Surya, Mentari, dan Rembulan: Sebuah Resensi dari Sudut Pandang Anak Toraja

bas plaisier, buku tentang toraja, sejarah dan budaya toraja, sejarah sosial toraja, novel toraja

Meski tak pernah menargetkan hendak membaca berapa banyak buku dalam sebulan, tetap ada saja buku yang dibaca. Tuntas tidaknya, tergantung kebutuhan serta menarik tidaknya apa yang dibaca. Di 2019 lalu, saya lebih banyak menumpang baca buku di perpustakaan dan toko buku. Alasannya sederhana. Buku yang dicari adanya di perpustakaan, juga karena tak ingin menambah sesak rak buku.

bas plaisier, buku tentang toraja, sejarah dan budaya toraja, sejarah sosial toraja, novel toraja

Salah satu yang tidak selesai dibaca namun menarik untuk diulas adalah Surya, Mentari, dan Rembulan. Sili Suli, penulisnya, menghubungi saya lewat surat elektronik di minggu kedua November karena membaca Resensi Film dan Buku yang menurutnya baik dan menarik. Jadilah novel yang diluncurkan (ulang) di Ubud Writers & Readers Festival 2019 lalu ini, buku pertama yang diulas di awal 2020 setelah ulasan buku hiatus 3,5 tahun! 🙂 Continue reading “Surya, Mentari, dan Rembulan: Sebuah Resensi dari Sudut Pandang Anak Toraja”

Memento Mori

blues merbabu, memento mori, 65, gitanyali, gitanyali blues merbabu, bre redana

Sudah lama sekali tidak membuat resensi bacaan yang menyenangkan. Kalau tak salah, terakhir 4 (empat) bulan lalu. Itu pun setelah 5 (lima) bulan dari resensi sebelumnya. Sepertinya saya sedang malas, tapi pagi ini karena sedang kepikiran, bolehlah saya tambahkan satu ulasan (eh dua deh) bacaan yang sempat dibaca bulan lalu. Yang lain menyusul saja ya  😉

Pada Hari Buku Nasional (17/05/2016) lalu, di beberapa tempat, para pegiat literasi kembali angkat bicara menyerukan kepada pemerintah agar mengambil kebijakan menghentikan pemberangusan buku-buku kiri dan kegiatan literasi yang belakangan marak (lagi) dilakukan oleh pihak-pihak tertentu sehingga menggelisahkan kalangan pegiat dan pecinta literasi.

blues merbabu, memento mori, 65, gitanyali, gitanyali blues merbabu, bre redana
65

Continue reading “Memento Mori”

56 Cara untuk Diakui Dunia

jadilah warga dunia, eileen rachman

Sekarang jamannya berinteraksi dengan teknologi aplikasi. Mau berkegiatan, dimudahkan dengan adanya aplikasi yang mendukung. Kepikiran ingin makanan kesukaan di rumah makan tertentu tanpa meninggalkan rumah, tinggal pesan lewat aplikasi melalui telepon pintar. Hendak bepergian; cari tiket pesan hotel buka aplikasi. Berencana menghadiri pertemuan di satu tempat namun enggan membawa kendaraan karena macet, pesan kendaraan jemputan pakai aplikasi.

Kebiasaan – kebiasaan yang tadinya dilakukan secara manual, beralih kekinian mengikuti perkembangan teknologi. Permasalahannya, banyak orang yang sudah kadung nyaman di lingkungannya, tak serta merta bisa menerima perubahan yang terjadi. Meski pun perubahan itu adalah untuk kebaikan diri, jika dirasa tak mendesak maka yang bersangkutan akan berusaha untuk bertahan dalam hangatnya tempurung peraduannya. Continue reading “56 Cara untuk Diakui Dunia”

Chairul Tanjung si Anak Singkong

anak singkong, chairul tanjung

Kemarin sore, selesai meeting dengan bos mendadak ada kehebohan karena dapat jatah buku gratis. Kalau tiap bulan ada yang mau bagi buku enak juga ya, lumayan jatah beli buku bisa dialihkan ke pos yang lain. Sebenarnya tiap awal bulan saya sempatkan untuk menebus buku yang sudah diincar sebelumnya di toko buku langganan untuk menambah bahan bacaan. Jatahnya minimal satu buku sebulan, tergantung tebal tipis dan berat tidaknya isi buku karena hal ini akan berdampak pada niat serta proses membaca. Tapi kalau lagi kalap terlebih bila terdengar rayuan pulau kelapa belanja dengan kartu ini dapat diskon sekian, maka buku yang dibawa pulang bisa buat bantal ;). Dengan dapat satu buku gratis bulan ini, jadinya gak beli buku donk karena akhir bulan lalu sudah belanja buku.

anak singkong, chairul tanjung

Jujur buku ini belum masuk dalam daftar antrian belanja, tapi karena ada yang memberi masa ditolak? Sebuah buku otobiografi yang sekarang lagi heboh karena ghost writer-nya angkat bicara dan menuntut karena namanya tidak tercantum di buku tersebut. Setahu saya,ghost writer bekerja di belakang layar dan banyak dikaryakan oleh penulis kondang karena kejar target ataupun orang-orang top yang tak memiliki banyak waktu untuk menuliskan otobiografi mereka tapi kredit penulisnya diberikan kepada orang lain. Setelah membaca buku Chairul Tanjung, Si Anak Singkong, Continue reading “Chairul Tanjung si Anak Singkong”

Labirin Rasa, Petualangan Mencari Pangeran Fajar


Sesekali kita butuh menyepi. Membiarkan jiwa bercakap-cakap dan berdamai dengan dirinya sendiri – [Eka Situmorang-Sir]

Kayla Ayu Siringo-ringo, seorang mahasiswi yang terancam DO (drop out) karena IPK jeblok memutuskan untuk merenung dengan caranya sendiri .. bertualang. Kayla mengambil cuti dari kampus dan melakukan perjalanan ke berbagai tempat yang menarik di  Indonesia selama 5 (lima) bulan. Perjalanan yang diawali dari mengisi liburan untuk menghindari amukan orang tuanya dengan kabur ke rumah Eyang Putrinya di Yogya, berlanjut merambah ke Malang, Bali, Lombok hingga Makassar. Dan, berujung pada petualangan untuk menemukan Sang Pangeran Fajar. Continue reading “Labirin Rasa, Petualangan Mencari Pangeran Fajar”

Haru Biru Berjumpa Oei Hui Lan di The Sugar Baron Room

oei tiong ham, oei hui lan, raja gula dari semarang

Ini kali keempat saya berkunjung ke kota Apel, Malang, Jawa Timur dalam 4 (empat) tahun berturu-turut. Kota impian sedari kecil yang akhirnya berhasil dipijak saat tugas kantor akhir 2009 lalu, meski hanya 24 jam tanpa tidur dan tanpa sempat kemana-mana. Yang penting sudah sampai Malang, TITIK! Paling tidak memecahkan rekor gaya nekat saya di 1997 kala rasa bosan mulai menggerayangi padahal baru dua minggu magang di salah satu kontraktor industri kimia di Anyer.

Sabtu pagi saat libur tak tahu mau kemana, saya bela-belain antri tiket feri di Pelabuhan Merak untuk menyeberang ke Bakauheni karena sangat ingin menginjak Sumatera. Sampai di seberang, saya bingung mau kemana? Haus dan lapar mengantarkan langkah ke salah satu warung makan Padang. Saya duduk menikmati santap siang sembari liatin orang mondar-mandir di pelabuhan menunggu feri yang akan kembali ke Pelabuhan Merak. That was my 1st solo travelling hahahaha. Continue reading “Haru Biru Berjumpa Oei Hui Lan di The Sugar Baron Room”

Citaku, Menyusuri Jejak Afrika


Suatu hari saat mencuci mata di toko buku langganan, sebuah buku di tumpukan rak buku baru menggoda perhatian. Sampulnya masih rapi tersegel dengan plastik belum ada satu pun yang dibuka. Hmmmm … karena teramat sangat penasaran, saya cek satu per satu untuk menemukan buku dengan plastik yang sudah tersibak sedikit. Sreeeeet! Dalam sekejap plastik bagian atas pun menganga sehingga bukunya bisa ditarik keluar *saya ngebayanginnya kayak melepas baju gitu hehehe*

Kenapa buku ini begitu menggoda sehingga saya perlu merobek pembungkusnya? Continue reading “Citaku, Menyusuri Jejak Afrika”

Untaian Garnet dalam Hidupku


Sore tadi saat mampir ke Gramedia, saya menemukan sebuah buku saku yang dipajang di bagian manajemen. Baru kali ini menemukan rak buku manajemen disisipi buku biografi, tapi demi melihat di sekitar rak petugas sedang berbenah kemungkinan mereka sedang melakukan rotasi. Dengan melihat sekilas gambar sampulnya, buku tersebut langsung saya comot dari rak dan ditenteng keliling toko mencari barang yang sebenarnya hendak dibeli.

Tak menemukan barang yang dicari, saya pun berpindah dari satu rak ke rak lainnya, membaca beberapa lembar halaman buku yang menarik hingga tanpa sadar sudah mengepit 4 (empat) buku. Setelah menimbang jatah beli buku, mana yang didahulukan dan mana yang harus masuk antrian; akhirnya satu harus berkorban sehingga yang lolos ke meja kasir 3 (tiga) buku saja. Jangan coba-coba mengintip isi buku jika tidak ingin tergoda hehehe. Continue reading “Untaian Garnet dalam Hidupku”

“Soegija,” Mengenang Perjuangan Romo Kanjeng di Tengah Krisis Kepemimpinan di Indonesia


Selama ini jika kita berbicara tentang pejuang maka kiblatnya lebih sering ke mereka yang maju di medan perang melakukan perlawanan terhadap musuh memanggul senjata dan bergerilya; dengan kata lain adalah orang-orang militer. Sedang mereka yang bergerak di bidang non militer atau sipil jarang disebut padahal mereka juga turut memberi andil lewat diplomasi, karya seni ataupun tulisan. Salah satu contoh pejuang yang namanya timbul tenggelam adalah Soegija yang memiliki nama lengkap Mgr Albertus Soegijapranata, SJ. Di kalangan umat Katolik namanya mungkin sudah tak asing dan masih sering terdengar tapi bagaimana dengan perannya di masa perjuangan kemerdekaan? Apakah ada yang mengulasnya?

*****

Minggu, 19 Desember 1948 Belanda melancarkan serangan udara ke atas ibukota RI Yogyakarta. Sebagai centre of gravity, Yogyakarta harus dilumpuhkan dalam sekali gebrakan demikian komando Jenderal Simon Spoor, Panglima KNIL dalam memimpin operasi militer yang dikenal dengan Operatie Kraai untuk Continue reading ““Soegija,” Mengenang Perjuangan Romo Kanjeng di Tengah Krisis Kepemimpinan di Indonesia”

Pak Moer – Poppy the Untold Story


Baru kali ini review sebuah buku tanpa ada niat untuk beli, tapi kalau ada yang mau ngasih ya akan diterima dengan senang hati 😉

Buku ini baru diluncurkan pada Minggu, 11 Maret 2012 di Gedung Dewan Pers Jakarta ,ditulis oleh seorang wartawan senior di lingkungan istana Derek Manangka. Setelah seminggu dipajang, pas balik lagi ke toko buku eh sudah ada yang dibuka sampulnya. Jadilah menerapkan sistem baca kebut dengan teknik skimming dan scanning sambil menunggu waktu ibadah. Continue reading “Pak Moer – Poppy the Untold Story”