Lelaki Berdagu Biru

Turkish Graveyard, Kuburan Turki di Aceh, Jejak Turki di Aceh, Gampong Bitay

Sinar mentari merengkuh tanah saat kami menggapai gerbang Gampong Bitay, Meuraxa. Sesuai perkiraan ketika melihat plang penunjuk arah di persimpangan jalan kala meluncur ke Gampong Punge Blang Cut pagi tadi, bila bersetia mengikuti jalan lebar yang beraspal; sebentar juga sampai. Tapi Hadi yang tiga tahun lalu menemani berkeliling jejak sunyi, tetap menepikan kendaraan di depan sebuah kedai untuk memastikan kami tak salah mengambil arah.

Bang Pasha, kita sudah sampai. Turun yuk,” seruku pada si ganteng yang belum juga menemukan posisi duduk yang nyaman di kabin belakang mobil yang membuat badannya sedikit terlipat.

Turkish  Graveyard, Kuburan Turki di Aceh, Jejak Turki di Aceh, Gampong Bitay
Jejak yang tertinggal di Gampong Bitay

Lelaki berwajah tirus dengan dagu hijau kebiruan itu; kulit kuningnya berkilat diterpa cahaya matahari. Dirinya menjulang di depanku sesaat setelah Hadi kumintai tolong untuk mengabadikan gambar di depan gerbang taman. Diayun-ayunkannya kakinya yang tadi terlipat di mobil sembari menebar senyum mengajak melangkah ke dalam tempat peristirahatan yang senyap itu. Pasha menguntitku sejak kemarin petang. Kata kak Yasmin yang menemani ke Bukit Malahayati, dia melihat lelaki tinggi kekar dan ganteng itu mengawaniku berbincang saat bermain ayunan di bawah pohon beringin besar yang tegak di belakang Indra Patra.

Continue reading “Lelaki Berdagu Biru”

Pieter de Bruijn

Siron Mass Grave

Matahari hanya diam, ia memandangiku dengan muka ditekuk-tekuk. Belumlah waktunya makan siang, namun dirinya tampak sudah terlalu lelah dan hendak menangis saja. Harusnya yang tersedu si Darlang, yang berdiri tanpa kepala di depanku. Kepalanya hilang entah kemana. Aah, keterlaluan sekali mereka yang tega memisahkannya dari si empunya badan. Beruntung aku melihatnya di saat matahari masih ada, sehingga tak perlu khawatir berlebihan saat menjumpainya menyendiri di sudut kerkhof.

Apa yang membuat orang menghancurkan jejak masa, sebuah karya yang seharusnya bisa dinikmati oleh generasi yang lahir jauh setelahnya? Uangkah? Kebanggaaankah? Kepongahankah? Atau kebencian?

Pikiranku sedang berputar-putar memikirkan semua itu ketika lelaki di depanku ini mendadak muncul dari belakang Darlang. Lelaki berkulit hitam, yang sorot matanya tajam, yang raut mukanya terlihat bersahabat meski tampak kikuk berhadapan dengan orang yang baru dijumpainya.

Continue reading “Pieter de Bruijn”

Manuskrip dari Aceh

asa untuk nanggroe, harapan untuk nanggroe, monumen tsunami aceh

Aku beringsut dari balik selimut di saat sebagian besar penghuni bumi lebih memilih untuk meringkuk di kehangatannya. Saat gelap masih menyelimuti cakrawala dan dingin sedikit menusuk, aku memilih mengantri di depan petugas bandara. Menunjukkan boarding pass, bergegas memanggul Meywah dan Onye mencari tempat bersandar untuk memejamkan mata sebentar saja. Namun, sebentar menjadi sangat langka.

Di ruang keberangkatan, obrolan tentang perjalanan tak dapat ditampik mengisi waktu penantian terbang saat bersua dengan Vera, teman berjalan. Ya, stasiun bus/kereta, terminal keberangkatan/kedatangan, dan destinasi yang dilalui adalah tempat para pejalan dipertemukan. Pertemuan di tangga toilet ruang keberangkatan membuatku sebentar  lupa pada kantukku hingga penantian itu berakhir jua pada pk 05 kurang sedikit ketika pengeras suara memanggil calon penumpang yang akan terbang ke Medan dan Banda Aceh masuk ke pesawat.

perpustakaan ali hasjmy, ali hasjmy, perpustakaan banda aceh, zentgraaff, sejarah aceh
Menyelami Aceh di Perpustakaan dan Museum Ali Hasjmy, Banda Aceh

Continue reading “Manuskrip dari Aceh”

Menyusuri Jejak Jati Diri Aceh

jejak jati diri aceh, traveloka, tiket gratis traveloka

Sudah satu jam kuhabiskan di salah satu gerai makan di terminal keberangkatan Soekarno Hatta, Jakarta. Secangkir teh panas dan semangkok mie rebus untuk menghangatkan perut telah tandas dari tadi. Tanda waktu di pergelangan kananku telah menunjukkan pk 05.30, tiga puluh menit lagi waktu keberangkatan. Kubolak-balik tiket di tangan, berharap akan ada satu keajaiban; dirimu akan muncul menjelang suara cempreng dari pengeras suara itu berkumandang.

jejak jati diri aceh, traveloka, tiket gratis traveloka
Jejak Jati Diri Aceh

Kuyakinkan diri untuk mengajak kaki melangkah ke ruang tunggu. Kubalut rapat-rapat perih yang hadirkan ngilu di dada. Aku akan tetap berjalan, meski harus melangkah sendiri. Hasratku untuk pulang begitu kuat memanggil. Dia mulai sering meronta-ronta untuk ditetaskan agar rindunya mewujud kembali menjejak di tanah pertiwi, Nanggroe. Continue reading “Menyusuri Jejak Jati Diri Aceh”

Menghirup Aroma Aceh di Kota Opa Francis Light

Lebuh Aceh Penang

George Town, salah satu destinasi impian yang telah lama diidam-idamkan untuk dikunjungi. Bersyukur di penghujung 2013 lalu, kaki akhirnya dijejakkan di kota yang didirikan oleh Opa Francis Light pada 11 Agustus 1786 ini. Tak salah bila George Town yang dipaketkan dengan Malaka mendapat pengakuan UNESCO pada 7 Juli 2008 sebagai World Heritage City. Bagi pecinta sejarah, arsitektur, kuliner, seni dan budaya; George Town adalah surga.

penang bridge
Welcome to Penang! Melintasi Penang Bridge menuju George Town

Continue reading “Menghirup Aroma Aceh di Kota Opa Francis Light”

Ridwan Kamil, Air Mata untuk Museum Tsunami Aceh

museum tsunami

“Aceh adalah rumah kedua saya,”tutur Ridwan Kamil sebelum mulai memaparkan proses perancangan Museum Tsunami Aceh dalam sebuah diskusi bertajuk Designing Memorials: American and Indonesian Architects Commemorate the Past, Give Light to the Future yang diadakan oleh Pusat Kebudayaan Amerika, Rabu malam (11/09/2013) di @america, Jakarta.

Rumoh Aceh as Escape Hill karya Ridwan Kamil memenangkan Sayembara Merancang Museum Tsunami Aceh yang diselenggarakan oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias (BRR Aceh-Nias) pada 17 Agustus 2007 lalu. Ridwan Kamil merancang Museum Tsunami bukan sekedar sebuah musium pada umumnya yang dikunjungi hari ini lalu didatangi lagi berpuluh tahun kemudian. Tapi dirancang dengan konsep sebagai ruang terbuka untuk publik, tempat untuk hang out, zona edukasi, zona perenungan dan pengingat serta tempat untuk memetik dan belajar banyak dari peristiwa tragedi tsunami Aceh, 26 Desember 2004. Continue reading “Ridwan Kamil, Air Mata untuk Museum Tsunami Aceh”