Beralasan ke Sai Gon

my coffee, tukang kuburan story, coffee story

Pagi datang sedikit murung. Serupa wajah masam perempuan yang terbangun karena angin dari pendingin ruangan tiba – tiba menampar mukanya. Dilihatnya lelaki berkulit putih, satu – satunya makhluk yang tidur tak jauh darinya masih meringkuk dalam selimut biru di seberang bangkunya. Diliriknya tanda waktu di pergelangan tangan kanan, pk 05.30. Penerbangannya masih 2 (dua) jam lagi. Dan dia baru lelap 2 (dua) jam setelah berpindah tidur ke ruangan ini pk 03.00 usai menikmati setangkup roti di restoran cepat saji yang buka 24 jam karena kelaparan. Sewaktu ia datang ruangan hanya diisi sepasang pejalan berkulit putih yang masih asik berbincang di lantai dekat toilet, dua lelaki berkulit putih lainnya menguasai bangku tak jauh dari pintu keluar keberangkatan, lalu seorang perempuan yang juga berkulit putih yang menyusul turun di belakangnya, serta dua lelaki bermuka Jawa berbahasa asing yang hilir mudik seperti setrika di depan kedai kopi. Oh, dan lelaki itu. Ia iri padanya yang lelap sedari dirinya memilih tidur di bangku ini.

vietnam airlines, vietnam now, flying to vietnam, boat people
Vietnam Airlines, bukan pesawat yang ditumpanginya 😉

Siapa yang mengutak – atik pendingin ruangan sehingga arah anginnya berputar 180 derajat jika semua yang ada di ruangan ini masih bersidekap di bangku yang dijadikan tempat tidur? Continue reading “Beralasan ke Sai Gon”

Sarapan dengan Selera Lokal

sarapan sehat, sarapan bubur kacang ijo. burjo, bubur kacang ijo

Kuliner dengan selera lokal salah satu target yang harus digenapi ketika melakukan perjalanan ke tempat – tempat yang jarang atau baru dikunjungi. Karenanya ketika menyusun rencana perjalanan, pencarian calon target operasi pun dilakukan baik – baik dengan mempertimbangkan lokasi, jarak tempuh dari tempat menginap, serta mempelajari ulasan yang pernah dibuat oleh pejalan lain.

lim sister curry mee, sister curry mee penang, sister curry mee ayer itam, famous curry mee in penang
Berjumpa the legend Lim bersaudara di Pasar Air Itam, Penang

Tahun lalu TUHAN memberi kesempatan berjalan (berkelompok) ke beberapa daerah, mengunjungi beberapa tempat mengisi perut yang menyenangkan dan ingin didatangi lagi bila kembali ke daerah tersebut. Sesuai dengan judul tulisan ini, maka saya hanya akan membahas tempat menikmati sarapan dengan selera lokal saja. Continue reading “Sarapan dengan Selera Lokal”

Remembrance Day, Mengenang Mereka yang Mendahului

Jakarta War Cemetery, Commonwealth War Graves, Remembrance Day, Lois Blog Contest, Lois Indonesia

they shall not grow old, as we that are left grow old
age shall not weary them, nor the years condemn
at the going down of the sun and in the morning
we will remember them

Pernah membaca atau minimal mendengar sebait puisi di atas?

Jakarta War Cemetery, Commonwealth War Graves, Remembrance Day, Lois Blog Contest, Lois Indonesia

For The Fallen, ode yang ditulis oleh Robert Laurence Binyon dua minggu setelah benturan pertama pasukan Inggris dan Jerman terjadi di Mons usai pernyataan perang Inggris terhadap Jerman yang dikeluarkan pada 4 Agustus 1914; tanggal keramat yang menandai pecahnya perang dunia pertama (PD 1).

Beberapa jurnalis kadang keliru ketika mengutip potongan puisi di atas dalam tulisan mereka sebagai bagian dari In Flanders Field, puisi yang ditulis oleh John McCrae.

Baik For The Fallen maupun In Flanders Field, adalah puisi yang ditulis semasa PD 1, melekat dalam benak setiap orang yang terseret ke dalam emosi lewat rangkaian kata dalam puisi yang menyentuh ketika  mengenang mereka yang pergi semasa perang.

Lalu, dimana letak perbedaanya? Continue reading “Remembrance Day, Mengenang Mereka yang Mendahului”