Telaga Darah Panembahan Reso

panembahan reso, sha ine febriyanti, karya masterpiece ws rendra

Sabtu malam, Warhi (78) datang bersendiri ke Ciputra ArtPreneur. Ia dengan bangga menceritakan bagaimana dirinya menjadi salah seorang saksi pementasan lakon Panembahan Reso berdurasi 7 (tujuh) jam yang dipentaskan Bengkel Teater selama 2 (dua) hari berturut – turut di Istora Senayan pada 1986 lalu. Setelah 34 tahun berlalu, Warhi tak sabar untuk menonton (lagi) Panembahan Reso yang durasinya kini dipadatkan menjadi 3 (tiga) jam saja. Dari urusan tiketnya saja menggunakan teknologi yang berbeda. Saya tak paham, harus meminta tolong anak membelikan. Entah ada di mana lagi perbedaannya, katanya sebelum beranjak masuk ke ruang pertunjukan.

panembahan reso, sha ine febriyanti, karya masterpiece ws rendra

Hari menjelang terang tanah. Suara jangkrik dan binatang malam bersahutan – sahutan. Seorang lelaki terduduk di bias purnama. Ia berbicara pada dirinya sendiri tentang apa yang baru saja dialaminya. Ia seperti mengambang di alam mimpi; matanya melek, tak bisa tidur. Continue reading “Telaga Darah Panembahan Reso”

Tata Nurra, Creative Learner Rumah Ilmu

tata nurra, nurra datau, sha ine febriyanti, musashi

Kalau kamu disodori data berikut, kira-kira hal apa yang akan muncul pertama kali di dalam pikiran kamu? Bagian mana yang akan menarik perhatian untuk ditanggapi? Lalu, kalau data yang sama ditunjukkan ke anak usia 11 tahun; kira-kira bagaimana reaksinya? Disimak, dilihat-lihat saja, bingung ataukah dikritisasi?

kampanye anti korupsi, bahaya timbal, polusi udara
Sumber: Transparency International UK

Data di atas mengemuka dari penayangan film kampanye antikorupsi di aula Yayasan Taman Imani Iqra, Cipayung sembari menanti saat berbuka puasa pada pekan terakhir ramadan lalu. Data yang menunjukkan tahun dikeluarkannya larangan pemakaian TEL oleh sejumlah negara di ASIA.

TEL? Apa dan siapakah si TEL ini?

Continue reading “Tata Nurra, Creative Learner Rumah Ilmu”

Meniti 77, Mengalir dalam Kehidupan

Amoroso Katamsi

Pondasi adalah bagian paling penting dari satu bangunan. Pemilihan tanah yang menjadi dasar untuk meletakkan pondasi bangunan pun haruslah benar-benar tepat. Bangunan yang tampak indah dari luar jika tak dibangun di atas landasan  yang kuat dan ditopang dengan tiang yang kokoh tak akan bertahan lama. Seiring berjalannya waktu, bangunan itu lambat laun gampang goyah, retak digerus perubahan musim dan ambruk diterpa goncangan. Prinsip yang sama berlaku juga dalam menjalani kehidupan.

Amoroso Katamsi
Amoroso Katamsi membawakan monolog Hero karya Putu Wijaya

Tidak ada yang tidak berubah, kecuali perubahan itu sendiri
Seperkasa apa pun engkau, tubuhmu akan menua
Setinggi apa pun pangkatmu, engkau akan pensiun
Sehebat apa pun pertunjukanmu, engkau akan kehilangan panggung

Itulah usia …
Rasanya baru kemarin awal perjalanan dimulai
Continue reading “Meniti 77, Mengalir dalam Kehidupan”

Nay, Sinema Monolog Lika Liku Luka Perempuan

Film Nay, Djenar Maesa Ayu, Sha Ine Febriyanti, Film Monolog Djenar Maesa

Setelah sukses memerankan tokoh Nayla dalam Monolog Tiga Perempuan pada Oktober 2014 lalu, Sha Ine Febriyanti kembali didaulat untuk memerankan tokoh Nay dalam film Nay. Di film yang akan digarap secara monolog tersebut, Ine Febriyanti didaulat menjadi pemeran utama dan satu-satunya pemain. Sedang pemain lain yang akan turut mendukung film Nay sebagai pengisi suara adalah Niniek L. Karim, Joko Anwar dan Farishad Latjuba.

Film Nay, Djenar Maesa Ayu, Sha Ine Febriyanti, Film Monolog Djenar Maesa
Nay

Sekilas tentang Nayla. Nay (Nayla Kinar), adalah seorang perempuan yang mengalami kompleksitas kehidupan sebagai anak yang menjadi korban keegoisan manusia dewasa. Kedua orang tuanya berpisah saat usianya masih balita. Nayla dibesarkan oleh ibunya, dididik dengan sangat keras hingga ia kehilangan figur Ayah maupun Ibu. Lika liku, pahit getir hidup melawan penolakan dari keluarga, lingkungan dan diri sendiri, berjalan demi menemukan jati diri. Jatuh bangun menyusuri perjalanan hidup hingga langkah membawanya menjadi seorang penulis besar.

Continue reading “Nay, Sinema Monolog Lika Liku Luka Perempuan”

Menyelami Hati Cut Nyak Dien


Perempuan di ujung senja itu tertatih menyeret langkah ke sudut gubuknya. Derit pintu reot dan desah resahnya memecah pagi yang senyap. Rindunya teramat dalam, sedalam sepi yang menemani perjalanan panjangnya. Dia yang tercerabut secara paksa dari akarnya, meradang bergelut asa. Meski matanya sudah rabun, namun kepekaan rasanya belumlah susut.

image

Terduduk dalam gelap pandangan, hatinya merintih, rindunya bergelora pada tanah negerinya. Perempuan perkasa yang keras hati itu, tergugu tanpa daya.

Continue reading “Menyelami Hati Cut Nyak Dien”

Bersimbiosis Mutualisma dengan Idola

Ari Reda

Idola adalah sosok yang akan membuatmu selalu merindukan pertemuan dengannya, sosok yang kadang bikin matamu tiada henti berkedip-kedip saat pertemuan yang didamba terwujud. Diam seribu bahasa, dada berdebar-debar bahkan salah tingkah kala berhadapan dengannya serasa bertemu kekasih hati.

Sama seperti penggemar yang lain, saya pun pernah lompat pagar, lari sekencang-kencangnya tak peduli tas dan dompet tertinggal di tribun serta pura-pura tidak mendengar teriakan petugas keamanan hanya untuk berdiri bengong di depan sang idola. Niat awal untuk mengabadikan sang idola, yang ada hasilnya garis-garis yang berjoged karena tangan gemetaran. Continue reading “Bersimbiosis Mutualisma dengan Idola”

Jejak AGS Arya Dipayana, Sang Pejalan Kaki


Pertama kali mengenal Mas Adji (panggilan akrab AGS Arya Dipayana) tahun 1997 lewat gubahan lagu yang terangkum dalam kaset Hujan Bulan Juni-Musikalisasi Puisi Sapardi Djoko Damono (SDD).  Melihat penampilannya untuk pertama kali di acaranya AriReda Malam Puisi Cinta di TIM awal 2008.  Setelah itu sempat bertemu dan melempar senyum dalam beberapa kesempatan. Salah satu gubahannya yang cukup ngetop adalah musikalisasi Aku Ingin, puisi karya SDD yang sering dikutip orang dalam undangan pernikahan. Di  beberapa undangan malah kutipan kata-katanya salah ditambah pencantuman buah karya Khalil Gibran. Saya tidak mengenal dekat Mas Adji secara pribadi namun karya-karyanya begitu melekat di hati sehingga kepergiannya awal Maret lalu cukup mengagetkan. Continue reading “Jejak AGS Arya Dipayana, Sang Pejalan Kaki”