Sang Penari: di Antara Cinta, Kultur dan Pergerakan Politik


Tekad sudah bulat persiapan sudah mantap; langit gelap tak mengurungkan niat dan langkah untuk menonton Sang Penari di salah satu mall di daerah Senayan Minggu sore (13/11) lalu. Ya, demi menajamkan memori sehari sebelumnya saya sempatkan melahap (lagi) isi Ronggeng Dukuh Paruk yang saya comot di toko buku langganan tempat biasanya saya menumpang untuk membaca. Ketika membeli tiket, saya perhatikan tak banyak yang berminat dengan Sang Penari.

Hal ini terlihat dari perbandingan jumlah bangku yang terjual dan yang masih kosong, tak jauh berbeda menjelang pemutaran film. Continue reading “Sang Penari: di Antara Cinta, Kultur dan Pergerakan Politik”