Tags

, , , , ,


Kembalilah ke Jakarta dan berusahalah mengingat Aceh tentang keelokannya, mencintai negeri ini, bukan di bagian pengalaman pahitnya – [Rayhan]

Namaku Cut, selesai dibaca dalam sekali duduk dari bangun tidur hingga jelang makan siang. Perjalanan cinta, persahabatan, pengorbanan, perjuangan, perseteruan, kemunafikan dan harapan di daerah konflik yang diramu dalam sebuah kisah mengharu biru sehingga beberapa kali mesti menyeka hidung yang mendadak berair dan kaca mata yang berembun terhempas percikan air yang meluap dari bendungan. Arti kemanusiaan yang tersampaikan lewat pesan spiritual dan moral tersaji dalam 302 lembarannya.

Kisah perjalanan seorang perempuan berdarah Aceh yang tetap kembali ke tanah leluhurnya meski di sana dia pernah mengalami pengalaman pahit dalam sejarah hidupnya. Cut Gabrina Bleit, disandera oleh pasukan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) saat sedang dalam tugas menjalankan misi kemanusiaan di wilayah Takengon, Aceh Tengah. Ia kembali menjejakkan kakinya di bandara Sultan Iskandar Muda setahun setelah dirinya selamat pulang ke Jakarta.

Pada 2008 dokter Cut datang ke Aceh sebagai perwakilan dari Share Foundation, NGO yang diketuainya membawa bantuan medis untuk memberikan pelayanan kesehatan gratis kepada masyarakat serta membawa bantuan untuk rumah sakit di Aceh Tengah dan Aceh Utara.

Saat menghadiri pernikahan saudaranya di Meulaboh, Cut berkenalan dengan kombat GAM, Teuku Rayhan bin Daud Rahman sahabat Burhan, kakak sepupunya. Rayhan anak pengusaha perkebunan kopi terkaya dari Takengon, orang tua dan adik-adiknya mati di tangan TNI karena dicurigai sebagai bagian dari jaringan GAM. Rayhan lahir sebagai generasi pejuang GAM karena dendam yang menjalankan misi perjuangannnya dengan membangun jaringan lewat media dan pressure politik.

namaku cut

Namaku Cut, karya Tjut Fadluna Paramita

Rayhanlah yang mengantarkan dokter Cut dengan dua kawannya dokter Farrel dan dokter Shaffa ke Takengon. Karena terjadi perseteruan di antara mereka, Rayhan meninggalkan mereka di rumah peninggalan orang tuanya dan pergi tanpa pamit.

Ketegangan mulai terjadi saat dokter Cut dan dua rekannya dicegat oleh kelompok gerilyawan di tengah perjalanan mereka dari Takengon ke Lhokseumawe. Mereka disandera dan dibawa masuk hutan oleh pasukan Zulhamsyah.

Di tengah keputusasaan di markas GAM, ada pertemuan mengharukan antara Faiz dengan dokter Cut. Faiz, anak seorang serdadu GAM yang ditinggal mati kedua orang tuanya yang terbunuh saat terjadi kontak senjata GAM dan TNI semasa dirinya masih bayi. Dari cerita yang dituturkan oleh bibinya, Faiz meyakini dokter Cut adalah ibunya yang datang untuk menjemput dirinya di belantara. Faiz berusaha untuk menjaga dokter Cut, dia tahu ketika dokter cantik itu berencana untuk melarikan diri dari hutan, dia mengalihkan perhatian serdadu GAM meski untuk itu dia harus menerima hukuman.

Cut yang diketahui sebagai calon menantu seorang petinggi Polisi dijadikan target pertukaran nyawa untuk membebaskan 12 anak buah Zulham yang mendekam di penjara Kalisosok, Surabaya. Rayhan datang menyelamatkannya dan menjadikan dirinya sasaran pihak kepolisian untuk dijebloskan ke dalam penjara demi melindungi Zulham dan pasukannya.

Faiz harus tetap tinggal di hutan kala dokter Cut dan kawan-kawan dibawa keluar dari hutan. Berbulan-bulan Faiz setia menunggu kepulangan dokter Cut yang berjanji menjemputnya hingga satu hari, dirinya mendapatkan kenyataan bahwa dokter Cut bukanlah ibunya dan tak mungkin kembali untuk menemuinya. Sejak itu, Faiz jatuh sakit tanpa ada harapan untuk sembuh.

Sebulan jelang hari pernikahannya, dokter Cut membatalkan pertunangannya dengan Ilham anak petinggi Polisi. Ilham akhirnya berangkat ke New York untuk mengambil master demi mengobati luka hatinya sedang Cut memutuskan untuk kembali ke Aceh. Dirinya bergabung sebagai relawan dari Indonesia Mission Resque (IMR) dan meminta untuk ditugaskan ke Bener Meriah, tempat dirinya pernah disekap oleh gerilyawan GAM.

Di tengah gampong di dekat hutan itu, Cut kembali bertemu dengan Faiz. Melihat kondisi Faiz ia nekat membawanya turun gunung, keluar dari belantara. Tubuh ringkih Faiz yang didiagnosa kanker darah, dibawanya ke Bireun menumpang truk yang melintas di pinggir gampong (=kampung). Tak dinyana sopir truk yang ditumpanginya adalah panglima GAM yang pernah menyanderanya di tengah hutan, Zulham.

Dokter Cut! Mengapa kau kembali? Apa yang kau cari sebenarnya?” [Zulham]

Namaku Cut, sebuah fiksi yang diramu dari kisah nyata perjalanan rakyat Aceh berhasil mengobok-obok segenap rasa yang terhanyut dalam lambaian asa dan gelorakan rindu pada Nanggroe. Menyusuri lembaran perjalanan ke Meulaboh membangkitkan kenangan kala menyusuri jalan tersebut setahun yang lalu. Meski tak sampai Meulaboh namun pemandangan sepanjang jalan raya Banda Aceh – Calang yang menyilaukan mata tak menyisakan kesan bahwa daerah itu adalah kawasan terparah yang dilanda tsunami pada Desember 2004 lalu. Tak ketinggalan pesona Aceh Tengah dengan danau Lut Tawar, Bukit Menjangan, pacu kuda Takengon, aroma kopi Gayo yang menjadi daya tarik Takengon, diselipkan di antara rentetan cerita pilu maupun yang menegangkan.

“Cut, jaga dirimu baik-baik, maafkan semua pengalaman burukmu di tanah leluhur ini. Tak ada yang salah, tak ada yang benar. Tapi jalan perjuangan manusia .. terlalu misteri [Rayhan].

Kisah ini berakhir dengan sebuah sayembara (demikian yang tertulis di catatan akhir buku) yang membawa pembaca untuk mereka-reka misteri perjalanan hidup manusia.

namaku cut

Salah satu bagian yang cacat dari buku, kosong melompong

Sedikit masukan buat editor dan penerbit Namaku Cut untuk memperhatikan tata letak dalam buku ini. Line spasi di beberapa bagian buku berantakan, ada yang sangat rapat lalu mendadak di paragraf berikutnya sangat jarang serta beberapa lembar buku cetakannya miring ke kiri dan ke kanan. Jadi buat calon pembaca, sebelum melangkah ke kasir sebaiknya memeriksa setiap lembar bukunya agar saat terhanyut di tengah bacaan, ikatan emosinya tidak menguap karena mendapati beberapa helai kertas kosong melompong. Berdasarkan pengalaman saat menjajal bukunya di salah satu gerai buku; perlu membolak-balik lima buku untuk mendapatkan satu yang lembarannya utuh meski pada halaman-halaman awal tata letaknya berantakan dan ada lembar yang isinya berulang.

Penasaran dengan kisah cinta dokter Cut dan Rayhan? Atau bagaimana pembebasan dokter Cut dan kawan-kawan dari markas GAM? Haru biru kisah pertemuan hingga perpisahan Faiz dan dokter Cut yang berusaha membahagiakan Faiz sebelum terbang? Silakan cari bukunya dan telurusi setiap lembarnya. Jangan lupa siapkan sekotak tisu untuk melap ingus dan luapan air mata.

Setelah Perempuan Keumala, Namaku Cut buah karya seorang dokter ortodentis berdarah Aceh drg. Tjut Fadluna Paramita, SpOrt bangkitkan rindu untuk mewujudkan mimpi menyusuri negeri di atas awan, Takengon. Menelusuri jejak sejarah di Loyang Mendale serta menyesap kopi Gayo di tepi danau Lut Tawar. Lon Cinta Aceh, saleum [oli3ve].

Advertisements