Tags

, ,


Pantat yg mulai terasa panas karena duduk hampir 6 (enam) jam di dalam angkutan umum dari bis, elf hingga angkot ditambah kaki yang mulai terasa kram sebelah ; melayang seketika kala hamparan laut membiru dengan deburan ombak yg memanggil untuk mendekat di seling semilir angin pantai menyentuh pori² yang mulai lengket terpampang di depan mata sepanjang perjalanan melintasi jalan raya Bayah. Gak sanggup ungkapkan keindahan alam cipataan Tuhan dengan kata² kala biru yg kurindu hadir di depan mata.

Rencana awal bersolo traveling ke Sawarna mulai menggelitik setahun lalu, berbagai informasi pun mulai di google sana-sini. Impian dan kerinduan mewujudkan rencana tersebut semakin menggebu 2 (dua) bulan belakangan dan terus termimpi² 2 (dua) minggu menjelang keberangkatan. Nasihat dari beberapa teman cowok yg menyarankan untuk tidak berangkat sendiri tapi menolak saat diajak jalan bareng dengan berbagai alasan, tak menyurutkan langkah untuk segera berangkat. Akhirnya mencoba mengajak beberapa kawan yg punya hobby traveling, sayangnya seminggu menjelang keberangkatan Meidy urung untuk mengambil cuti, 2 hari menjelang hari “H” B!ng sms kena radang dan demam semalaman sehingga gak jadi ikut dan sehari sebelum jalan Endah confirm untuk ikut meski tak terbayang mau diajak kemana yg penting ke pantai !!!

Petualangan dimulai dari Slipi pk 06.35 setelah menyempatkan nyabu (nyarap bubur) dibawah jpo seberang harapan kita dengan menyegat Primajasa AC jurusan Kp Rambutan – Merak menuju Serang ditemani house music dangdut. Sampai di terminal Pakupatan Serang pk 07.47 langsung mencari toilet dan lanjut naik Elf ke Malingping pk 08.20 karena Damri yg langsung ke Bayah tak kelihatan di sana. Perjalanan melalui jalan beraspal yg cukup mulus dengan kiri kanan sawah menghijau, diselang seling dengan perkebunan kelapa sawit, perkebunan karet dan perkampungan adalah pemandangan yang bisa dinikmati walau sesekali debu beterbangan saat menemui jalan yg rusak di beberapa bagian serta kena macet saat melewati pasar tapi tentunya gak semacet Jakarta.

Pk 12.30 Elf yg kami tumpangi tiba di Malingping, kami memutuskan untuk langsung lanjut dengan angkot ke Bayah. Tak terasa lapar sama sekali, mungkin karena kerinduan akan biru lebih besar sehingga ingin segera sampai dan memeluknya. Begitu tahu tujuan akhir kami adalah Sawarna, sopir angkot menawarkan diri untuk menghantarkan sampai ke Sawarna dengan mencarter angkotnya karena tinggal kita berdua yg berada di angkot. Tawaran tersebut langsung disambar daripada mesti cari ojek lagi di Bayah.

Pk 13.30 kami diturunkan di depan rumah Pak Hudaya tempat kami akan menginap disambut dengan ramah oleh ibu rumah yg langsung menyuguhkan air putih melihat kami kelelahan setelah perjalanan jauh. Si ibu kembali ke dapur untuk menyiapkan makan siang sementara menunggu Ace putra keempat keluarga Hudaya menemani kami di ruang tengah sambil ngobrol dan membahas rencana selanjutnya. Siang itu sajian ikan goreng,sayur capcay, tempe orek dan sambel tomat nikmat banget turun ke perut.

Sawarna Day-1
Pk 15 kami mulai menjelajahi Gua Lalay (Lalay = kelelawar) berbekal sebuah senter ditemani Ace yg menjadi guide kami selama di sana. Dengan melepas alas kaki yg ditinggal di mulut gua, kami pun menyusuri sungai kecil di dalam gua yg airnya selutut orang dewasa dan dasarnya berpasir serta sekali² melewati kubangan lumpur sedalam betis. Di tengah² gua kami bertemu dengan rombongan Pak Azis dari RS Puri Cinere yg sempat²nya mengajak untuk berfoto bareng. Balik dari Gua Lalay lanjut menikmati sunset di Pantai Ciantir sekaligus melepas rindu pada debur ombak. Hampir 2 (dua) jam dihabiskan di pantai, saat air mulai pasang kami pun beranjak kembali ke desa untuk beristirahat. Malam itu di rumah Pak Hudaya selain kami berdua, juga ada sepasang turis Australia yg berniat untuk surfing selama 2 minggu di Sawarna.

Sawarna Day-2
Bangun pagi² langsung cabut ke Pantai Ciantir, pantai ini terkenal di kalangan surfer dari luar karena gelombangnya cukup bagus untuk surfing. Pagi ini ada 2 (dua) pria bule imut yg sudah menenteng surfing boardnya menuju pantai. Gelombang lebih tinggi dari semalam, hempasannya membelah melewati bibir pantai. Tak cukup 2 jam bermain di laut, tapi kami harus kembali ke desa karena sudah ada janji dengan Ace untuk beach trekking. Selesai sarapan, beach trekking dimulai menuju Tanjung Layar, konon karang ini adalah layar perahu raksasa yg kandas di sana, di sekitar tempat ini kita juga bisa menjumpai tapak kaki Kabayan sang raksasa dan lubang bekas tancapan tongkatnya.

Kaki terus melangkah menyusuri tepian karang ke Lagun Pari, disini asik lulumpatan dan bego²an berdua di pantai yg memang sepi. Kembali ke desa, Ace membawa kami trekking ke atas bukit melewati kebun kelapa dan persawahan dengan napas ngos²an menahan haus karena lupa bawa minum. Akibatnya, sesampai di kampong Leles segelas es cincau, segelas es asem² dan setengah botol aqua tandas dalam sekejap. Selepas makan siang, lanjut caving ke Gua Langir …tadinya mau ke Gua Lauk tapi karena sudah menjelang senja Pak Hudaya menyarankan untuk caving ke gua terdekat aza.

Lagi pula paginya saat ngobrol² dengan pak Mustafa salah satu local guide di sana, sempat ditunjukin beberapa foto Gua Lauk yg hamper sama dengan Gua Lalay masuknya menyusuri sungai kecil berlumpur juga. Dari gua Langir, menyempatkan diri untuk mampir ke kuburan Belanda (Tuan John Luis van Gogh), makamnya masih berdiri kokoh sayang bagian depannya sudah mulai rusak karena dibongkar warga yg percaya John dikubur bersama dengan harta bendanya.

Hari sudah senja saat kami kembali ke penginapan, ngobrol² di teras dengan keluarga Hudaya ditemani potongan semangka yg segar dari soal gitar (o,ya pak Hudaya ini mantan kades Sawarna dan juga pengrajin gitar serta biola yg cukup terkenal), obrolan lanjut ke burung wallet, tebak profesi (kata pak Hudaya secara body saya ini minimal pramugari atau polwan dan Endah adalah ibu guru he ..he..), terus cerita rakyat bahkan sempat conference call dengan seorang kenalan Pak Hudaya yg anggota milis sebelah.

Pk 20 setelah mandi dan makan malam, kami mengunjungi pasar malam yg diadakan setiap Selasa malam. Dapat rekomendasi dari bapak untuk mencoba martabak Pak Satibi yg tersohor di seantero desa tapi sayang malam itu Pak Satibi tidak berjualan, dan ternyata ada beberapa pelanggan yg juga datang mencari martabaknya.

Sawarna Day-3
Hari terakhir tetap harus ke laut, jadilah pagi² kita bermain di pantai Ciantir menikmati gelombangnya yg semakin tinggi. Enggan untuk berpisah dengan laut tapi kami harus kembali ke Jakarta, setelah beres² dan sarapan kami pun pamit. Dengan diantarkan kang Hendi dan Doller kami ngojek melintasi pantai menuju Bayah sambil tak lupa mampir di Pulau Manuk sebentar untuk motret. Sebenarnya ada Damri yg langsung ke Serang tapi baru ada pk 13 sementara kami sampai di Bayah pk 10. Dari pada bego gak menentu di Bayah, kami memutuskan langsung ngangkot ke Malimping dan mulai berbego ria di angkot yg sepi. Pk 10.45 naik Elf yg jalannya terlalu lemot ke Serang setelah sebelumnya mengisi perut di salah satu rumah makan Padang yg gak Padang banget.

Sampai di Pakupatan pk 15.43 ngangkot ke arah kota untuk membeli sate bandeng di Sampurna plus ngebakso buat mengganjal perut. Di tengah rintik hujan yg mengguyur Serang, kami berlari mengejar angkot menuju mulut tol Serang Timur menunggu bis jurusan Jakarta. Pk 18.05 kaki kembali menjejak bumi Jakarta di Pancoran dan lanjut nge-juice di pasar Benhil. Pk 20.00 berpisah dengan Endah untuk kembali bersua esok subuh di Komdak lanjut trip ke Ciwidey.

Mencapai Sawarna :
via Serang

Jakarta – Serang – Jakarta bus AC jurusan Merak Rp 16.000/Rp 20.000/orang (tergantung duduknya 2:3 ataukah 2:2)
Serang – Bayah/Malimping dengan Damri/Elf Rp 25.000 – Rp 30.000/orang
Malingping – Bayah – Malingping dengan angkot Rp 8.000/orang
Bayah – Sawarna – Bayah dengan ojek Rp 15.000/orang

Via Cimone
Jakarta – Cimone dengan bus
Cimone – Bayah – Cimone dengan bis Rudy
Bayah – Sawarna – Bayah dengan ojek

via Rangkasbitung
Jakarta – Rangkas – Jakarta dengan bis kecil
Rangkas – Malingping – Rangkas dengan Elf
Malingping – Bayah dengan angkot terus lanjut ngojek ke Sawarna

via Pelabuhan Ratu
Jakarta – Bogor dgn KRL or bis
Bogor – Bayah – Bogor dgn bis Rudy
atau Bogor – Pelabuhan Ratu dgn bis/Elf
Ada 1 Elf yg langsung menuju Sawarna dari Pelabuhan Ratu berangkatnya siang, dan dari Sawarna berangkatnya pk 06.30

untuk penginapan bisa menggunakan rumah penduduk dengan tarif Rp 100.000/ orang (untuk orang asing termasuk 3xmakan, untuk domestik dengan harga kekeluargaan)

Sawarna, 18-20 Mei 2008

Advertisements