Tags

, , , , , ,


Mentari perlahan tersenyum dari balik bukit, sekilas jarum jam di pergelangan tangan kanan menunjukkan pk 07.30. Di ujung jalan, seorang lelaki mondar-mandir bak setrikaan mengamati dari kejauhan mungkin penasaran dengan sekelebat bayangan memasuki gerbang makam yang terbuka setengah di belakang sebuah gudang. Tempat perhentian yang sekian lama dirindukan itu mematung di depan mata. Untuk kedua kalinya ujung mata yang mulai digenangi setitik air perlahan menyusuri tulisan yang terpatri di atasnya. Ada desiran halus yang tiba-tiba menjalar di sekujur pembuluh darah membuat kaki undur tiga langkah merapatkan diri ke bibir pagar.

van de loosdrecht

Makam Antonie Aris van de Loosdrecht dilihat dari pintu gerbang

Setelah menguasai emosi, perlahan kaki diajak mendekat, mengusap makam yang di atasnya tersisa beberapa potong lilin. Hmmm … sepertinya ada yang habis doa malam namun hanya sekejap, terlihat dari potongan lilin yang tersisa masih cukup panjang. Perlahan seuntai doa mengalir dari bibir yang bergetar mengucap syukur padaNya,”terima kasih Tuhan telah mengirimkan dia yang terbaring di sini untuk bagikan pelitaMu di tanah ini.”

Antonie Aris van de Loosdrecht nama lelaki yang terbaring di sana, dilahirkan di Veenendaal 21 Maret 1885 dan mengecap pendidikan terakhir di Fakultas Teologi Universitas Heidelberg. Anton menikah dengan Alida Petronella Sizoo pada 7 Agustus 1913 setelah pertemuan singkat mereka dalam satu kuliah umum tentang misi baru ke masyarakat Toraja di Rotterdam. Pasangan muda ini mengisi bulan madu mereka dengan memulai sebuah perjalanan mulia menjadi misionaris utusan Gereformeerde Zendingsbond (GZB) di tengah masyarakat Toraja. Mereka menumpang kereta api dari Rotterdam menuju Genoa, Italia pada 5 September 1913 dan dilanjutkan dengan perjalanan laut menumpang kapal S.S. Vondel hingga turun di Tanjung Priok pada 4 Oktober 1913.

van de loosdrecht

Prasasti di atas makam Antonie Aris van de Loosdrecht

Selama di tanah Jawa, mereka mendapat pembekalan misionari di Sukabumi dan lewat kunjungan ke beberapa sentra misi pelayanan bersama misionaris senior sebelum melanjutkan perjalanan menuju Makassar dengan menumpang kapal S.S. van Goens dari Surabaya pada akhir Oktober 1913. Dari Makassar keluarga muda ini menumpang kapal kecil S.S. Reynst pada 28 Oktober 1913 menuju Palopo dan selanjutnya tinggal di Tentena, Poso hingga awal April 1914. Di atas Reynst, Anton berkenalan dengan beberapa orang Toraja yang turut berlayar termasuk Pong Maramba, parenge’ dari Rantepao (parenge’ = sebutan untuk kepala adat di Toraja) yang kemudian bersahabat dengannya.

Anton dan Alida menginjakkan kaki di Toraja pada penghujung April 1914. Namun sebelum menjalankan tugas misi dan menetap di Toraja, Anton van de Loosdrecht sudah sempat mengadakan perjalanan singkat ke Toraja pada November 1913.  Mereka bergerak cepat mengadakan survey untuk lokasi pembangunan sekolah misi bagi anak-anak Toraja meski tidak mudah untuk mengenalkan sesuatu yang baru bagi masyarakat setempat yang kala itu belum tersentuh pendidikan. Diperlukan usaha dan kerja keras tanpa kesan memaksa dalam mengenalkan pendidikan yang mendatangkan kebaikan untuk masa depan generasi mereka. Untuk menjangkau hati para orang tua, pendekatan dilakukan melalui anak-anak mereka dengan menawarkan pendidikan!

van de loosdrecht

Sepuluh makam yang berada dalam kompleks makam Antonie Aris van de Loosdrecht

Ada banyak kendala yang mereka temui selama mengumpulkan anak-anak untuk datang ke sekolah, dan ketika anak-anak telah terkumpul; hambatan berikutnya adalah kendala bahasa dalam menyampaikan materi agar mudah dimengerti oleh anak-anak di lingkungan yang hanya bisa berbahasa Toraja. Kegemaran orang Toraja berkumpul dan mendengarkan cerita yang disampaikan dengan sederhana dan menghibur, menjadi jembatan bagi Anton untuk menyampaikan kabar injil sukacita kepada mereka. Bersama Dr Andriani seorang ahli bahasa yang mendalami bahasa di Sulawesi bagian Tengah, Anton menulis buku bacaan sederhana dalam bahasa Toraja sementara Alida mengajari para wanita Toraja menjahit.

van de Loosdrecht

Makam Pdt M. Sirupa, satu-satunya makam orang Toraja di dalam kompleks tersebut

Selain sebagai guru injil, dalam kehidupan sehari-hari mereka pun menjadi penasihat perkawinan bagi warga yang mengalami problem rumah tangga dan berbekal kursus singkat yang didapat di rumah sakit Rotterdam, Alida juga membantu merawat warga yang sakit. Pelayanan mereka tidak hanya berpusat di Rantepao, setiap minggu Anton akan melakukan perjalanan ke beberapa kampung untuk melakukan misi pelayanan dan membuka sekolah baru. Untuk mengisi kekosongan tenaga pengajar, guru-guru perbantuan didatangkan dari Manado, Sangir dan Ambon.

Antonie Aris van de Loosdrecht menghembuskan napas terakhir setelah sebuah tombak  disarangkan oleh Pong Masangka ke dada yang mengenai jantungnya sehingga mengalami perdarahan yang hebat pada 26 Juli 1917 di Bori’. Orang yang telah menjadi sahabatnya, yang selalu dibawa dalam doanya telah menghabisi nyawanya. Semua itu terjadi karena sakit hati Pong Maramba atas keinginan hatinya memiliki Alida istri Anton.

van de loosdrecht

Biarlah terangmu tetap bercahaya seperti lilin yang menerangi kegelapan

Pada awal 1918, Alida bersama tiga orang anaknya meninggalkan Rantepao dan pindah ke Solo, Jawa Tengah untuk bekerja di sebuah rumah sakit misi. Di Solo, Alida kehilangan seorang puteranya karena terkena wabah diare. Pada 1928 Alida memboyong dua putrinya ke Oegstgeest dekat Leiden dan menetap di sana dengan tetap aktif bekerja di kegiatan gereja hingga akhir hidupnya. Rumah mereka sering menjadi tempat pertemuan para pelajar Indonesia yang menimba ilmu di Leiden termasuk diantaranya Ferdinand Tampubolon, Amir Sharifuddin dan Mohamad Hatta.

Kini hampir seabad berlalu, Anton dan Alida sudah tiada namun semangat dan benih yang mereka sebar di Toraja kini telah berbuah. Sejam bercengkerama dengan sepi dan menikmati cinta Tuhan di tempat ini, teringat ucapan terakhir Anton sebelum kepergiannya,”Saya tidak mengerti mengapa orang Toraja ingin membunuh saya. Saya tidak pernah menyakiti mereka; malah sebaliknya berbuat baik terhadap mereka.”

Sebait pujian bagi DIA terangkai mengiringi langkah kaki beranjak dari depan pemakaman:

Kau Allah yang besar, ajaib dan mulia
Kau Yesus yang selalu membuatku terpesona
Segala pujian bagiMu ya Tuhan
Hanya Kau yang layak kuagungkan

Selamat beristirahat martir Tuhan, tenang dan damai dalam pelukanNya. Semoga kita bisa menghargai dan bersyukur untuk setiap karya Tuhan dalam kehidupan kita, salam wisata religi.[oli3ve]

Sumber inspirasi:
  • Kenangan masa kecil bersama alm. Papa saat pertama kali diajak berkunjung ke makam Antonie Aris van de Loosdrescht.
  • Kenangan manis bersama Laura, Dorathea, Juho dan anak-anak misionaris yang menjadi teman bermain semasa TK serta kebaikan hati para misionaris yang pernah tinggal di dekat rumah dan selalu menjadi cerita hangat ketika dituturkan oleh alm. Oma dan Mama.
  • Dari Benih Terkecil Tumbuh Menjadi Pohon, Kisah Anton dan Alida van de Loosdrecht, Misionaris Pertama ke Toraja – Anthonia Arisa van de Loosdrecht – Muller, 2005
Advertisements