Menjenguk To Makula’

to makula, jenazah orang toraja, rambu solo, upacara adat toraja

Saya mengakrabi senyum perempuan yang menyambut kedatangan saya di depan rumah itu. Senyum yang berusaha saya ingat – ingat, dimana dan kapan pernah mengakrabinya, hingga pertanyaan iseng itu pun meluncur.

Ibu pernah diwawancara National Geographic, ya?”
Haha .. iya, koq tahu?
Saya ikut mengerjakan proyek itu beberapa bulan lalu. Tugas saya menyimak obrolan ibu dan menerjemahkan hasil wawancaranya.

Ah, saya ingat sekarang. Kenapa senyum itu tak asing. Pada tiga video yang masing – masing berdurasi satu jam, senyum malu – malu si ibu dan wajah tegang suaminya selalu hadir, menemani selama beberapa hari berkutat dengannya. Karenanya, senyum itu lekat di memori. Continue reading “Menjenguk To Makula’”

Berburu kerbau bule & pa’piong

kerbau bule, wisata toraja

Senin, 27 Des 2010
Hari ketiga di kampung halaman pekerjaan Upi Abu bertambah : bangun pagi pk 05.30 jerang air panas, cuci piring, nyapu + ngepel terus siapin sarapan. Ini bukannya pekerjaan ibu rumah tangga ya ? Berarti Upi Abu sudah bisa naik pangkat jadi ibu rumah tangga donk, ayo siapa yg mo melamar hihihiii. Sarapan pagi ini pisang goreng siap beli di tempat langganan dan nasi goreng ala chef Coolyv (enak toh nasi gorengnya?) Dapat info hari ini adalah hari pasaran, berarti target pagi ini bisa plesiran ke Pasar Bolu.

Hari pasaran di Toraja merupakan hari dimana pedagang dan pembeli tumpah ruah memenuhi pasar yg jatuhnya 6 (enam) hari sekali. Di hari lain kegiatan perdagangan di pasar tetap berjalan tapi tidak seramai hari pasaran. Kalau menunggu hari pasar berikutnya gak akan keburu karena Unyun2 berencana meninggalkan Toraja 31 Dec malam walau bisnya tak pasti wkwkwk. Yang istimewa di hari pasaran adalah kegiatan di pasar hewan. FYI, pasar hewan sendiri hanya ada di Pasar Bolu dan Pasar Makale tapi yg paling ramai adalah di Pasar Bolu. Continue reading “Berburu kerbau bule & pa’piong”

Pesta Mati Toraja


Perdebatan dalam mobil sepanjang perjalanan dari Pasar Bolu menuju Batutumonga seputar penggunaan kata PESTA pada acara Rambu Solo’ (= rangkaian acara penguburan Toraja) cukup seru. Pesta lebih identik dengan kemeriahan dan sukacita sementara Rambu Solo’ adalah acara kedukaan. Tapi jika kita melihat lebih dekat selama acara berlangsung tidak tampak wajah-wajah sedih dari orang-orang yang hadir di acara tersebut. Ketika menghadiri satu acara ma’palao (=pemindahan jenazah dari rumah untuk persiapan ke lokasi acara) hanya ada satu anggota keluarga yang terlihat terpukul sementara yang lain biasa aja. Bisa jadi mereka sudah merelakan kepergian orang yang mereka cintai dan kehilangan itu sudah tidak begitu terasa karena yang akan diacarakan juga sudah disemayamkan selama beberapa bulan di rumah duka. Continue reading “Pesta Mati Toraja”