Pieter de Bruijn

Siron Mass Grave

Matahari hanya diam, ia memandangiku dengan muka ditekuk-tekuk. Belumlah waktunya makan siang, namun dirinya tampak sudah terlalu lelah dan hendak menangis saja. Harusnya yang tersedu si Darlang, yang berdiri tanpa kepala di depanku. Kepalanya hilang entah kemana. Aah, keterlaluan sekali mereka yang tega memisahkannya dari si empunya badan. Beruntung aku melihatnya di saat matahari masih ada, sehingga tak perlu khawatir berlebihan saat menjumpainya menyendiri di sudut kerkhof.

Apa yang membuat orang menghancurkan jejak masa, sebuah karya yang seharusnya bisa dinikmati oleh generasi yang lahir jauh setelahnya? Uangkah? Kebanggaaankah? Kepongahankah? Atau kebencian?

Pikiranku sedang berputar-putar memikirkan semua itu ketika lelaki di depanku ini mendadak muncul dari belakang Darlang. Lelaki berkulit hitam, yang sorot matanya tajam, yang raut mukanya terlihat bersahabat meski tampak kikuk berhadapan dengan orang yang baru dijumpainya.

Continue reading “Pieter de Bruijn”

Manuskrip dari Aceh

asa untuk nanggroe, harapan untuk nanggroe, monumen tsunami aceh

Aku beringsut dari balik selimut di saat sebagian besar penghuni bumi lebih memilih untuk meringkuk di kehangatannya. Saat gelap masih menyelimuti cakrawala dan dingin sedikit menusuk, aku memilih mengantri di depan petugas bandara. Menunjukkan boarding pass, bergegas memanggul Meywah dan Onye mencari tempat bersandar untuk memejamkan mata sebentar saja. Namun, sebentar menjadi sangat langka.

Di ruang keberangkatan, obrolan tentang perjalanan tak dapat ditampik mengisi waktu penantian terbang saat bersua dengan Vera, teman berjalan. Ya, stasiun bus/kereta, terminal keberangkatan/kedatangan, dan destinasi yang dilalui adalah tempat para pejalan dipertemukan. Pertemuan di tangga toilet ruang keberangkatan membuatku sebentar  lupa pada kantukku hingga penantian itu berakhir jua pada pk 05 kurang sedikit ketika pengeras suara memanggil calon penumpang yang akan terbang ke Medan dan Banda Aceh masuk ke pesawat.

perpustakaan ali hasjmy, ali hasjmy, perpustakaan banda aceh, zentgraaff, sejarah aceh
Menyelami Aceh di Perpustakaan dan Museum Ali Hasjmy, Banda Aceh

Continue reading “Manuskrip dari Aceh”

Tergoda Agoda


Surat listrik yang dikirimkan oleh Steve dari UK pertengahan Mei lalu kembali dibaca sesaat setelah keluar dari Simultankerk. Aaaggh, untuk kesekian kalinya langkah kuayun ke tempat ini, memenuhi panggilan jiwa, dan menunaikan tugas yang baru diemban dari Commonwealth War Graves Cemetery (CWGC) sebagai, Tukang Potret Kuburan Perang.

Good evening Olive, I have now returned home after a few days working away in Plymouth. I have just email the Office of Australian war graves to obtain permission for you to enter Ambon. I have attached a letter from us asking assistance in letting you photograph which may help in Ambon and Jakarta. Attached is the sort of picture we need

aws mallaby, pertempuran sepuluh nopember, mallaby
Di depan peristirahatan Brigadir AWS Mallaby

Menepi di bangku taman di depan gereja, kukeluarkan botol air dari dalam kantong Onye dan meneguk isinya hingga habis setengah, demi menghalau dahaga yang merongrong. Kuhapus peluh yang membanjiri muka dan beranjak ke gerbang Jakarta War Cemetery. Tak ada siapa-siapa di sana. Heiiii, ini kuburan Lip! Upzzz … o, iya lupa 😉 Continue reading “Tergoda Agoda”