlu terikat waktu  kerja dari pagi – sore
  • Tidak memerlukan otak untuk berpikir, cukup pasang muka memelas dan menadahkan tangan
  • Uang yg diperoleh dari hasil mengemis selain untuk makan juga digunakan untuk mencicil perabotan rumah tangga termasuk barang elektronik dll

Pernah menerima forward email mengenai pengemis yg mengenakan handphone di Bandung ? Saya melihatnya langsung di atas JPO BendHil, kalau anda menyeberang di JPO ini coba perhatikan ada beberapa pengemis yg memang markasnya di situ. Pagi itu seperti biasa saya harus menyeberangi JPO ini kala berangkat ke kantor, di tanjakan kedua duduk seorang bapak dengan pakaian lusuh disebelahnya nampak seorang ibu yg dari bahasa tubuh mereka sepertinya suami istri. Si ibu ini memegang 2 buah HP, satu HP dia selipkan ke balik baju si bapak yg satu lagi dia masukkan ke dalam tas tangan yg dibawanya. Wuihhhhh …canggih, komunikasinya aza dengan HP Nokia yg dilengkapi kamera sementara yg lalu lalang di tempat itu belum tentu memiliki HP secanggih itu.

Coretan ini sekadar berbagi cerita buat yg biasa ngasih selembar dua lembar, berpikirlah dua kali sebelum memberi jika memang dengan niat untuk beramal hendaklah itu dari dalam hati jangan sampai sakit hati jika suatu saat melihat kenyataan yg jauh panggang dari api. Jangan membiasakan mereka menerima belas kasihan sementara badan masih sehat untuk bekerja.