Tags


Sabtu 27 Mei 2006, pk. 08.00 setelah menghabiskan sarapan (bagi saya sih sarapan kedua berupa nasi kuning yg memang sengaja beli 2 dari ibu² yg berjualan di penginapan) iring – iringan kendaraan kami meninggalkan kawasan Karangkamulyan menuju desa Kawali. Ini hari terakhir plesiran di Ciamis dalam mengisi liburan panjang, dan masih ada 2 tempat yg akan dikunjungi yaitu kawasan situs Astana Gede dan Curug Tujuh.

Pikiran saya masih kalut setelah mendapat sms dari adik di Yogya yg mengabarkan keadaan Yogya setelah kena gempa ditambah sms dari Endang Batmus yang sangat shock karena berada di lokasi pada saat kejadian dan terus²an mengabarkan keadaan di sana. Saya gak bisa menghubungi HP kedua adik saya, Steven yg di Yogya maupun Vian yg di Jakarta sementara HP sudah sekarat karena selama di penginapan gak bisa nge-charge jadinya tiap kali coba telpon pasti langsung mati.

Saya gak  tahu keberadaan adik bungsu saya di Yogya, tapi saya percaya Tuhan pasti menyertai dia. Setelah mencoba menghidupkan kembali HP, saya akhirnya memilih untuk sms Vian lewat pacarnya untuk telpon ke Yogya (calon adik ipar pasti dunk berbaik hati sama calon kk ipar :p). Benar aza, setelah terima report HP mati total. Untuk menghilangkan kegalauan, saya ngobrol dengan Ria teman sebangku dan teman sekamar sejak dari Jakarta.

Kondisi mobil yang terbalik

Kondisi mobil yang terbalik

Di tengah jalan, mobil diberhentikan oleh anggota polisi yang sedang melakukan sweeping, biar bisa lolos dengan cepat dari polisi yang biasanya suka mencari² masalah; sopir menyelipkan uang dua puluh ribu dibalik surat² mobil yang memang lengkap. Sayang moment tersebut tidak sempat tertangkap lensa kamera karena saat mau menghidupkan kamera polisinya keburu jalan ke belakang mobil tapi saya sempat baca namanya Sugiana.

Lepas dari pemeriksaan, mobil berhenti beberapa meter dari tempat tersebut menunggu mobil coklat yang tak kunjung muncul, belakangan dapat info dari bang Napi kalo mereka kena tilang. Setelah mobil coklat kelihatan, barulah mobil berjalan kembali dengan tetap berada di posisi depan sementara satu mobil yg lain sudah jauh di depan kita.

Suasana di mobil kembali hening, saya bersiap² untuk mengambil posisi tidur karena hari ini kita jalan dari penginapan pagi² buta apalagi jalan berkelok – kelok daripada kepala pusing mending tidur. Belum sempat mata terpejam, saya melirik ke spion tengah dan  saat yg bersamaan pak Rizal sopir kami berteriak,”Astaghfirullah mobil belakang terbalik!!” Sontak seisi mobil kaget, saya pun langsung berdiri dan memutar badan menengok ke belakang, bener aza … di belakang yg terlihat cuma bagian roda mobil yg terbalik.

“Turun mbak, bantuin teman – teman di belakang .. itu mobil rombongan kita!”

Setelah mobil berhenti, kita semua turun sambil tak lupa titip pesan agar ada yg tinggal menunggu barang di mobil, tahu sendiri khan sekarang kalo ada yg celaka yg diselamatkan barang²nya dulu …korbannya ditinggal begitu saja.  Saya turun dari mobil dengan badan yg gemetaran berlari bersama Ibeth menyusul Mas AMGD dan Pak Rizal yang sudah duluan ke arah mobil coklat yg terjungkal di ujung jembatan. Kepala mobil tersangkut di palang ujung jembatan setelah terguling di jalan yg menurun dan berkelok. Jantung saya berpacu dengan cepat, koq ‘gak kelihatan ya teman² keluar dari mobil itu ?

Kondisi di dalam mobil sehabis kecelakaan

Kondisi di dalam mobil sehabis kecelakaan

Kita berhenti tak jauh dari mobil coklat dan melihat asap masih mengepul dari mesin mobil. Mas AMGD berlari ke arah depan sementara Pak Rizal berusaha membuka pintu bagasi mobil dengan kunci mobilnya tapi tidak bisa dibuka, akhirnya Pak Rizal naik ke atas mobil dan mengambil kunci dari balik kaca sopir. Ibeth mulai berteriak minta tolong ke orang² sekitar agar datang membantu kita. Untuk menyelamatkan teman² yg terperangkap di dalam mobil, pintu bagasi dibuka dengan terlebih dahulu mengeluarkan semua barang dari bagasi dan diamankan ke mobil biru, akhirnya satu persatu teman² bisa dievakuasi dari kerangka mobil. Semua seperti mimpi, dan entah dapat kekuatan dari mana saya menenteng 4 tas besar² sekaligus berlari dari lokasi kejadian ke mobil biru dan menyerahkannya ke Endah untuk dimasukkan ke mobil.

Sebelum balik lagi ke mobil coklat, saya bertemu Yanthi Batmus dan ibunya yang menumpang di mobil coklat, mereka gak pa-pa hanya ibu Yanthi kaca matanya pecah dan pergelangan tangannya bengkak karena terkilir menahan berat badannya saat mobil terjungkal. Bang Napi yg keluar dari mobil dengan memegangi kepala mengalami luka di siku, karena darahnya mengalir di baju saya pikir kepalanya pecah ternyata saat mobil mulai oleng dia dengan reflek melindungi kepalanya dengan kedua tangan agar tidak terkena pecahan kaca.

Teman² yg cedera Henry Friesland yg mengalami luka² disepanjang lengan sampai pergelangan tangan kiri, Yani pelipis kiri bengkak, Alma yg dikhawatirkan patah tulang serta Indah di evakuasi ke RS Al-Arif untuk mendapatkan pertolongan pertama.  Sementara Yanti, ibunya Yanti dan Pauline yg sangat shock dan pusing menyusul dengan mobil biru. Untuk memastikan tidak terjadi luka dalam, kita menunggu dokter untuk melakukan roentgen terhadap Alma yang tidak bisa menggerakkan tangan dan lehernya. Sejam di Al-Arif, dua petugas polisi datang untuk mengumpulkan informasi seputar kejadian yg kita alami.

Menanti di depan RSU Permata Bunda, Ciamis

Menanti di depan RSU Permata Bunda, Ciamis

Karena fasilitas di Al-Arif tidak memungkinkan, akhirnya Alma dirujuk ke Permata Bunda; kita yg menyusul malah ‘nyasar ke RSU Ciamis. Sesampai di Permata Bunda kita bergerombol masuk ke ruang gawat darurat, dari dalam terdengar lengkingan kesakitan yang memilikan telinga. Dalam hati saya bertanya, Alma diapain ya koq sampai teriak² begitu ?  Setelah dicek ternyata salah, dan dari informasi seorang petugas di situ Alma telah dibawa kembali ke Al-Arif karena dokter bedah tulang sedang seminar ke Bandung. Akhirnya, kita kembali lagi ke Al-Arif sambil menunggu satu mobil pengganti dari Kuningan untuk bisa kembali ke Jakarta. Saya menyempatkan untuk men-charge battery HP dan mengikuti berita seputar gempa di Yogya melalui Metro di ruang apotik.

Mas AMGD juga mengumpulkan semua rombongan untuk voting siapa yang masih akan melanjutkan perjalanan ke Astana Gede dan siapa yg memilih untuk balik ke Jakarta. Dalam situasi seperti ini, semuanya kompak untuk menunggu kendaraan pengganti dan pulang bareng ke Jakarta. Sambil mengisi waktu, beberapa teman ada yg asik menonton TV, yang lain ada yg ngobrol di selasar rumah sakit sementara saya bersama Ibeth, Ria, Jenny dan Halimah selonjoran dan ngobrol sambil cekikikan di halaman rumah sakit sampai kena tegor. Di sela² obrolan saya akhirnya bisa menghubungi Steven dan thanks God dia gak pa-pa, demikian juga Vian yg telpon kalo dia juga sudah contact ke ortu di kampung mengabarkan kabar Steven, soalnya bokap nyokap tuh paling khawatir sama kita² yg hidup jauh di rantau orang he..he ..namanya juga orang tua ya.

Pk. 12.30 rombongan pertama dengan mobil biru yg berisi : bang Napi, Yanthi Batmus dan ibunya, Intan, Ria, Henry Friesland, saya, Lina , Fenni, Yani, Arien, Fanni, Ibeth, Endah dengan disopiri Pak Rizal kembali ke Jakarta lebih dulu dan tiba dengan selamat pk. 19.00 di halaman Al-Azhar. Syukur atas segala pimpinan, kasih dan anugerah yang Maha Kuasa untuk segala yang boleh terlewati hari ini.