War Room, Berperang dengan Kekuatan Doa

war room, review war room, film kristen, kekuatan doa

Ada satu pesan yang sering dikumandangkan para pemberita kabar baik dari atas mimbar: DOA, kekuatan untuk menjangkau dunia. Pesan yang ketika disampaikan akan disambut riuh dengan kata amin yang berkepanjangan. Tapi, seberapa percayakah dirimu dengan kekuatan sebuah doa? Seberapa seringkah meluangkan waktu untuk duduk diam dan berbincang denganNYA? Pernahkah mendoakan orang yang membenci dan sering membuat hatimu panas? Adakah waktu khusus yang disediakan untuk berkencan dengan TUHAN? Sedekat apa sih dirimu denganNYA? Ataukah diriNYA hanya sebatas nama yang disebut ketika lelah menghampiri dan putus asa sudah merubungi?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana di atas menalu-nalu di hati sepanjang sampai usai menonton War Room hingga tanya penasaran malaikat kecil yang disuruh sholat di satu sore itu pun terngiang, “Tante nggak sholat?”

war room, review war room, film kristen, kekuatan doa

War Room, film drama kristen Amerika yang mengangkat tema keseharian ketika TUHAN dihadirkan hanya sebatas simbol agama di dalam rumah. Tiga karakter yang dijadikan tokoh sentral dalam War Room adalah Elizabeth Jordan (Priscilla Shirer), Tony Jordan (T.C. Stallings) dan Oma Clara (Karen Abercrombie).
Continue reading “War Room, Berperang dengan Kekuatan Doa”

“Soegija,” Mengenang Perjuangan Romo Kanjeng di Tengah Krisis Kepemimpinan di Indonesia


Selama ini jika kita berbicara tentang pejuang maka kiblatnya lebih sering ke mereka yang maju di medan perang melakukan perlawanan terhadap musuh memanggul senjata dan bergerilya; dengan kata lain adalah orang-orang militer. Sedang mereka yang bergerak di bidang non militer atau sipil jarang disebut padahal mereka juga turut memberi andil lewat diplomasi, karya seni ataupun tulisan. Salah satu contoh pejuang yang namanya timbul tenggelam adalah Soegija yang memiliki nama lengkap Mgr Albertus Soegijapranata, SJ. Di kalangan umat Katolik namanya mungkin sudah tak asing dan masih sering terdengar tapi bagaimana dengan perannya di masa perjuangan kemerdekaan? Apakah ada yang mengulasnya?

*****

Minggu, 19 Desember 1948 Belanda melancarkan serangan udara ke atas ibukota RI Yogyakarta. Sebagai centre of gravity, Yogyakarta harus dilumpuhkan dalam sekali gebrakan demikian komando Jenderal Simon Spoor, Panglima KNIL dalam memimpin operasi militer yang dikenal dengan Operatie Kraai untuk Continue reading ““Soegija,” Mengenang Perjuangan Romo Kanjeng di Tengah Krisis Kepemimpinan di Indonesia”

Aung San Suu Kyi, The Steel Orchid of Burma


Yangon (Inggris, Rangoon) 1988 … Seorang wanita yang baru beberapa saat kembali ke tanah kelahirannya berdiri di depan rumah sakit pusat kota, emosinya diaduk-aduk menyaksikan para mahasiswa yang sedang berdemo dikejar dan diberangus dengan peluru oleh militer tak berperikemanusiaan. Dari kejauhan disaksikannya beberapa pendemo menentang pemerintahan Ne Win meneriakkan “DEMOKRASI!” sambil mengangkat tinggi-tinggi gambar sesosok lelaki yang begitu dekat dengannya. Lelaki dalam gambar itu adalah lelaki yang mengucapkan perpisahan dengan menyematkan sekuntum bunga dikupingnya; Jenderal Aung San ayahnya yang mati ditembak oleh junta militer saat dirinya masih balita.

Dan wanita yang rahangnya mengeras menahan emosi tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata itu adalah Aung San Suu Kyi putri pendiri partai Liga Nasional Demokrasi (National League for Democracy/NLD) yang kemudian dikenal sebagai tokoh demokrasi NLD Birma (sekarang Myanmar). Continue reading “Aung San Suu Kyi, The Steel Orchid of Burma”

Emansipasi Perempuan Tak Harus Kebablasan


Kita tentunya sudah tidak asing dengan novel The Three Musketeers karya Alexandre Dumas yang juga sudah banyak diangkat ke layar lebar. Kisah persahabatan D’Artagnan dengan anggota Musketeers Athos, Porthos, dan Aramis di tengah pergolakan politik Perancis pada abad 17 . Bagaimana dengan La Femme Musketeer, apa anda pernah mendengar kisahnya?

Mengulang kisah ayahnya, Valentine D’Artagnan memutuskan untuk bergabung dengan pasukan kaveleri kerajaan Perancis musketeers. Dengan berbekal surat pengantar dan pedang sang ayah Charles de Batz-Castelmore D’Artagnan, Valentine berangkat untuk menemui Kapten Paul Mauriac pemimpin Akademi Militer Kerajaan Perancis. Kemunculan seorang perempuan cantik di tengah dunia lelaki masa itu dianggap sebagai lelucon. Namun ketika dia mampu menunjukkan keahliannya bermain pedang dan mengalahkan para lelaki di akademi, sang Kapten pun menerimanya dengan memberikan ujian dalam satu misi penyelamatan dan pengawalan Princess Maria Theresa anak Raja Spanyol calon permaisuri Raja Louis XIV yang diculik dalam perjalan dari Spanyol ke Perancis. Continue reading “Emansipasi Perempuan Tak Harus Kebablasan”

Black Butterflies


Satu alasan utama datang ke Erasmus Sabtu sore (17/03/2012) untuk menonton Black Butterflies adalah lokasi pengambilan gambar film ini di Afrika Selatan, negara impian untuk dikunjungi suatu hari nanti. Lebih mantap lagi setelah iseng mencari informasi tokoh Ingrid Jonker yang diceritakan di film dan menemukan salah satu puisinya dibacakan oleh Nelson Mandela pada pidato pertamanya di depan parlemen Afrika Selatan 24 Mei 1994.

Black Butterflies adalah kisah kehidupan, percintaan, konflik ayah anak dalam perjalanan hidup seorang penyair terkenal Afrika Selatan Ingrid Jonker (Carice van Houten). Konflik bermula dari penolakan sang ayah yang bercerai dengan ibunya ketika Ingrid dan kakaknya Anna masih kecil. Di rumah ayahnya, Ingrid menempati sebuah kamar kecil di bagian belakang rumah sederetan dengan kamar pembantu. Di kamar inilah sebagian besar buah pikirannya dituliskan langsung ke dinding yang bercat putih kusam. Continue reading “Black Butterflies”

Hugo


All of us were made for a purpose, If you lose your purpose it’s like you’re broken – [Hugo Cabret]

Semalam habis nonton film Hugo bersama seorang kawan di salah satu mall di Jakarta Selatan. Hugo Cabret seorang bocah yatim piatu yang senang mengutak-atik mesin mengikuti kesukaan ayahnya seorang tukang jam. Sepeninggal ayahnya Hugo dipelihara oleh pamannya Claude Cabret seorang petugas penjaga jam di stasiun kereta kota Paris. Mereka tinggal di ”apartemen” yang disediakan untuk penjaga jam di dalam tabung jam stasiun yang luput dari perhatian orang di sekitar stasiun. Continue reading “Hugo”

Penggemar Novel Negeri 5 Menara Bersiaplah Untuk Kecewa [Sebuah Review]


Katam membaca novel Negeri 5 Menara (N5M) membuat penasaran untuk melihat adaptasinya ke layar lebar. Terlebih setelah Mas Fuadi memperlihatkan trailler-nya di DJakarta Theater XXI Club Sabtu (29/10/2011) pada perhelatan Kompasiana Blogshop. Gayung bersambut,  Jumat (17/02/2011) malam berkesempatan menonton N5M yang digelar untuk press screening dan tamu VIP bersama Kompasiana di BlitzMegaplex XXI Pacific Place Jakarta.

Tadinya saya berharap film dibuka dengan Amak (ibu dalam bahasa Minang) yang bijak dalam balutan kesederhanaan seorang ibu yang juga pengajar menikmati sore di beranda rumah, mengajak Alif putera sulungnya bercakap-cakap mengenai kelanjutan sekolahnya. Lalu sesekali pandangannya menerawang ke danau Maninjau diselingi kehadiran sosok Buya Hamka bermain dalam benaknya. Continue reading “Penggemar Novel Negeri 5 Menara Bersiaplah Untuk Kecewa [Sebuah Review]”

Nobar Sembari Menanti Kereta Api Terakhir di Stasiun Beos


Sabtu (18/02/2012) pk 18.30 .. stasiun Jakarta Kota atau biasa disebut Beos terlihat sedikit lengang. Beberapa calon penumpang menunggu kedatangan kereta dengan duduk santai di bangku peron sembari memencet-mencet HP atau mengobrol dengan teman di sebelahnya. Petugas di pintu pengecekan tiket pun terlihat santai melayani calon penumpang.

Namun suasana berbeda tampak di hall yang berada di sisi kanan stasiun. Hall dengan langit-langit yang tinggi Sabtu kemarin menjadi tempat yang dipilih oleh sebagian orang untuk menikmati malam minggu. Meski di tengah ruangan digelar karpet yang cukup empuk, beberapa diantaranya sengaja memilih duduk senderan ke dinding dan yang lain merapatkan diri di sekitar pilar. Continue reading “Nobar Sembari Menanti Kereta Api Terakhir di Stasiun Beos”