The Story of Kuala Lumpur

our story of kuala lumpur, mudkl, sejarah kuala lumpur, mud, panggung bandaraya, eat travel doodle, dekatje, ikon kuala lumpur

Aku baru saja duduk dan menanggalkan lelahku setelah seharian berjalan mengitari Ampang ketika tetangga sebelah yang juga baru kukenal dari sapanya, mampir dan mengajakku ke rumah Teja. Katanya, “Teja dan Mamat nak kenduri malam ni, mari kita tengok bisa bantu apa.” Sudah menjadi adat di timur, bila melihat tetangga sibuk maka sebagai tetangga yang berpengertian dan wujud toleransi, kita pun turut sibuk memberi bantuan. Lagi pula sebagai pendatang di kampung Ampang, aku melihat ini kesempatan baik untuk memperkenalkan diri serta mengenal lebih dekat mereka yang telah lebih dulu berdiam di sini.

our story of kuala lumpur, mudkl, sejarah kuala lumpur, mud, panggung bandaraya, eat travel doodle, dekatje, ikon kuala lumpur

Teja baru saja melahirkan puterinya yang pertama. Dia yang tak bisa diam, menyambutku dengan senyum ramah sembari menggendong bayinya. Kulihat semua orang sibuk di pekarangan belakang rumah yang berubah menjadi dapur. Muka-muka girang terpancar lewat canda tawa di sela tangan yang terus bekerja. Tugasku ringan saja. Pekerjaan yang sudah biasa kulakukan semasa masih tinggal di kampung dahulu. Menggerus bumbu hingga halus menggunakan ulekan dari kayu.
Continue reading “The Story of Kuala Lumpur”

Demi Masa, Multi Orgasme Tingkat Dewa

i love KL. kl city gallery

Uncle, can you drive faster? seruku pada Uncle Simelekete agar melajukan kendaraan yang terengah-engah di jalan bebas hambatan. Gerutuan menggema dalam bahasa ketumbar jahe yang tak kupahami. Aku tak peduli. Namun kurasakan, kendaraan berlari lebih cepat dan lincah menari di padatnya lalu lintas pagi. Tak sampai sejam kami menggapai KLIA. Si uncle menepikan mobil di tempat menurunkan penumpang. Sapa terima kasihku disambut dengan senyum kecut, sembari membenarkan letak jenggotnya, nasihat yang sedari tadi ditahan meluap dari bibirnya. Sebelum banjir bandang, buru-buru kubendung dengan menutup pintu agar dirinya segera berlalu. Aku pun melesat mencari papan hitam besar di tengah ruangan yang sibuk itu.

KL city gallery, sejarah malaysia
Selamat datang di putaran masa

Sejak mengambil keputusan untuk berlama-lama menikmati kawasan warisan, aku sudah tahu tak akan bisa mengejar penerbangan pulang. Bahkan ketika memilih menikmati sekerat roti manis dan menyesap secangkir teh panas di sebuah gerai cepat saji di sudut Ampang, aku sangat sadar; harusnya saat itu sudah bersiap di ruang keberangkatan. Tapi, aku tak tergerak sama sekali untuk bergegas menjemput Meywah di 1915. Kuputuskan untuk melanjutkan bertualang di Dataran Merdeka. Alhasil, sepanjang perjalanan ke KLIA, kuping kusumpal dengan earphone agar tak terkontaminasi dengungan ketumbar jahe ala Uncle Simelekete. Continue reading “Demi Masa, Multi Orgasme Tingkat Dewa”