Menyusuri Jakarta lewat Sejarah Kereta Api

stasiun jatinegara, plesiran tempo doeloe, batmus

Bocah lelaki di depan saya sigap berdiri sesaat setelah bus yang kami tumpangi berhenti. Ia merapikan tali gantungan kamera yang dikalungkan di leher lalu bergegas turun mengikuti langkah – langkah panjang di depannya. Di bawah sengatan mentari, tubuh kecilnya menyusup di sela – sela badan yang menjulang di sekelilingnya.

stasiun jatinegara, plesiran tempo doeloe, batmus
Aga in action di Stasiun Jatinegara

Aga (8 thn) tak canggung berada di antara manusia yang usianya terpaut jauh di atasnya. Ia meleburkan diri, mencoba mengabadikan pemandangan sekitar dari sudut pandangnya dengan kamera saku yang siap di tangan. Di saat teman – teman sebayanya lebih menikmati bermain di taman bermain atau pusat perbelanjaan yang dingin dengan orang tua mereka, Continue reading “Menyusuri Jakarta lewat Sejarah Kereta Api”

Minggu Pagi di Rumah Opa van Imhoff

toko merah

ketika kau datang, datanglah dengan rasamu,
aku ada di dekatmu

Rangkaian kata itu perlahan merembes di kepala saat kaki mulai diayun menyusuri pedestrian di pinggir de Groote Rivier demi menggapai Juliana Brug, Minggu pagi (15/03/14). Deretan kata romantis yang tertera pada sebuah lukisan yang menggantung di dinding rumah Opa van Imhoff itu entah kenapa baru tertangkap mata kemarin pagi. Mungkin karena lukisannya menggantung di balik pintu sehingga tak menarik perhatian di dua pagi sebelumnya. Continue reading “Minggu Pagi di Rumah Opa van Imhoff”

Jarum Jam Berhenti di Museum di Tengah Kebun

museum tengah kebun

Selintas tak ada hal spesial yang menonjol saat melewati pagar rumah di Jl Kemang Timur No 66 ini. Layaknya rumah-rumah besar di kawasan Kemang, gerbang kayu yang menjadi pintu kedua menuju rumah utama tertutup rapat. Seorang pria berpakaian putih hitam melongokkan kepala lewat celah kecil di tengah gerbang,”Sudah punya janji? Tunggu sebentar ya mbak.” Klik. Pintu ditutup kembali dan kami dibiarkan berdiri di halaman luar yang disesaki berduabelas orang.

Kami memang datang 15 menit lebih awal dari waktu yang disepakati dengan pengelola musium untuk berkunjung. Ternyata di tempat ini aturan dan waktu sangat dijunjung tinggi. Jika tamu berkunjung lebih cepat dari waktu yang telah ditentukan, silakan menunggu hingga waktunya gerbang dibukakan. Namun bila sang tamu datang lewat semenit saja dari kesepakatan, mohon maaf bila anda diminta kembali mengatur janji di kunjungan berikutnya. Perfecto! Continue reading “Jarum Jam Berhenti di Museum di Tengah Kebun”

Hati Beta Tertambat di Nusa Laut


Langit biru menyambut ayunan langkah menuruni bis yang membawa kami dari Ambon ke Pelabuhan Tulehu, Maluku Tengah, Sabtu pagi (17/11). Deretan kendaraan pribadi menyesaki lahan parkir yang tak begitu lapang di mulut dermaga, menjadikan suasana tampak lebih ramai dari hari sebelumnya. Nusa Laut, negeri yang menjadi tujuan perjalanan pagi ini bersama Komunitas Sahabat Museum (Batmus) setelah  sehari sebelumnya puas mengunjungi Pelauw, Haruku dan Hila.

“Ayo nona, langsung naek spitbot!” sapa seorang bapak yang wara-wiri di atas dermaga. Bapak yang wajahnya saya kenali sebagai salah seorang yang kemarin menyorongkan kakinya sebagai pijakan untuk turun ke speedboat. Saya menyambut sapaannya dengan melempar senyum, lalu beranjak menikmati pagi di dermaga dengan ikut mengantri di toilet darurat. Dua jam perjalanan dari Tulehu ke Nusa Laut menjadi pertimbangan untuk mengosongkan isi tanki menghindari hasrat buang air kecil di tengah laut. Continue reading “Hati Beta Tertambat di Nusa Laut”

Selamat Jalan Ibu Aurora “si Lola Tea” Tambunan


Kabar meninggalnya ibu Aurora Tambunan saya terima tadi siang menjelang jam istirahat melalui messenger dari seorang kawan. Kaget karena sebelumnya tidak ada berita tentang sakitnya, sampai mendapat kofirmasi bahwa berita itu benar adanya. Ibu Lola demikian biasa beliau disapa, saat ini menjabat sebagai Direktur Jenderal Sejarah dan Purbakala Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif meninggal Rabu (26/10) pk 10.25 setelah dirawat di RS Gleneagles, Singapura. Bagi mereka yang akrab dengan revitalisasi kota tua Jakarta dan kegiatan sejarah di seputar Jakarta pastilah mengenal sosok beliau. Meski menduduki posisi penting beliau selalu ramah dan tidak angkuh. Continue reading “Selamat Jalan Ibu Aurora “si Lola Tea” Tambunan”

Senangnya Melayani Duta Besar Selandia Baru


Jarum jam Taman Kota Tua menunjukkan pk 07.06  pagi saat kaki bergegas meninggalkan pemberhentian terakhir bus transjakarta jurusan Blok M-Kota. Langit sangat bersahabat dengan warna birunya yang mentereng sedang matahari mulai menyengat hingga ke pori-pori. Pagi ini kembali menunaikan tugas kenegaraan Batmus membantu mengurusi keperluan peserta yang akan berkeliling mencari jejak Abel Tasman. Langkah dipacu menyeberangi jalan bawah tanah, gedung NHM (Nederland Handel Maatsshaappij) menjadi titik temu pagi ini.

Karena tergoda dengan birunya langit tak lupa untuk mengabadikan NHM dari bawah under pass dengan henpon cupu nan canggih yang setia menemani. Tata sana tata sini, sesi pendaftaran siap digelar menyambut peserta yang mulai berdatangan, ada yang bersama keluarga, teman, pacar, rombongan atau yang lagi jalan sendiri. Hingga akhirnya muncullah sepasang bule plongok-plongok mendekati meja pendaftaran dan terjadilah “ketololan yang wajar” saat dilakukan transaksi pembayaran ongkos plesiran oleh si bule. Continue reading “Senangnya Melayani Duta Besar Selandia Baru”

D E P O K

peta depok, sejarah kota depok

Menyusuri jejak opa Cornelis Chastelein di Depok, yg konon kata orang-orang singkatan dari Daerah Elit Pemukiman Orang Kota hahaha.

Ada banyak versi kepanjangan kata Depok, ada yg bilang Depok itu kepanjangan dari De Eerste Pro-testante Onderdaan Kerk (gereja prostestan pertama), or Deze Eenheid Predikt Ons Kristus (persekutuan ini mengabarkan kristus kita) or De Eerste Protestante van Kristenen.

Yang pasti nih ya, setiap seratus meter kali kita susurin tuh Depok Lama pasti ketemu bangunan gereja sesuai misi penginjilan Opa Cornelis ingin membentuk komunitas Kristen yg aman dan tentram. Continue reading “D E P O K”

…dan tepar ..


Tiga hari berturut² pulang malam bahkan pagi, alhasil bikin badan capek dan akhirnya telerrr. Walau tiap minggu sebenarnya selalu pulang malam secara balik dari kantor pastinya baru sampai rumah di atas pk 21.00 tapi tiga hari ini emang pulang lebih larut lagi.

Jumat pulang pk 00.30 baru melangkah masuk rumah setelah kongkow² di Ex bareng genk psk setelah sekian lama gak kumpul².

Sabtu keluar rumah pk 12.30 makan siang di Bopet Mini bareng Vicka truz lanjut ke PRJ liat² motor. Berangkat naik busway turun di Harmoni ganti jurusan Pulogadung, turun di Galur truz nyambung naik bajaj. PRJ gak terlalu ramai, entah karena baru mulai atau minat orang untuk berkunjung yg berkurang. Terakhir ke PRJ tahun ’86 waktu itu masih di silang Monas, setelah pindah ke Kemayoran keknya mikir². Continue reading “…dan tepar ..”

Plesiran Tempo Doeloe : Batavia in 19th Century

sahabat museum

Sekian lama gak ada acara PTD, kangen juga untuk ngumpul dengan para penikmat plesiran sambil belajar sejarah dan poto – poto. PTD (= Plesiran Tempo Doeloe) kali ini yg oleh Deedee diistilahkan sebagai PTD Sport Jantung dikarenakan persiapannya sangat mefet karena awalnya hanya rencana Pintong (= Pindah Tongkrongan) bareng Pak Scott truzz-nya seminggu menjelang hari “H” waktu tanya boss Adep di Batmalming belum dipastikan kapan tepatnya acara ini digelar.

sahabat museum
@Sunda Kelapa

Udah gitu, yg tadinya target peserta hanya 40 orang saja sesuai kapasitas 1 (satu) otobis si Burung Biru Besar mendadak menjadi 160 orang. Masih gak percaya dengan membludaknya peserta, pas hari “H” (Minggu, 14 Januari 2007) nyampe di ParkiT Senayan terkagum² melihat 6 (enam) ekor Burung Biru Besar berderet di belakang hotel Sultan. Continue reading “Plesiran Tempo Doeloe : Batavia in 19th Century”