Pada Sebuah Pertemuan


Tenda yang berdiri sepi. Di hadapan meja panjang yang ditinggal sendiri, lelaki berambut ikal memutih duduk bersendiri menikmati makan kesiangan. Satu suapan terangkat dari piring, dinikmatinya sembari menerawang. Entah apa yang bergulir dalam pikirannya.

Dari gerbang depan, seorang lelaki lain berjalan tertatih menghampirinya. Sesaat, mereka berpandangan dalam diam. Sebuah pelukan dalam senyap, rangkulan pelepas rindu, meluruhkan rasa. Sesaat yang mengharukan, yang mengungkap berjuta rasa dan kenangan yang lama tersimpan dalam memori. Lima puluh tahun lalu, saat emosi jiwa masih meletup-letup, bersama mereka mengisi hari dengan semangat merangkai cita. Continue reading “Pada Sebuah Pertemuan”

Dassi Deata: The Spirit of Guru

dassi deata, lo'ko mata

Langkah akhir dari perjalanan kehidupan adalah kematian. Tak seorang pun yang tahu, pada langkah ke berapa jarum jam kehidupannya akan berhenti. Hanya DIA, Yang Empunya Kehidupanlah yang punya kuasa untuk terus memutarnya atau menghentikannya.

tinimbayo, kopi toraja
Secangkir kopi kenangan @Tinimbayo

Dassi Deata, 27 Desember 2010
Riak sungai, wangi tanah, gemerincing daun bambu yang saling mencumbu selalu bangkitkan memori saat kita menuruni bukit itu lima tahun lalu. Bukit di balik rumpun bambu di belakang Dassi Deata yang padanya pandangan mengarah. Kembali ke tempat ini sama dengan mengumpulkan potongan-potongan puzzle kenangan yang tercecer sekian puluh tahun. Mencoba menyusunnya, kembali pada rangkaian yang tepat.

Continue reading “Dassi Deata: The Spirit of Guru”

Mystical Toraja Rancangan Dynan Fariz


Beberapa waktu lalu saat berselancar di Torajacybernews (TCN), saya menemukan dua berita tentang busana Toraja yang menang di kontes model Manhunt International 2011 di Seoul, Korea. Berita pertama diterbitkan Senin (10/10/2011) dengan judul Pakaian Adat Toraja Menarik Perhatian Dunia dan yang kedua Busana Toraja Juara Manhunt International 2011 terbit Selasa (11/10/11. Kedua berita tersebut dilengkapi dengan gambar sepasang dan sekelompok orang dalam busana adat Toraja. Lalu di salah satu berita ada yang memberi komentar dan menanyakan foto busananya. Mungkin banyak diantara pembaca yang bingung, seperti apa sih model busana yang ditampilkan, tanduknya dipasang dimana dan sebagainya? Continue reading “Mystical Toraja Rancangan Dynan Fariz”

Berburu kerbau bule & pa’piong

kerbau bule, wisata toraja

Senin, 27 Des 2010
Hari ketiga di kampung halaman pekerjaan Upi Abu bertambah : bangun pagi pk 05.30 jerang air panas, cuci piring, nyapu + ngepel terus siapin sarapan. Ini bukannya pekerjaan ibu rumah tangga ya ? Berarti Upi Abu sudah bisa naik pangkat jadi ibu rumah tangga donk, ayo siapa yg mo melamar hihihiii. Sarapan pagi ini pisang goreng siap beli di tempat langganan dan nasi goreng ala chef Coolyv (enak toh nasi gorengnya?) Dapat info hari ini adalah hari pasaran, berarti target pagi ini bisa plesiran ke Pasar Bolu.

Hari pasaran di Toraja merupakan hari dimana pedagang dan pembeli tumpah ruah memenuhi pasar yg jatuhnya 6 (enam) hari sekali. Di hari lain kegiatan perdagangan di pasar tetap berjalan tapi tidak seramai hari pasaran. Kalau menunggu hari pasar berikutnya gak akan keburu karena Unyun2 berencana meninggalkan Toraja 31 Dec malam walau bisnya tak pasti wkwkwk. Yang istimewa di hari pasaran adalah kegiatan di pasar hewan. FYI, pasar hewan sendiri hanya ada di Pasar Bolu dan Pasar Makale tapi yg paling ramai adalah di Pasar Bolu. Continue reading “Berburu kerbau bule & pa’piong”

ke kota kecilku


“Kayak pembokat aja mudik, emang loe orang kampung ya Bend? Kek gw donk orang kota 😉” canda seorang teman yang dilempar di salah satu jejaring sosial. Maksudnya sih buat manas-manasin, berhubung saya bukan tipe orang yang cepat terpancing candaannya dibalas dengan candaan juga. Lagipula saya gak memungkiri kalau saya memang berasal dari kampung & bangga punya kampung. Begitu menjejakkan kaki di kampung halaman, turun dari bis simpan koper terus balik ke halaman depan menenteng henpon kacangan crek-crek than upload gambar biar eksis. Hahahahaha … bener aja, ada yang langsung kipas-kipas kepanasan dan minta diajak mudik karena gak punya kampung. IMPAS !!! Continue reading “ke kota kecilku”

Pesta Mati Toraja


Perdebatan dalam mobil sepanjang perjalanan dari Pasar Bolu menuju Batutumonga seputar penggunaan kata PESTA pada acara Rambu Solo’ (= rangkaian acara penguburan Toraja) cukup seru. Pesta lebih identik dengan kemeriahan dan sukacita sementara Rambu Solo’ adalah acara kedukaan. Tapi jika kita melihat lebih dekat selama acara berlangsung tidak tampak wajah-wajah sedih dari orang-orang yang hadir di acara tersebut. Ketika menghadiri satu acara ma’palao (=pemindahan jenazah dari rumah untuk persiapan ke lokasi acara) hanya ada satu anggota keluarga yang terlihat terpukul sementara yang lain biasa aja. Bisa jadi mereka sudah merelakan kepergian orang yang mereka cintai dan kehilangan itu sudah tidak begitu terasa karena yang akan diacarakan juga sudah disemayamkan selama beberapa bulan di rumah duka. Continue reading “Pesta Mati Toraja”

Sepenggal Asa buat Toraja

cinta toraja

“Kalau kami mati, tidak ada mi yang kasih terus”

Miris, obrolan singkat dengan tiga orang penenun renta di kampung adat To’ Barana Toraja Utara siang itu benar-benar mengusik hati. Nenek Butung (90th) & Nenek Panggau (80th) masih semangat untuk menyelesaikan tenunan toraja dengan ATBM (=alat tenun bukan mesin) yg usianya mungkin tidak terpaut jauh dengan usia mereka jika melihat alat tenunnya yang mulai lapuk dan mengkilap karena gesekan dengan kulit selama bertahun-tahun. Tahan duduk berjam-jam mengisi hari tua menguntai benang menjadi selembar kain yang kemudian dijual kepada wisatawan yang berkunjung. Continue reading “Sepenggal Asa buat Toraja”

:: 15:14:13


Kembali kuhirup udara pegunungan yg segar … hamparan sawah yg hijau … dengan segudang rencana yg sudah tersusun rapi di kepala jalan² … cekrak – cekrek, jalan² … cekrak – cekrek he ..he..

Perjalanan panjang dari Jakarta diawali dengan latihan kesabaran tingkat tinggi, sengaja berangkat pagi² ke bandara namun sampai di sana gak bisa chek’in; sistemnya  down! Setelah berdiri 45 menit akhirnya bisa check’in manual yg berakibat saat boarding ada beberapa penumpang yg nomor seat-nya double. Sempat terjadi keributan ketika seorang bapak Papua sibuk mencari tempat duduknya ditimpali pertanyaan seorang ibu yang antri di belakangnya: Continue reading “:: 15:14:13”