Tags

, , ,


Sesekali kita butuh menyepi. Membiarkan jiwa bercakap-cakap dan berdamai dengan dirinya sendiri – [Eka Situmorang-Sir]

Kayla Ayu Siringo-ringo, seorang mahasiswi yang terancam DO (drop out) karena IPK jeblok memutuskan untuk merenung dengan caranya sendiri .. bertualang. Kayla mengambil cuti dari kampus dan melakukan perjalanan ke berbagai tempat yang menarik di  Indonesia selama 5 (lima) bulan. Perjalanan yang diawali dari mengisi liburan untuk menghindari amukan orang tuanya dengan kabur ke rumah Eyang Putrinya di Yogya, berlanjut merambah ke Malang, Bali, Lombok hingga Makassar. Dan, berujung pada petualangan untuk menemukan Sang Pangeran Fajar.

labirin rasa

Labirin Rasa karya Eka Situmorang-Sir

Perjalanan Kayla ke tempat-tempat tersebut memberinya kesempatan berjumpa dengan lelaki idaman yang diharapkan sebagai Pangeran Fajar yang dikirimkan oleh Eyang Kakungnya. Dalam perjalanan ke Yogya, Kayla berkenalan dengan Ruben yang diyakininya Sang Pangeran Fajar. Kehadiran Ruben berhasil mengaduk-aduk seluruh rasa yang kemudian menguasai alam pikiran dan nalar Kayla, seorang perempuan petualang yang tergila-gila pada gunung dan awalnya tak percaya akan cinta. Cinta itu ibarat labirin rasa, semakin kamu ingin keluar, semakin jauh kamu bisa tersesat.

Tiga lelaki yang ditemuinya dalam perjalanan Ruben, Dani maupun David telah membawa Kayla pada petualangan rasa dan angan-angan untuk memecahkan teka-teki tentang siapa sebenarnya Sang Pangeran Fajar yang dikirimkan Eyang Kakungnya. Perjumpaannya dengan Patar dalam perjalanan mencari akarnya ke Medan sama sekali tak ditanggapi oleh Kayla. Meski paribannya tersebut tampil sebagai sosok lelaki yang melindungi, mengayomi lewat perhatiannya yang dirasa tak romantis oleh Kayla, Patar tak masuk hitungan.

Terkadang kita dibutakan oleh selaput rasa yang menguasai hati sehingga nalar menjadi pincang dan melupakan orang-orang yang berada di dekat kita. Orang yang dengan gampang kita raih namun menjadi jauh karena angan melambung tinggi. Patar Linggom Sinaga, sang pariban yang tak digubris oleh Kayla, ternyata dialah sang Pangeran Fajar yang selama ini dicari ke sana kemari. Pada Patarlah akhirnya Kayla melabuhkan cintanya. Meski riak-riak menyertai langkah mereka, akhir dari perjalanan menemukan cinta membawa mereka untuk bertumbuh dalam hubungan cinta yang dewasa.

Labirin Rasa membawa pembaca merenungi lika-liku perjalanan hidup seorang anak manusia serta pertemuannya dengan beragam manusia di sepanjang perjalanan tersebut akan membuat kita lebih mengenal diri sendiri dan keinginannya. Ketika suntuk dan lelah menghampiri, perlulah undur sejenak dari segala kesibukan, memberi waktu pada diri untuk mengenal inginnya sebelum mengambil langkah selanjutnya untuk teruskan perjalanan.

Kekuatan cerita telah menutupi beberapa typo yang menyembul di beberapa lembaran buku ini seperti penulisan Chyntia/Tia jadi Kayla, Ruben jadi Patar. Mendadak terselip sub judul aneh dengan jenis huruf yang beda pada cerita perjalanan ke Malang dan Bali. Pembaca akan dibingungkan dengan alur cerita saat David dan Kayla di Sanur. Di awal kisah dituliskan mereka berdua memanjat taman terlarang tapi mendadak bermesraan di dalam kamar hotel lalu ending-nya Kayla melangkah sendiri ke kamar hotel (?).

logo-smartfren-anti-lelet-live-smartLabirin Rasa, satu dari sedikit buku yang berhasil dibaca dengan detail hingga ke tata bahasa dan penulisannya. Terlepas dari semua kekurangtelitian penyunting (semoga ada kesempatan untuk dibenahi pada saat cetak ulang mungkin); buku ini berhasil menyeret pembaca turut menyelami perjalanan Kayla. Jempol buku pertamanya Eka Situmorang-Sir yang telah menyulut semangat untuk kembali melirik daftar mimpi yang tertunda untuk mewujudkan perjalanan menyusuri Medan khususnya Brastagi [oli3ve].