Maghrib di Baiturrahman

masjid baiturrahman aceh, syarat berkunjung ke masjid baiturrahman aceh, ke aceh harus berjilbab

Banda Aceh sore itu. Kita duduk melepas penat, menikmati seduhan kopi dari sebuah kedai kopi yang berdiri di salah satu pojok Blangpadang. Pilihanmu es cappucino, sementara aku, memesan kesenangan lidahku; sanger dingin.

Maghrib sebentar lagi datang. Kita harus bergegas ke Baiturrahman, agar tak terlambat menyambutnya.”

masjid baiturrahman aceh, syarat berkunjung ke masjid baiturrahman aceh, ke aceh harus berjilbab
Selamat datang di Serambi Mekkah 😉

Kuseruput sanger yang tersisa di dalam cangkirku sebelum kubereskan  tagihan pada si abang penjaga kedai yang sedari tadi kuperhatikan sebentar – sebentar melirik ke meja kita. Rupanya si abang penasaran, kamu makhluk dari bumi sebelah mana? Kenapa rupanya tanyanya senada dengan penjaga Museum Tsunami yang kita mampiri tadi? Serupa jawabanku di museum, kuberi jawab si abang itu dengan,”PERI[bumi], bang.” Jawaban yang membuat mereka puas – kurasa – karena tak kudengar lagi tanya yang mengikutinya.

Selangkah dua langkah terayun, aku teringat pesan seorang kawan ketika kuutarakan niat untuk kembali ke Baiturrahman,“Eh Nong, jangan coba – coba melangkah ke Baiturrahman bila tak mengenakan busana syar’i!” Continue reading “Maghrib di Baiturrahman”

MenjumpaiMu di Baiturrahman

masji baiturrahman

Tahu apa kamu tentang Aceh?” gema tanya sinis memenuhi kepala saat kaki perlahan diayun ke dalam pelataran Baiturrahman. Tanya yang kau gaungkan dua minggu setelah tsunami memporak-porandakan Aceh. Semua bermula dari sebuah pesan berantai yang tersangkut di kotak suratmu, dan di sana kau temukan namaku berderet bersama nama-nama lain yang membuatmu meradang dan memaki penuh emosi lewat telepon.

Malam mulai menua, di bawah kaki menara aku mematung, memandang nanar pada rembulan yang ragu bangkit dari peraduannya. Hmmm … tahu apa aku tentang Aceh? Baiklah, kan kuceritakan padamu sepotong kisah yang aku tahu. Entah apakah kau pernah mendengarnya atau mungkin pula telah mengetahuinya, aku kan tetap berbagi kisahnya dari tempatku saat ini menjejak.

masjid baiturrahman
Di kaki menara itu kupenuhi panggilanMu

Berpedoman pendar cahaya lampu taman yang temaram, perlahan kuayun langkah mendekati pokok ketapang yang menghiasi pelataran bait suci. Sebongkah semen dipatok di sana, di atasnya terpatri tulisan yang samar terbaca .. Continue reading “MenjumpaiMu di Baiturrahman”