Tags

, , , ,


Sabtu malam (5/1) lobi utama Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) temaram ditimpa cahaya lampu yang redup. Beberapa daerah Jakarta berselimut kedinginan habis disapa hujan membuat sebagian yang hadir semalam di NHM merapatkan jaket. Wajah lama, wajah baru dan yang sudah lama hilang baru terlihat lagi, satu per satu muncul di depan saya.

“Nomor 110 dan 111, mbak!”
“Malam mbak, saya belum daftar boleh ikut nonton gak?”

Apa yang orang cari berbondong-bondong datang ke museum saat gerimis mengguyur kota Jakarta dan malam minggu pula? Ada yang datang sendiri, lebih banyak berdua bahkan satu paket keluarga dari kakek, nenek, anak dan cucu membawa tikar berbekal bantal!

“Max Havelaaar!”

max havelaar

Max Havelaar menyampaikan uneg-uneg di depan ZM Willem III, Raja Belanda yang ditemuinya di Buitenzorg

21 Januari 1856, Max Havelaar bersama istri dan anaknya Maxie menjejakkan kaki di Lebak, daerah yang jauh dari Batavia sebagai Asisten Residen. Mereka tinggal di rumah dinas berbagi halaman dengan Mrs Slotering, janda dari asisten residen yang digantikannya.

Di hadapan bupati Lebak Adipati Karta Nata Negara, para Demang dan petinggi kampung di daerah Lebak, setelah pelantikannya sebagai Asisten Residen; Max berapi-api membeberkan pandangannya. Max tidak percaya di tanah Jawa yang subur, rakyatnya menderita kelaparan lalu meninggal dan sebagian besar penduduknya akhirnya merantau mencari penghidupan yang lebih layak ke Krawang, Batavia hingga Lampung.

Bukti yang ditemukan dari hasil investigasinya terhadap kasus yang menimpa Slotering membuatnya berang. Slotering meninggal diracun dalam sebuah jamuan makan karena memiliki bukti-bukti penyelewengan kekuasan yang dilakukan oleh Karta Nata Negara dan menantunya Demang Parangkujang. Perbuatan semena-mena para petinggi yang haus kekuasaan dalam merebut harta rakyat untuk kepentingan pribadi, mengambil paksa kerbau petani dengan janji akan dibayar dan meminta rakyat memotong rumput di halaman rumah mereka tanpa diberi upah; dengan alasan,”Itu sudah kebiasaan dari dulu Asisten Residen!”

max havelaar

Bupati Lebak (1830-1865), R. Toemenggoeng Adipati Karta Nata Negara

Banyaknya kejanggalan yang ditemui Max selama berada di Lebak yang bertolak belakang dengan hati nuraninya membuat emosinya memuncak. Tindakan feodalisme yang dimanfaatkan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk mereguk keuntungan dengan menutup mata pada penderitaan rakyat menyulut amarahnya. Laporannya yang tidak diacuhkan oleh Brest van Kempen, Residen Banten membuatnya mengambil keputusan mengundurkan diri dari jabatannya dan berniat melaporkan tindakan tersebut ke Gubernur Jenderal yang dianggap lebih bijaksana dan berpandangan liberal.

Max dan keluarganya meninggalkan Lebak membawa serta Adinda dari Badoer yang datang ke rumahnya untuk meminta bantuan atas pengalaman pahit yang menimpa keluarga dan masyarakat di kampung mereka. Bersama Saidjah kekasihnya, Adinda pernah bertemu Max di belakang rumah asisten residen saat kerbau ayah Saidjah diambil paksa oleh orang-orang suruhan Demang Parang Parangkujang untuk pesta penyambutan keluarga Adipati. Di tengah jalan, Adinda yang sudah putus asa kabur dari kereta dan mencoba mencari jalannya sendiri mengejar saudaranya ke Lampung.

Sengat korupsi dan praktek pemerasan yang telah menjalar dalam jiwa para petinggi pemerintahan mengalahkan hati nurani yang tulus dan tidak peduli pada sesama. Max Havelaar yang sampai di Buitenzorg tidak mendapatkan ijin untuk bertemu dengan Gubernur Jenderal hanya bisa melampiaskan uneg-uneg dengan penuh emosi di depan foto ZM Willem III, Raja Belanda. Pada saat yang hampir bersamaan di daerah Lampung, Saidjah mendapati kegetiran melihat kekasih hatinya Adinda terkapar di depan matanya.

max havelaar

Tangan Adinda terkulai tak berdaya, salah satu adegan dalam Max Havelaar

Max Havelaar lahir dari rasa kecewa dan perlawanan jiwa Eduard Dowes Dekker melihat penderitaan rakyat di Lebak. Sebuah novel yang dituliskan dengan menggunakan nama pena Multatuli dan terbit pada 1860. Setelah Nobar Tiga Dara (Sabtu, 20/9/2012) lalu, mengawali tahun 2013 SahaBATMUSeum (Batmus) kembali menggelar acara nonton bareng. Film yang dipilih kali ini adalah Max Havelaaar, film yang diangkat ke layar lebar berdasarkan buku karya Multatuli dengan judul yang sama.

max havelaar

Sumber inspirasi, Max Havelaar – Multatuli

Film tahun 1976 yang disutradarai oleh Fons Rademarker ini mengisahkan kehidupan di Lebak, Banten yang dipenuhi dengan penderitaan rakyat akibat perlakuan semena-mena para pemimpinnya dan dikenal dengan intrik dagang kopi. Sama dengan bukunya yang menggemparkan publik pada 1860, film ini pun menuai kontroversi dan diblokir oleh Badan Sensor Film Indonesia (BSFI) selama 12 tahun hingga akhirnya meluncur juga di Indonesia pada 1987.

Bersyukur pernah bertemu dan bertukar kisah dengan asisten sutradaranya alm. Mochtar Soemodimedjo saat Nobar Kereta Api Terakhir di Beos (Sabtu, 08/02/12) lalu, meski ada sesal belum sempat memenuhi undangan menonton Max Havelaar bersama di kediamannya; Yang Maha Pengasih terlebih dahulu memanggilnya pulang pada Senin, 14 Mei 2012 lalu.

Sebanyak 120 orang dari 192 nama yang mendaftar mengambil posisi duduk senyaman mungkin dengan senderan di pilar, selonjoran hingga tidur-tiduran di lantai Aula NHM atau yang sekarang dikenal dengan Museum Bank Mandiri (MBM).

sahabat museum

Name Tag-koe

Kegiatan nobar ini adalah ajang pemanasan sebelum acara Plesiran Tempo Doeloe (PTD) yang akan digelar oleh Batmus pada Minggu, 13 Januari 2013 mendatang untuk menyusuri Jejak Multatuli di Lebak. Bagi yang berminat untuk mengikuti kegiatan ini bisa mencocokkan jadwal dengan agenda kegiatan Batmus dan menghubungi nomor yang ada di informasi tersebut. Kenali sejarah negerimu, pupuk cintamu pada Indonesia. Salam pejalan dan penikmat sejarah. [oli3ve]

Advertisements