Sedikit Cerita: Mengejar AriReda ke MIWF2016

AriReda, Reda Gaudiamo, Ari Malibu, MIWF2016, Makassar International Writers Festival, Fort Rotterdam

+ Ketinggalan lagi deh nggak bisa ke Malang kemarin. Cukup terhibur menikmati gambar-gambarnya, melesaaaat!
– Makassar?
+ Racuuuuun 🙂 🙂
– Sengajaaaaa! Hahahaha! Kapan lagi ke Makassar Writers Festival?
+ Lalu mengecek harga tiket terbang
– Yes, pleaseeeee!

Penat yang bertumpuk dari beberapa rangkaian perjalanan dalam satu bulan ini membuat badan enggan untuk pergi jauh-jauh selain menunggu satu perjalanan saja di penghujung Mei. Namun, perbincangan Selasa pagi, dengan berbalas komentar pada sebuah gambar di  fanpage facebook AriReda dengan mbak Reda Gaudiamo, di sela jadwal #‎StillCrazyAfterAllTheseYearsTour mereka; telah membuyarkan angan untuk bersantai dan bermalasan saja.

AriReda, Reda Gaudiamo, Ari Malibu, MIWF2016, Makassar International Writers Festival, Fort Rotterdam
Horeee hujaaaan

Tak perlu menimbang terlalu lama, sekejap saja, e-ticket terbang pergi pulang Jakarta – Makassar dengan harga murah karena tergoda promosi tiket murah di linimasa twitter, mendarat di kotak surat. Di siang hari, selagi menikmati makan kesiangan dengan dua sahabat, sebuah pesan melalui whatsapp masuk,”Mbak, bagi nomor rekening donk.” Ah, seperti kebetulan saja pesan tersebut diterima, dananya buat bayar tiket kan lumayan. Tak sampai sore, sebuah pesan lain masuk,”Mbak, saya dengar mau ke Makassar, nginap di tempat kita ya. Kamar untuk dua malam di depan Rotterdam sudah siap, nanti akan dihubungi sama yang di Makassar.” Waaaah, dengan senang hati, saya membalasnya. Tak lupa, ikon senyum lebar penuh cinta dibubuhkan di akhir pesan. Continue reading “Sedikit Cerita: Mengejar AriReda ke MIWF2016”

AriReda Menyanyikan Puisi

AriReda Manyanyikan Puisi, Ari Malibu, Reda Gaudiamo, Sapardi Djoko Damono, Musikalisasi Puisi

Arum Dayu dan Meicy Sitorus, Tetangga Pak Gesang, malam itu mampir di Cikini. Meski bertetangga, mereka tidak tinggal di Solo sebagaimana halnya almarhum Pak Gesang. Mereka datang dari Bandung, berboncengan Naik Motor Tua mengusung Yellow Ming-Ming ke pentas.

Tetangga Pak Gesang senang bercerita keseharian mereka tanpa mengurangi pesan yang ingin disampaikan meski lewat kata-kata yang sederhana. Obrolan-obrolan kecil mengajak penonton lebur meski sesekali terkikik melihat mereka mengusir kikuk lalu kembali dibuai oleh petikan ukulele saat tampil membuka Konser AriReda Menyanyikan Puisi di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM), 26 Januari 2016 lalu.

Konser AriReda, Reda Gaudiamo, Ari Malibu, Musikalisasi Puisi
AriReda Menyanyikan Puisi

Continue reading “AriReda Menyanyikan Puisi”

Pesan dari Kedai Kopi

AriReda, Ari Malibu, Reda Gaudiamo, Musikalisasi Puisi

Dapatkah engkau mengerti (dengan mudah) makna yang tersirat pada kata demi kata yang berbaris rapi dalam sebentuk kalimat yang terangkai dalam bait-bait puisi? Dapatkah engkau memahami pesan yang disampaikan seorang pujangga pada goresan puisinya, saat dia menuangkan rasanya? Gelisahkah ia, tersenyumkah ia, bersukakah dirinya?

Pernahkah engkau mencoba memahami makna, lewat alunan musik dan suara yang lembut membuai rasa, lalu berderap dan melengking di ujung-ujung kata? Pernahkah terbayang, bagaimana merangkai nada pada potongan kata dalam sebentuk puisi, memilih tinggi rendah nada untuk kata pertama, kedua dan seterusnya; meramunya menjadi paduan harmonisasi agar pesan sang pujangga tersampaikan dengan runut tak kehilangan makna?

AriReda, Ari Malibu, Reda Gaudiamo, Musikalisasi Puisi
AriReda @CoffeeWar

Continue reading “Pesan dari Kedai Kopi”

Tentang Kita


Ibu menangis ketika saya memaksa pergi. Kakak tak mau bicara. Mereka menganggap keputusan saya mengada-ada. … Saya tahu keputusan saya mengecewakan Ibu. Tetapi tidakkah itu lebih baik buat semua: saya, kakak dan Ibu? Kalau rencana saya disetujui, kami bisa menjalani hari-hari lebih tenang. Satu-satunya rasa yang mengganggu cuma satu. Kami akan saling merindukan karena tak lagi bersama. – Dunia Kami, Tentang Kita hal. 164

tentang_kita_02Penggalan Dunia Kami karya Reda Gaudiamo di atas adalah bagian dari kumpulan cerpennya yang dirangkum dalam Tentang Kita.

Dunia Kami  berbicara tentang gejolak jiwa muda. Masa peralihan. Masa seorang remaja berupaya mengekspresikan dirinya sebagaimana angannya, berpedoman pada emosi dan imaji akan sosok idolanya. Masa dimana INGIN sangat dominan untuk diterima lingkunganya sebagai satu pribadi yang beranjak dewasa (secara fisik). Proses metamorfosis dilihat dari pilihan busana dan pergaulan. Continue reading “Tentang Kita”

Memadukan Puisi dan Nada di Kedai Kopi

arireda, musikalisasi puisi sdd

sebermula adalah kata
baru perjalanan dari kota ke kota
demikian cepat
kita pun terperanjat: waktu henti ia tiada

Potongan puisi Dalam Bis karya Sapardi Djoko Damono (SDD) di atas, menjadi tema musikalisasi puisi AriReda semalam di Coffee War Kemang, Jakarta Selatan; Sebermula adalah Kata.

arireda, musikalisasi puisi sdd
AriReda @Coffee War, Kemang

Sudah terlalu lama tak mendengarkan suara mereka secara langsung. Kalau tak salah mengingat, kali terakhir menikmati duet mereka kala tampil di Blues for Freedom; Oktober 2010 silam di Galeri Foto Jurnaslistik Antara. Continue reading “Memadukan Puisi dan Nada di Kedai Kopi”

Bersimbiosis Mutualisma dengan Idola

Ari Reda

Idola adalah sosok yang akan membuatmu selalu merindukan pertemuan dengannya, sosok yang kadang bikin matamu tiada henti berkedip-kedip saat pertemuan yang didamba terwujud. Diam seribu bahasa, dada berdebar-debar bahkan salah tingkah kala berhadapan dengannya serasa bertemu kekasih hati.

Sama seperti penggemar yang lain, saya pun pernah lompat pagar, lari sekencang-kencangnya tak peduli tas dan dompet tertinggal di tribun serta pura-pura tidak mendengar teriakan petugas keamanan hanya untuk berdiri bengong di depan sang idola. Niat awal untuk mengabadikan sang idola, yang ada hasilnya garis-garis yang berjoged karena tangan gemetaran. Continue reading “Bersimbiosis Mutualisma dengan Idola”