Borok di Kaki Yesus yang Memberkati Toraja

Buntu Burake, Patung Yesus Memberkati, Patung Yesus Toraja

Promosi Rafly, sopir yang menjemput kami di Bandara Hasanuddin, Makassar, tentang kehadiran jembatan kaca di pelataran Patung Yesus Memberkati di Buntu Burake menggoda kami untuk memintanya membelokkan kendaraan ke Buntu Burake sesaat setelah kendaraan kami memasuki Toraja. Dalam perjalanan menanjak ke puncak bukit, saya mulai membayangkan rupa jembatan kaca yang digambarkan oleh Rafly -berdasarkan berita yang banyak beredar- akan menyerupai Zhangjiajie Skywalk di Hunan, Cina.

Buntu Burake, Patung Yesus Memberkati, Patung Yesus Toraja

Ide pembangunan patung Yesus Memberkati datang dari Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo, menyusul kehadiran salib raksasa di Bukit Singki’, Rantepao, Toraja Utara, yang diresmikan pada Desember 2012 lalu. Destinasi wisata religi Patung Yesus Memberkati berada di ketinggian 1500 mdpl dan mulai dibuka untuk umum pada pertengahan 2015. Patung setinggi 40 meter yang berdiri di puncak bukit adalah hasil karya permatung asal Bantul, Yogyakarta; Hardo Wardoyo Suarto.

Continue reading “Borok di Kaki Yesus yang Memberkati Toraja”

Analisa Kedai Kopi ala Secangkir Jus Tamarillo

jus tamarillo, jus terong belanda, terong belanda

Kedai untuk duduk – duduk ngopi, berbincang atau sekadar bersapa kawan yang lama tak bersua – dan bersua kawan baru – sedang menjamur di Toraja. Di Rantepao, Toraja Utara saja ada banyak kedai dari warung kopi sederhana hingga kafe kekinian, buka di sana – sini. Sebagian besar kedai menawarkan sajian yang serupa. Hanya satu dua saja yang menawarkan sajian unggulan, kebanggaan mereka, dan (diharapkan) menjadi kesukaan pelanggan yang datang.

Dari analisa sederhana saya, ada dua hal yang mempengaruhi menjamurnya usaha tempat makan minum di Toraja. Pertama, kehadiran kedai – kedai di hampir setiap persimpangan jalan sebagai bukti masih tingginya peluang pasar di Toraja (meski orang Toraja bukanlah tipe konsumen yang senang jajan di luar rumah). Kedua, kesetrum bisnis kagetan. Dalam perjalanannya, beberapa kedai bisa bertahan. Tak sedikit pula yang tersendat – sendat di tengah jalan. Hal ini terjadi ketika kelahiran kedai didorong oleh poin kedua. Sehingga tak jarang saat hendak bertandang ke satu kedai, pengunjung hanya akan menemui pintu yang tertutup rapat dengan nama kedai menggantung atau menempel pada salah satu dinding kedainya. Mungkin kedainya dibuka sebagai selingan saja ketika pengelolanya sedang tak sibuk dengan kegiatan lain. Mungkin. Saya tak menanyakannya, kan kedainya tutup hehe.

Continue reading “Analisa Kedai Kopi ala Secangkir Jus Tamarillo”

5 Tempat Trekking Menyenangkan di Toraja

visit toraja, kondongan toraja, tukang kuburan, tongkonan toraja, tambolang, kondongan ba'lele

Semalam, selagi nongkrong di Kelana Street Coffee, Eki, pemilik kedai, melayangkan tanya penasaran,”Apa sih yang membuat kakak tertarik dengan kuburan tua? Apakah kuburan yang dicari termasuk kuburan – kuburan yang ada di Toraja?” Tanyanya membuat saya teringat pertanyaan seorang kawan berjalan beberapa waktu lalu, “Senang dong mudik ke Toraja,Lip.” Karena? “Toraja kan terkenal dengan wisata kuburannya!

salam khas toraja, visit toraja, kondongan toraja, tukang kuburan, tongkonan toraja
Talendu’ opa, mampir yuuuuk

Saat mudik ke Toraja, nggak pernah dapat panggilan – sekali eh dua kali pernah, nggak sengaja – untuk menyusuri jejak sunyi. Meski banyak yang berkesimpulan ketertarikan pada kuburan pasti berawal dari tanah kelahiran, dan kentalnya darah Toraja yang mengalir di dalam tubuh #TukangKuburan. Nggak salah dan nggak seperti itu juga. Semua melalui proses. Kepada beberapa kawan yang sering berbagi cerita, saya suka mengatakan, salah satu tujuan berjalan – jalan ke tempat yang banyak dihindari orang itu untuk self theraphy, bersahabat dengan diri dengan meredakan takut berlebihan yang menghantui sedari kecil. Alasan lain, silakan baca di SINI.

Jadi, kalau mudik jalan – jalannya kemana, Lip? Mau tahu, atau mau tahu aja?  😉

Continue reading “5 Tempat Trekking Menyenangkan di Toraja”