TARI, Metoda Terapi Pemulihan Anak-Anak Korban Trauma Pasca Bencana


Senja itu sedianya kami berencana menikmati matahari terbenam di tepian Ujong Batee. Kepada Kak Yasmin yang menemani berkeliling menyusuri jejak IBU Laksamana Keumalahayati, dari semalam sudah diwanti-wanti untuk menepi sejenak di pantai itu sepulang dari Benteng Inong Balee. Sayangnya, semesta tak bersahabat. Sedari pagi hujan menderas saat kendaraan baru meniti Jalan Malahayati menuju Krueng Raya.

Karena telah diniatkan, meski senja itu gerimis turun satu-satu; kami tetap berhenti sejenak di bibir jalan dan bergegas ke pantai. Kak Yasmin meminta ijin untuk tetap berada di dalam kendaraan karena dirinya masih belum yakin untuk menjejak di pantai. Tsunami 2004 lalu yang menghabiskan sebagian besar keluarganya, telah membuatnya trauma melihat air laut.
Continue reading “TARI, Metoda Terapi Pemulihan Anak-Anak Korban Trauma Pasca Bencana”

Untukmu Aceh (26 Desember 2004 – 2012)

monumen tsunami aceh

Langit cukup cerah sore itu namun cerianya tak dapat menyembunyikan duka yang masih terpancar dari mata Fandy. Kisah pilu 8 tahun lalu yang menimpa keluarga orang tua angkatnya masih menyisakan sendu. Ada nada pilu di ujung matanya saat salam terucap dari bibirnya yang bergetar menyambut uluran tangan kanan saya di depan Rumah Tsunami.

Pada Minggu pagi (26/12/04) Iptu Pol. (Amt) Dewa M. Adrian beserta tujuh anggota keluarganya sedang menikmati sarapan di halaman samping rumah mereka ketika air bandang secara tiba-tiba datang dari belakang rumah memeluk dan menghanyutkan tubuh mereka. Kini bangunan dua lantai di jalan raya Ulee Lheue itu hanya bersisa lantai dasar, penghuninya tak pernah kembali lagi. Tsunami meninggalkan jejaknya lewat lima undakan tangga menuju lantai dua, lima pilar di depan dan samping rumah yang masih berdiri kokoh berikut dinding yang masih kekar menempel di lantai. Continue reading “Untukmu Aceh (26 Desember 2004 – 2012)”