Toraja Melo: Perjalanan Mengulur Masa, Melestarikan Wastra Toraja

penenun toraja, Toraja Melo, toraja weaver, tenun toraja

Kokok ayam jantan menemani mentari pagi yang perlahan turun menerangi bumi Lakipadada saat lelaki itu mengeluarkan seekor ayam berbulu hitam mengkilap dari dalam kurungannya dan membawanya ke atas rumah. Ayam itu diserahkan kepada seorang lelaki sepuh yang duduk bersila di lantai. Tubuhnya dibalut baju Toraja yang menonjolkan motif pa’miring, motif tenun Toraja dengan corak garis-garis yang didominasi warna oranye. Mulutnya berkomat-kamit melafalkan sebuah mantera.

Adalah kebiasaan lelaki dalam masyarakat Toraja ketika membuka mata di pagi hari, kawan pertama yang disapa dan dielus-elus adalah ayam peliharaan. Namun pagi ini tak nampak seperti pagi yang lain. Sebilah pisau dihantarkan oleh tangan yang mengeriput pada leher ayam yang pasrah dalam genggamannya.

Nyesssss … darah segar menetes dari urat nadi yang terputus, mengalir memenuhi cekungan piring untuk menampung darah yang dicurahkan. Tak cukup darah seekor ayam, suara cericit anak ayam berbulu halus berikut tetesan darahnya pun menjadi pelengkap ritual pagi itu. Continue reading “Toraja Melo: Perjalanan Mengulur Masa, Melestarikan Wastra Toraja”

Cinta dalam Selembar Tenun Toraja

penenun toraja, to'barana, tenun toraja, untannun kameloan, toraja melo

Masih ingat keriaan yang terjadi ketika negara tetangga mengklaim batik sebagai warisan budayanya? Media sosial ramai dengan beragam komentar sampai sumpah serapah saling menuding karena semua merasa paling berhak dan benar. Yang tadinya diam tak mau tahu (boro-boro peduli) batik, turut keriaan. Lupa selama ini memilih cuek. Ya, hati biasanya baru tersulut ketika harta berharga yang kita miliki, yang tadinya tak kita hiraukan (atau tak disadari ada di sekitar kita) mulai diusik orang lain.

untannun kameloan, wastra toraja, tenun toraja, toraja melo
Untannun Kameloan

Berangkat dari keterusikan inilah, Sabtu (14/11/2014) siang bertempat di Alun-alun Indonesia, Grand Indonesia, Jakarta; Toraja Melo menggelar diskusi buku Untannun Kameloan: Textiles of Toraja, Mamasa, Mamuju, Rongkong, Sulawesi. Tampil sebagai panelis Lynda Ibrahim, jurnalis The Jakarta Post, Barbara Johnson, pemerhati wastra Indonesia, Nina Jusuf, in-house designer, Olive Bendon, co-founder Perempuan Keumala seorang travel blogger berdarah Toraja dan Jihan FL.Dillon sebagai pemandu jalannya perbincangan. Continue reading “Cinta dalam Selembar Tenun Toraja”

Sejumput Asa untuk Toraja

untannun kameloan

Olive, besok jam 11 jadi ya .. sy undang beberapa teman lagi … jadi tolong coba on time ya. Tks!” bunyi pesan yang saya terima dari seorang sahabat Jumat (5/7/13) lalu. Sebuah ajakan untuk bertemu di gerai kecilnya di kawasan Kemang untuk berbincang mengenai Toraja. Sekian lama ngoceh-ngoceh tentang Aceh, pesan ini menjadi alarm yang menyadarkan pada satu akar yang sedang digoyang, Toraja.

Sabtu siang berangkatlah saya ke Kemang, kawasan yang jarang disusuri tapi begitu memasuki Kemang Utara spontan bertanya pada sopir taksi,”bang, jalan ini ‘nembus ke Jeruk Purut kan ya?” hahaha #godaan *dasar otaknya ke kuburan mulu* Continue reading “Sejumput Asa untuk Toraja”