Tags

, , , ,


Siri’ (= budaya malu) membuat penanganan kasus HIV/AIDS ditutupi dan tak terdeteksi, bahkan karena ketidaktahuan ada pasien AIDS yang meninggal di salah satu rumah sakit di Toraja yang menjalani perawatan layaknya pasien umum.

“Tahu gak sih, di Toraja tempat karaoke adalah salah satu lokasi yang menjadi ajang pertemuan antara lelaki yang suka jajan dengan PSK terselubung.”
“PSK? HIV/AIDS? sumber penyebaran virusnya dari mana?”

Wowwwww! Sebuah topik yang sedikit berat namun menarik tersaji di meja makan saat pantat baru mendarat untuk menikmati sarapan sesaat setelah menjejakkan kaki di kota Anging Mammiri, Makassar pertengahan Desember 2012 lalu. Obrolan santai yang bikin penasaran darimana sumber penyebaran HIV/AIDS ini?

Saya jadi teringat khotbah natal di Gereja Rantepao, Toraja Utara Selasa (25/12/12) lalu yang dibawakan oleh Pdt. Lidya K. Tandirerung. Konon dalam satu ibadah minggu di satu gereja selesai menyampaikan khotbah tentang orang yang diberkati dengan rajin bangun pagi dan bekerja; seorang warga jemaat senior yang duduk di belakang tiba-tiba berdiri dan menginterupsi pendeta.

“Pak Pendeta, mohon maaf. Kalau saya perhatikan di kampung kita orang tak perlu kerja keras untuk menjadi kaya. Dengan tidur-tiduran dan bermalas-malasan pun bisa bangun rumah bagus.”
“Maksud bapak bagaimana?”
“Begini pak pendeta, banyak anak muda kita yang hanya tidur-tiduran dapat mengirimkan uang ke kampung untuk membangun rumah.”

lovely toraja

Pdt. Lidya Tandirerung menyampaikan khotbah natal di Gereja Toraja Jemaat Rantepao, Toraja Utara pada 25 Desember 2012

Khotbah disambut grrrrrrrhhhhh jemaat yang memenuhi halaman Gereja Besar Rantepao meski sambil kipas-kipas dibawah terik matahari. Kata tidur-tiduran dengan gampang dapat dicerna oleh otak masyarakat awam sebagai kata halus untuk menyebut PSK di negeri orang!

Para pendatang yang mencari penghidupan di Toraja dengan menjadi pramusaji di tempat hiburan malam yang kembali marak di Toraja, turut andil sebagai pembawa virus. Ok, mungkin tak semuanya karena belum ada angka survey akurat dari pihak terkait dengan masalah serius dalam masyarat ini yang dapat dijadikan acuan. Namun jika diperhatikan dari beberapa kasus yang terjadi, sebagaian besar kaum pendatang (termasuk perantau yang pulang menetap di kampung) yang sebelumnya bekerja di luar Toraja ini berkutat di tempat yang rawan penyebaran virusnya.

Kelompok lainnya adalah penasun (pengguna napza suntik), beresiko tinggi terinfeksi dan menjadi penyumbang menyebarnya HIV/AIDS dalam masyarakat. Lalu korban terdekat dan paling rentan terjangkit penyakit adalah ibu rumah tangga dan anak-anak yang tak tahu menahu sang bapak di luar rumah ternyata suka jajan; pulang ke rumah membawa oleh-oleh yang mematikan buat keluarganya. Dan semua itu terjadi karena kurangnya pengetahuan akan bahaya HIV/AIDS, penularan dan penyerebarannya!

Di lain kesempatan seorang kawan pernah membeberkan satu kasus yang menimpa seorang ibu rumah tangga yang hamil muda meninggal tanpa sempat ditangani oleh pihak medis. Dicurigai ibu muda ini sebagai salah satu pengidap HIV namun tak terdeteksi. Karena yang menjadi persoalan adalah meski tinggal hanya beberapa langkah dari puskesmas ibu ini tak pernah punya keberanian untuk memeriksakan kehamilannya. Parahnya lagi tak ada juga kunjungan dari dokter setempat yang memberikan penyuluhan ke warga. Hmmm, apa mungkin penyuluhan lapangan ini sudah gak berlaku ya?! Jika benar si ibu terinfeksi HIV, darimana asalnya? Bukankah sehari-hari si ibu berdiam di rumah?

Yang miris ketika mendengar penuturan seorang kenalan yang setahu saya sedikit bandel meski aktif pelayanan di lingkungan gereja secara blak-blakan mengatakan,”lho yang lain melakukannya kenapa saya tidak? yang penting kan mainnya pilih yang bersih dan di tempat yang aman!”

Dengan alasan mainnya pilih yang “bersih” dan tidak datang ke tempat pelacuran, kenalan tersebut pede tidak menggunakan alat pengaman ketika sedang bermain. Yakin aman? Yakin kawan mainnya tidak gonta-ganti bermain dengan yang lain? Adalah bijaksana melindungi keluarga di rumah dengan menggunakan kondom saat bapak jajan atau main di luar rumah. Namun akan lebih bijaksana lagi jika kuat iman dan menghindari jajan di luar dengan menyantap makanan sehat yang tersedia di rumah.

Berdasarkan data yang diunduh dari Ditjen PP & PL Kemenkes RI 30 November 2012 edisi 22 Desember 2012, kita dapat melihat statisik kasus HIV/AIDS di Indonesia berikut, Sulawesi Selatan berada di urutan ke-8.

data aids indonesia

Sumber : Ditjen PP & PL Kemenkes RI 30 November 2012

Sedang dari data Granat Toraja berdasarkan informasi yang didapat dari laman Sangtorayan, tercatat hinga Juni 2012 dari 11 kasus yang ditemukan di Toraja Utara 8 meninggal sementara di Tana Toraja terindikasi 31 kasus namun belum diketahui ada yang meninggal atau tidak. Toraja tercatat sebagai salah satu daerah penyumbang angka sebaran HIV/AIDS yang mengkhawatirkan di Sulawesi Selatan selain Palopo, Pare-pare, Gowa dan Sinjai.

Jadi apa yang perlu dilakukan?

  • Mendobrak budaya tabu membicarakan seks dengan memberikan pendidikan dan pengetahuan seks sejak usia dini
  • Agama sebagai landasan moral menjadi wadah bagi para pemimpin rohani untuk menyampaikan bahaya HIV/AIDS dalam pertemuan dengan jemaat
  • Penyebaran informasi tentang HIV/AIDS lewat media yang gampang diakses oleh masyarakat seperti flyer, audio visual maupun penyuluhan langsung on the spot di lapangan
  • Pengenalan kondom sebagai alat pengaman untuk mengurangi resiko tertular penyakit karena hubungan seksual
  • Jangan suka jajan di luar rumah!

Artikel terkait: