Lelaki dan Kopi Aceh


Gara-gara membaca 30 Hari Keliling Sumatera-nya Ary Amhir beberapa waktu yang lalu, saya memasang status di beberapa linimasa dengan menyebut-nyebut kasih sayang lelaki Takengon yang seksi. Status yang sontak membuat seisi jagad kasak-kusuk mencari tahu siapa gerangan lelaki Aceh yang beruntung itu hahaha.

Lalu, beberapa kawan yang mendengar kabar angin rencana kePULANGan ke Aceh saat bertemu menyodorkan muka penuh tanya,”Aceh agaiiiiiiiin? Ada apa sih di sana yang bikin loe kesengsem? Lelaki seksi itukah?” Ada juga yang bertanya,”loe punya keluarga ya di Aceh? doyan banget ke sana?”

Ha … ha … ha …haaaaaaa, kenapa sih pada penasaran? Continue reading “Lelaki dan Kopi Aceh”

Kecarian Panglima Polem


Meski hampir setiap pagi melewati Jl Panglima Polim aka Pangpol ketika berangkat ke tempat kerja, baru setelah berkeliling di komplek pemakaman Panglima Polem saat pulang ke Aceh dua bulan lalu, saya mulai iseng bertanya ke Mbah Gugel siapa sebenarnya Panglima Polem ini?

Adalah Ari si Buzzerbeezz, kawan blogger dari Aceh yang mengajak menggila pada jumpa pertama kami di Taman Budaya Banda Aceh. Tak punya itinerary khusus di hari pertama kepulangan kedua ke Aceh, membuat diri pasrah untuk mengikuti kemana pun akan digeret. Continue reading “Kecarian Panglima Polem”

‘Ngelindur ke Aceh


Kemarin siang badan tiba-tiba meriang gak karuan, hidung meler dan kepala berasa melayang-layang. Tak kuat akhirnya menyerah dan ijin pulang istihat karena di meja kerja hanya melototin monitor dengan pikiran mengembara dan otak gak bisa diajak berkonsentrasi. Sampai di rumah langsung masuk kamar dan terlelap dalam sekejap. Menjelang senja tidur mulai gelisah, sebentar-sebentar terbangun mendengar suara sendiri berkicau tentang perjalanan ke Aceh. OMG, kenapa tiba-tiba ‘ngelindur??

Dari salah satu sumber yang disodorkan om Gugel disebutkan, “‘Ngelindur atau mengigau adalah aktifitas yang dilakukan seseorang dengan menceracau saat tidur. Dalam dunia medis ‘ngelindur termasuk gangguan tidur, bahasa kerennya parasomnia. ‘Ngelindur banyak dijumpai pada anak usia 3 – 10 tahun sedang usia dewasa hanya sekitar 5% saja.” Continue reading “‘Ngelindur ke Aceh”

Merindu Keumalahayati


Belum ada tempat lain di Indonesia yang hadirkan hasrat begitu dalam untuk menyapanya [kembali] seperti rindu yang menggelora pada bumi Nangroe Aceh. Pernah jatuh cinta kan? Nah, ibarat hendak menjumpai kekasih hati, gejolaknya melebihi ikatan emosi pada kampung halaman sendiri! Bukan berarti gak cinta kampung sendiri lho ya, tapi sensasi dan getarannya berbeda.

Mulai mengakrabi Aceh kurang lebih sepuluh tahun lalu kala rasa lapar menyerang dan yang pertama tampak di depan mata adalah warung makan Aceh. Tahap penjajagan masih meraba-raba, perkenalan pertama tak berjalan mulus. Lagi, tujuan melangkah ke sana demi menghentikan teriakan protes dari kampung tengah. Continue reading “Merindu Keumalahayati”

Untukmu Aceh (26 Desember 2004 – 2012)

monumen tsunami aceh

Langit cukup cerah sore itu namun cerianya tak dapat menyembunyikan duka yang masih terpancar dari mata Fandy. Kisah pilu 8 tahun lalu yang menimpa keluarga orang tua angkatnya masih menyisakan sendu. Ada nada pilu di ujung matanya saat salam terucap dari bibirnya yang bergetar menyambut uluran tangan kanan saya di depan Rumah Tsunami.

Pada Minggu pagi (26/12/04) Iptu Pol. (Amt) Dewa M. Adrian beserta tujuh anggota keluarganya sedang menikmati sarapan di halaman samping rumah mereka ketika air bandang secara tiba-tiba datang dari belakang rumah memeluk dan menghanyutkan tubuh mereka. Kini bangunan dua lantai di jalan raya Ulee Lheue itu hanya bersisa lantai dasar, penghuninya tak pernah kembali lagi. Tsunami meninggalkan jejaknya lewat lima undakan tangga menuju lantai dua, lima pilar di depan dan samping rumah yang masih berdiri kokoh berikut dinding yang masih kekar menempel di lantai. Continue reading “Untukmu Aceh (26 Desember 2004 – 2012)”